
Demi merasakan bagaimana bekerja sebagai bawahan, gadis loket menyamar menjadi gadis biasanya namun sejujurnya identitasnya adalah guild master.
"Sulit untuk mempercayainya, berapa umurmu?"
"Tidak sopan menanyakan umur seorang gadis.. untuk sekarang aku akan melaporkannya pada putri jadi besok pagi sekali kalian pergilah ke depan gerbang kota, kereta maupun putri akan menunggu di sana nanti."
Kami hanya mengangguk mengiyakan.
Menerima permintaan adalah kewajiban petualang akan lebih baik jika kami memiliki pencapaian bagus di sini juga.
Pagi berikutnya hanya ada satu kereta yang menunggu kami bertiga di luar kota, aku mengintip ke dalam kereta barang dan melihat bahwa putri yang di maksud duduk selagi memalingkan wajahnya.
Jika dibilang cantik kurasa dia cantik untuk seumurannya, memiliki rambut pirang panjang sedikit bergelombang dengan mata lapis indah, dari penampilannya aku yakin dia di usia 10 -14 tahun.
Jika berbicara pakaiannya ia mengenakan gaun terusan sederhana seolah pakaian itu dibuat untuk menyembunyikan identitasnya.
Aku meminta Aira untuk duduk bersamanya sementara Rion dan aku sedikit berbicara dengan gadis loket yang sejujurnya merupakan guild master.
"Ini adalah rute yang bisa kalian ambil, perjalanan akan memakan waktu tiga hari tiga malam untuk sisanya aku serahkan padamu."
"Tentu, kami berangkat."
__ADS_1
"Berhati-hatilah."
Dari yang kudengar seluruh pasukan pengawal telah dihabisi dalam sekejap, mengingat bahwa putri ini masih bisa selamat adalah sebuah keajaiban yang tidak terduga.
Aku memecut tali pengekang kuda dan kami perlahan mulai meninggalkan kota Gordan.
Menyusuri jalanan yang rata Aira berusaha mendekati putri dengan caranya sendiri.
Walau terkesan memaksakan, itu sedikit berhasil.
"Jadi begitu, putri dikepung banyak orang dan mereka langsung menyerang begitu saja apa mereka hanya sebatas rampok?"
"Aku tidak yakin, saat aku melarikan diri dengan satu pengawal mereka masih mengejar kami padahal seluruh harta sudah ada di kereta."
"Menurut putri apa ada dugaan siapa yang menyuruh mereka?"
"Humph... aku akan menjawab pertanyaanmu setelah kau membuka topengmu."
"Aku tidak bisa melakukannya."
Aku melirik ke arah Aira dan memintanya untuk menggantikanku, dia mengutarakan pertanyaan yang sama.
__ADS_1
"Di dalam keluarga kerajaan Frames tidak ada gesekan apapun yang terjadi, kami hidup rukun satu sama lain, namun dari yang pernah kudengar kerajaan Borman meminta kerajaan kami untuk patuh padanya dan memberikan 80 persen hasil bumi setiap tahunnya sebagai jaminan keselamatan kami."
"Itu jumlah yang terlalu banyak dan terlebih mereka mencoba memalak lagi," keluh Rion yang mendapatkan persetujuan putri bernama Laurenta ini.
"Benar sekali, tentu jika kami lakukan akan banyak penduduk yang menderita, pada akhirnya semua penduduk akan mati kelaparan jadi kami jelas harus menolaknya. Mereka mengancam kami akan meratakan seluruh kerajaan ini dengan kekuatan Titan seperti apa yang mereka lakukan pada kerajaan ortodoks suci namun sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi, entah itu benar atau salah aku yakin mereka berfikir untuk menangkapku sebagai jalan lain."
"Jadi begitu, kerajaan Borman berusaha mengklaim bahwa kerusakan yang terjadi di kerajaan ortodoks suci sebagai perbuatan mereka."
"Mereka ingin mencoba mengintimidasi kerajaan lain, apa menurut Lion mereka hanya sebatas mengancam?" tambah Rion.
"Tidak, aku yakin mereka memiliki senjata rahasia untuk melakukannya, selain mengklaim mereka tidak akan berani jika hanya sebatas mengutarakan kebohongan."
"Lion?" panggil Aira.
"Aku mengerti."
Tepat saat aku menambahkan kecepatan keretanya, beberapa pohon terlempar ke arah kami, aku meminta Rion untuk mengambil kendali sementara aku melirik ke arah belakang saat seekor raksasa berbulu merah setinggi 25 meter sedang mengejar kami.
Ia memiliki tanduk dan ekor layaknya iblis pada umumnya.
Dengan menggunakan empat kaki dia mampu berlari lebih cepat dari seharusnya.
__ADS_1
"Apa itu?" teriak putri Laurenta terkejut.
"Tidak salah lagi, itu Iblis Titan," jawabku demikian.