
Siang harinya rombongan kerajaan Frames adalah orang yang terakhir datang ke istana di mana Laurenta sendiri yang datang mewakili ibunya.
Kanade dan juga Ginny turut menemaninya sebagai pengawal.
"Lama tak bertemu kalian, kurasa kalian baik-baik saja."
"Um... Ibuku tidak bisa datang jadi aku yang menggantikannya hari ini."
"Pasti dia orang yang sangat sibuk?"
"Begitulah, jadi dimana pertemuannya."
"Silahkan ikuti aku... Ginny dan Kanade tampak berbeda dari yang kuingat."
"Mereka sudah dilatih untuk menjadi seorang bangsawan jadi seperti itulah keadaannya."
Aku melirik ke arah keduanya dan sepertinya mereka tersenyum masam.
Apakah jabatan ini yang dikatakan ratu itu sangat tinggi, kurasa mereka berada di jajaran tangan kanan ratu.
Aku yakin seperti itu.
"Ngomong-ngomong kau memiliki pengawal yang cantik?" ucap Laurenta melirik kecil.
"Namanya Livia, aku sangat beruntung mendapatkannya."
"Tuan membuatku malu."
"Sepertinya bukan hubungan majikan dan tuan sederhana itu, kalian teman kamar."
"Berhentilah keluar dari karaktermu," kataku datar.
__ADS_1
"Maaf aku terbawa suasana."
Ginny menyela.
"Yah, Laurenta sangat senang saat tahu akan menemuimu lagi.. kuharap kau bisa memperlakukannya sedikit lembut."
Disusul Kanade.
"Aku juga terkejut melihatmu masih tidak melepaskan topengmu, kurasa kau bisa mendapatkan banyak uang di perempatan jalan."
"Oi."
Kami berjalan di koridor dan masuk ke dalam ruangan yang diisi oleh meja panjang di mana setiap kursi telah diduduki setiap pemimpin kerajaan termasuk Winny yang duduk sementara Glory berada di belakangnya.
"Maaf, maaf, sepertinya aku yang terakhir datang aku mewakili Ibuku jadi perkataanku sama dengan apa yang diinginkan ratu kerajaan Frames."
"Jika begitu baguslah kuharap kalian mau mengeluarkan konfensasi atas keterlambatan kalian," ucap raja yang entah berasal dari negara mana.
"Itu terdengar bagus, tapi kami juga ingin mendapatkan kesempatan sama," timbal ratu.
Sementara aku menenangkan situasi.
"Tenanglah, kita bisa membicarakannya perlahan, seperti surat yang dikirim nona Winny aku ingin menghubungkan ketiga benua agar kita bisa saling terhubung satu sama lain.. tapi untuk permulaan aku ingin benua manusia dan benua iblis sebagai contoh untuk benua enam wilayah."
Salah satu ratu mengangkat tangannya.
"Sebelum masuk ke topik aku ingin tahu seperti apa benua iblis yang sekarang, di surat bilang itu tanah yang subur yang dipenuhi lahan hijau serta banyak sungai yang mengalirkan air jernih, aku sangat penasaran?"
"Seperti yang Anda dengar, itulah kebenarannya."
Aku mengulurkan tanganku dan sebuah tunas pohon muncul di sana.
__ADS_1
"Itu?"
"Ini adalah berkah Dewi Riona yang mana aku mampu mengembalikan seluruh keadaan benua yang hancur sedia kala... tentu aku juga menggunakan hal sama untuk menyuburkan benua ini juga."
"Dewi Riona? Bukannya beliau Dewi jahat."
"Kalian masih belum tahu, kurasa ini sudah waktunya."
Tepat saat aku mengatakannya sebuah ketukan terdengar dari pintu, aku mempersilahkan seseorang masuk dan dia adalah wanita burung yang telah membawa salinan koran yang kuminta padanya.
"Maaf mengganggu tapi aku hanya diperintah oleh tuan Lion."
"Kau sangat jujur mengatakan itu," kataku demikian.
"Aku tidak ingin dibilang lancang oleh kerajaan lain."
"Haha kurasa kaau benar, akan bahaya jika mereka melarangmu untuk mengirim koran lagi ke wilayah mereka."
"Terima kasih atas pengertiannya."
Wanita burung memberikan koran itu pada Livia dan aku memintanya memberikannya ke setiap meja hingga semua orang bisa membacanya.
Ekpresi mereka terkejut.
"Bukannya ini..."
"Itu adalah kebenaran yang terjadi 4000 tahun yang lalu, semuanya adalah kebenaran yang terungkap aku akan memberikan waktu sebentar jadi kalian bisa membacanya sedikit."
"Ah... semua ini sama dengan rahasia negara."
"Aku tidak tahu jadi peperangan itu terjadi karena ini semua."
__ADS_1
Perlahan mereka akan mengerti dengan situasinya, dibanding menyembunyikannya lebih baik memberitahukannya ke seluruh dunia sekaligus.