
Selepas pertarungan hanya sebuah pesta yang menyambut kami, Varlia telah kehilangan kesadarannya karena terlalu banyak minum sementara yang lainnya tetap terjaga dengan gelas penuh bir.
"Ayo Lion, minumlah ini.. kau akan merasa seperti melayang loh."
"Iya, ini sangat enak."
Mereka terlalu banyak minum, kami tidak merayakan perayaan di dalam kota melainkan di luarnya, di mana para penduduk kota sendiri yang menyiapkan meja-meja untuk kami duduki.
Setelah deretan penari kini giliran Hualing yang bernyanyi, dia duduk tepat di bawah cahaya bulan yang kemudian dengan indahnya memainkan harfa di tangannya.
Ia mulai dengan instrumental lembut yang menggugah perasaan selanjutnya disusul suara yang merdu yang mampu menghipnotis siapapun yang mendengarnya, tidak ada siapapun yang tidak bergerak untuk mengikuti alunan tersebut termasuk diriku sendiri.
"La.. Lala.. la..lalala la.. la..Lala."
Saat Hualing menyelesaikan nyanyiannya semua orang bertepuk tangan, mereka semua ingin mendengar satu nyanyian lagi dari Hualing dan ia menyetujuinya.
Lagu yang ia nyanyikan adalah sebuah lagu yang khas dari negerinya yang telah dihancurkan, ia juga menyisipkan lirik bagaimana ia harus berpergian dan orang-orang lebih suka mempekerjakannya sebagai seorang penyanyi bayaran hingga akhirnya dia berada di kota air terjun.
Aku bisa merasakan kesedihan yang dia alami tapi berbeda dengan semua orang yang memintanya bernyanyi mereka semua telah tertidur pulas.
Yang barusan jelas nyanyian yang dimasukan sedikit sihir di dalamnya.
"Lion, kau tidak terpengaruh dengan sihirku."
"Begitulah," kataku santai selagi meminum cangkir berisi susu sebelum melanjutkan.
__ADS_1
"Kau tidak ingin menyanyi lagi."
"Untuk hari ini sudah cukup."
Dia mungkin sedikit kesal karena aku terus mendengarkan isi hatinya namun aku memilih mengabaikannya. Suasana sepi seperti ini sesekali boleh juga.
Keesokan paginya saat kami meninggalkan kota, Varlia, Mamia dan juga Estelle hanya bisa terduduk lemas.
"Kepalaku pusing hueeek."
"Perutku sakit."
"Aku juga."
Itulah akibatnya karena mereka minum berlebihan, mereka mendapatkan apa yang mereka pantas dapatkan.
"Untuk selanjutnya kita tidak akan tinggal di kota, ada sebuah tebing yang akan dilewati pasukan raja iblis karena itu kita akan menyergapnya sekaligus di sana."
"Caranya?"
"Kita akan meledakan tebing dan membuat mereka tertimbun dalam sekali serangan."
Semua orang akhirnya mengerti dan setuju.
"Itu jelas ide bagus."
__ADS_1
Dengan ini kami akan menyelesaikan semuanya dengan mudah tanpa perlu bertarung di garis depan, karena itulah kami pergi lebih awal dari yang kami putuskan sebelumnya.
Di bawah tebing ini cukup berangin karena itu aku harap mereka mau menjaga rok mereka agar tidak berkibar.
"Lihat rokku terangkat."
"Punyaku juga."
Lupakan saja karakter mereka cukup membunuh siapapun. Saat angin berhenti hujan mulai turun dan kami memutuskan untuk berisitirahat di dalam gua kecil dengan api unggun untuk menghangatkan diri.
Kami memakan roti dan susu sebagai perbekalan kami.
"Meledakan tebing memang tidak sulit dengan kekuatan kita sekarang namun sebelum sihir kita ditembakan mereka akan tahu keberadaan kita lebih dulu lalu melarikan diri," perkataan itu berasal dari Estelle yang mendapatkan tanggapan dari Mamia.
"Tapi meski ketahuan aku yakin mereka sudah telat menyadarinya."
"Memang benar, paling tidak kita bisa mengalahkan setengahnya," tambah Varlia namun aku jelas sudah memiliki ide yang lebih baik.
Aku mengambil sebuah peledak dengan sumbu dari sihir penyimpananku. Yap, ini adalah sebuah dinamit.
"Kita akan menggunakan ini, jika kita menyusunnya di tebing dengan jumlah banyak lalu meledakannya secara serempak maka itu sudah cukup."
Mata Hualing bersinar terang.
"Aku ingin mencobanya."
__ADS_1
Sudah jelas aku melarangnya.