Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 321 : Pertarungan Yukisa


__ADS_3

Itu adalah distrik ke tiga dari kota perjudian, di atas langit yang memancarkan cahaya kemilau, cermin-cermin bermunculan di mana sosok yang mengendalikannya melayang di udara dengan wujud iblis yang menyerupai kelelawar.


Musuh yang dihadapi merupakan salah satu pasukan elit bernama Yukisa, Yukisa memiliki pola hitam berwarna ombak di mana merupakan gerbang iblis tingkat pertamanya.


"Matilah."


Setiap cermin menjatuhkan sinarnya yang menembus apapun di bawahnya termasuk tubuh Yukisa sendiri sebelum akhirnya cermin itu hancur.


Melihat serangannya tak berefek Cerly mengerutkan alisnya sembari menatap jengkel, serangannya bukannya meleset hanya saja tubuh Yukisa beregenerasi secara tidak normal, itu sangat cepat bahkan sebelum jantungnya hancur.


"Kau ini makhluk apa?"


Jelas pertanyaan membosankan itu tidak dijawab oleh Yukisa melainkan dia melompat ke udara untuk mendekati sosok musuhnya, dengan pedang di tangannya dia mencoba menebas sayangnya di udara Cerly adalah ratunya serangan seperti apapun hanya akan menjadikannya tidak berguna.


Sebuah tangan mencekik leher Yukisa sebelum dia dijatuhkan dengan dentuman keras, gelombang air menyembur dari titik jatuhnya yang termasuk sebuah sumur.


"Aku hanya perlu menghabisi semuanya, Dark Region."


Bola hitam tercipta dari kedua tangan Cerly yang melesat maju ke arah sumur, normalnya itu akan meledak dahsyat namun sebuah bola air telah melenyapkannya begitu saja.


Air menyembur dan yang keluar dari sana Yukisa dalam bentuk ikan yang berenang di udara.


Bentuk iblis selalu terlihat menakutkan akan tetapi Yukisa memiliki bentuk yang berbeda, kecuali tubuhnya yang menghitam dan kakinya berubah jadi sirip sisanya tetaplah sama.

__ADS_1


Bola-bola hitam kembali ditembakkan sementara Yukisa berenang ke sana kemari tanpa kendala.


Dia menciptakan bola air yang menghantam serangan Cerly secara langsung menciptakan hujan di bawahnya.


"Sialan, matilah," teriak Cerly frustasi mengetahui serangannya tidak berefek sama sekali.


Yukisa menciptakan tombak air raksasa dan dalam waktu singkat tombak itu menembus tubuh Cerly, selanjutnya pedang yang dia jatuhkan terbang ke tangan untuk memenggal kepala lawannya.


Cerly hanya tertawa saat kematiannya.


***


Tubuhku telah merasakan sakit luar biasa saat tertebas pedang dari Raiku, selagi menahannya aku masih memosisikan pedangku dalam posisi bertahan, sementara yang menjadi lawanku memiliki ekpresi yang sama.


Aku tidak tahu bagaimana orang ini bisa bertahan, bagiku penampilannya sangat menjijikan, selagi aku memikirkan hal itu entah Yukisa atau Wisteria telah muncul dari belakangku.


Mereka telah berhasil mengalahkan musuhnya dan kuyakin satu dari mereka telah menemukan keberadaan Hime.


"Lion."


"Mari kita serang bersama-sama orang ini."


"Bertambahnya tikus kecil tidak akan berarti apapun," kata Raiku.

__ADS_1


"Siapa yang tikus kecil," teriak keduanya namun lebih memilih menetap wajahku hingga aku berekspresi sulit.


"Bukan aku yang mengatakannya dan terlebih kenapa kalian terus melihat wajahku?"


Mereka memalingkan wajahnya tersipu malu.


Sulit memahami apa yang mereka pikirkan namun satu hal yang jelas, entah aku, Yukisa atau Wisteria sama-sama memiliki tujuan yang sama untuk mengalahkan orang di depan kami.


Dia menebaskan pedangnya menciptakan petir hitam yang menyayat permukaan tanah, tidak ada yang bisa menahannya jadi kami bertiga menghindar sebelum menyergap Raiku dari segala arah.


Pedang kami terayun dari atas dan dengan santai dia menahannya lalu menghempaskan kami ke segala arah.


Dia lebih dulu menyerangku yang belum bangkit, aku berguling untuk menahan tusukannya sementara Yukisa dan Wisteria menyerangnya secara bergantian.


Raiku memutar tubuhnya untuk menendang tubuh Wisteria menjauh, aku dan Yukisa melapisi pedang kami dengan sihir kemudian menebasnya dari sisi berlawanan.


Kepala Raiku terpenggal ke udara, meski demikian dia tidak mati tubuhnya bergerak lalu menebas ke arahku dan selanjutnya memukul wajah Yukisa hingga dia menerobos beberapa hutan.


Wisteria berteriak dari kejauhan padaku yang tumbang.


"Jangan biarkan kepalanya menyatu kembali."


Seperti yang dia katakan, aku menggunakan Magic Tree untuk membuat tanaman dari telapak tanganku, menjerat kepalanya seperti sebuah jaring lalu menariknya menjauh.

__ADS_1


Setelahnya tubuh Raiku tidak bergerak selamanya.


__ADS_2