
Sudut pandang Gracia Roux.
Di atas pohon yang tinggi itu aku bersama beberapa pasukan terus melatih penggunaan alat yang kami kenakan ini.
Walau sederhana alat yang disebut Manuever Acceleration Gear cukup mengagumkan, sepatu ini dibuat untuk membuat kami bisa melompat di udara kemudian berdiri di sana juga, namun dibanding itu kami juga bisa menembakan alat mirip pengait yang ada di rompi yang kami kenakan untuk berayun.
Aku menggelantung di atas dahan pohon selagi melihat pasukan lain yang berlarian di bawahku, hampir semuanya membawa pedang yang disiapkan Lion yang mana merupakan campuran besi yang paling kuat di dunia ini yang disebut Oralium.
Untuk menempanya hampir mustahil tapi Lion dapat melakukannya.
Kizuna dan Ryker melompat bersamaan dan menggelantung di dekatku juga.
"Kita sudah menghabiskan waktu sebulan untuk berlatih, apa kita masih belum menyerang benua manusia?" tanya pedang Kizuna yang merupakan perwujudan ratu roh bernama Charlotte.
"Aku hanya mengikuti perintah Lion saja, ketika dia bilang sudah siap aku hanya menurut saja," balasku demikian.
"Kalian terlalu bergantung padanya, dia utusan dewi jahat apa kalian yakin tidak mencurigainya?"
Tidak aneh jika Charlotte berfikir demikian, saat aku bertemu dengannya aku sempat menyerangnya namun dibanding dia membenciku dia malah berusaha dekat denganku.
Kizuna dan Ryker hanya tersenyum masam.
"Menurutku Lion terlalu baik, dia yang paling bekerja keras dibanding kita, ia bahkan membantu membuat negara untuk kita padahal sebelumnya dia sudah memulihkan satu benua dengan hanya kekuatannya sendiri."
__ADS_1
"Aku juga berfikiran demikian, namun saat peperangan terjadi aku ingin memiliki kontribusi lebih," tambah Ryker.
Aku terkadang memiliki sesuatu yang janggal saat melihatnya, apa itu hanya perasaanku saja.
Saat aku memikirkannya kembali di dekat sungai Lion muncul seorang diri, ia melambaikan tangannya ke arahku dan aku hanya membuang wajah untuk menolak sikap ramahnya.
Dia hanya seorang yang menginginkan banyak wanita di tangannya jadi aku tidak akan memberikan hatiku padanya.
"Gracia, semua orang telah kembali ke kemah kenapa kau ada di sini?"
"Terserah aku, aku ingin berada di sini lama tau tidak bukan urusanmu."
Lion menjatuhkan bahunya dengan wajah kecewa.
"Ada yang ingin kuberitahukan padamu, apa kau mau ikut sebentar denganku?"
Aku segera menutupi dadaku dalam posisi bertahan, kebanyakan pria adalah serigala liar aku masih tidak mempercayainya.
"Yah, sikapmu membuatku terluka."
"Kau sering melakukan hal vulgar dengannya aku masih mewaspadainya."
"Tolong jangan menunjukkan ekspresi serius seperti itu."
__ADS_1
Lion mengulurkan tangannya namun aku tidak mengambilnya melainkan berjalan melewatinya dan duduk di atas batu sungai selagi menuntut ke arahnya.
"Jika kau ingin mengatakannya maka katakan saja di sini, seperti yang aku bilang aku tidak akan menikahimu sampai kau membuat dunia ini aman."
"Yah walau aman, jika kau tidak mau menikah denganku aku tidak masalah."
Mendengar itu, aku sedikit terkejut... bukannya dia sangat ngotot tapi sekarang berubah sedikit lunak.
Aku yang kebingungan lalu tersadar saat Lion duduk di sampingku. Ia berbicara dengan nada yang berbeda.
Itu terkesan dipenuhi kesedihan namun di saat yang sama memiliki kehangatan seolah ditunjukkan kepada seorang yang berharga baginya.
Aku belum pernah melihatnya seperti ini.
Setelah keheningan sesaat dia membuka mulutnya.
"Sebenarnya kita ini sudah saling mengenal satu sama lain, mungkin kau tidak mengingatnya sekarang namun aku sudah mencari tahu bahwa kau adalah Gracia yang kukenal."
"Berhentilah berbicara omong kosong, aku tidak mungkin..."
Melihat pandangan Lion yang serius membuatku tidak bisa melanjutkan perkataanku lagi, untuk alasan tak kuketahui air mata mengalir di wajahku.
"Ke-kenapa aku menangis?"
__ADS_1