
Asap mulai memasuki setiap celah dinding gua, beberapa menit berlalu puluhan goblin mulai menampakan dirinya.
Kami tidak menyerangnya secara terang-terangan melainkan membunuhnya dengan anak panah dari kejauhan.
Walau ini seperti teknik yang akan digunakan seorang pengecut aku tidak keberatan, dibanding proses aku lebih peduli dengan hasil.
Kami membasmi mereka dengan mudah, guild hanya menerima telinga goblin maka dari itu mari berikan sisanya pada Harty.
Selagi menunggu Harty selesai memakan semuanya aku menunggu selagi bersandar di pohon besar, memikirkan apa yang telah terjadi di sini aku harus segera pergi ke kerajaan Borman untuk menyelidikinya.
Entah Solomon atau Nightmare aku jelas harus mengalahkannya.
Kami berhasil mendapat banyak uang untuk perjalanan kami ke kerajaan Borman, saat kupikir semuanya berjalan baik beberapa petualang muncul dengan nafas tersengal-sengal.
Salah satunya mencuri air dari petualang lain lalu meminumnya.
Gadis loket berkata.
"Kenapa kalian?"
"Gawat dua orang penyihir dari kerajaan Borman menyerang hutan Dark Elf."
"Hutan Dark Elf? Kau yakin," aku memotong dengan suara terburu-buru.
"Tidak salah lagi, kami kebetulan mengambil pekerjaan tidak jauh dari sana."
__ADS_1
Aku mengepalkan tinjuku lalu melirik ke arah anggota partyku sebelum saling mengangguk dan berlari ke luar guild.
"Tunggu Lion, aku akan menyiapkan team untuk membantu."
"Kalian menyusul saja nanti."
Rion dan Aira berubah jadi katana sementara Harty maupun Valentine mengikuti masuk ke dalam Teleportasi Gate.
Kami muncul di desa para Dark Elf namun sayangnya semuanya telah rata dengan tanah, hutan-hutan di sekeliling telah dimusnahkan dan hanya menyisakan sebuah bencana.
Seolah kehidupan benar-benar terenggut dari ekosistem.
"Tidak ada siapapun yang dibiarkan hidup," ucap Harty sesuai yang kupikirkan juga.
Meski begitu aku ingin memastikannya lebih lanjut.
"Selena.... Selena."
Aku berusaha memangilnya hingga Valentine menunjukkan jalannya.
"Di sana."
Kami menemukan Selena duduk bersandar di pohon dengan pedang menusuk tubuhnya, beberapa luka tampak jelas di sana, aku buru-buru memeriksa detak nadinya termasuk mencabut pedang tersebut, walau lemah dia masih bisa diselamatkan.
Sihir air akan mengatasinya.
__ADS_1
"Lion, mereka datang."
Seperti apa yang dikatakan Rion dua sosok baru saja mendarat di depan kami semua, salah satu adalah pria menggunakan masker hitam, berambut merah serta membawa pedang raksasa di punggungnya sementara satu lagi merupakan wanita tinggi berambut hitam dengan stoking berwarna serupa dan hanya mengenakan pakaian dalam sebagai bentuk dari penampilannya.
Kurasa itu yang disebut Armor Bikini.
Dua pedang pendek tampak menggantung di pinggangnya juga.
"Sepertinya ada yang masih hidup Kuno?" kata si wanita dan si pria bernama Kuno menjawab dengan malas.
"Mereka bukan Dark Elf Evila, darah mereka tidak bisa digunakan untuk ritual."
"Sebaiknya kau jangan sembarang mengatakan tujuan kita."
"Tak apa kan, soalnya mereka akan mati juga sih."
"Jangan lupa di sana masih ada satu Dark Elf yang masih hidup, serang mereka."
"Dengan senang hati."
Valentine maupun Harty melesat untuk menahan keduanya, aku masih sibuk untuk menyembuhkan luka Selena sampai selesai aku hanya bisa berharap pada keduanya untuk mengulur waktu.
Kuno mengayunkan pedangnya ke arah Harty yang merubah tangannya menjadi tangan naga, dentuman terdengar saat dua kekuatan itu bertubrukan, pertarungan bukanlah satu lawan satu karena itu secara bergiliran mereka menyerang secara bersamaan.
Harty akhirnya menggunakan dua tangan naganya yang mampu sedikit mendorong tubuh kuno ke belakang.
__ADS_1
Evila berusaha membantu namun tubuhnya telah dililit oleh kemampuan Valentine hingga tidak bisa bergerak.