Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 143 : Pertarungan Akhir Di Negeri Wilayah Suci Bagian Satu


__ADS_3

"Dia berubah jadi Titan," teriak gadis suci serempak sementara aku mengulurkan tanganku untuk menarik mereka berada di telapak tanganku.


Dengan langkah besar aku mulai berjalan seolah itu bukanlah hal sulit, tentu para penjaga kota tidak membiarkanku lewat meski begitu semua hal yang mereka lakukan hanyalah sia-sia, bahkan saat mereka menggunakan sihir itu dipantulkan oleh zirahku tanpa kesulitan.


Aku bisa melihat orang-orang diam terpana, dan beberapa dari mereka memilih menyerah selagi menyatukan tangan mereka berdoa.


"Kita tamat."


Jika aku orang jahat itu memang benar tapi niatku datang bukan untuk membunuh mereka walaupun aku terlihat telah menghancurkan rumah mereka, aku berjalan ke arah yang ditunjukkan Pir dan kulihat semua orang berkumpul di sana dengan sosok priest agung yang berdiri dengan mulut menganga.


Bukan hanya kemunculanku yang membuatnya terkejut akan tetapi sosok dua gadis suci yang berada di tanganku turut membuka pidatonya.


"Hentikan kalian semua kami gadis suci masih hidup, dan orang yang menyuruh para demi human untuk menyerang kami adalah orang itu."


Setiap mata terarah pada priest agung yang kehilangan kata-katanya sesaat, dia mulai mencoba memberikan tanggapan.


"Itu tidak benar, ini kebohongan... sudah jelas gadis suci telah mati, mereka hanya penipu."


"Beraninya kau."


Thalisa terbakar amarah dan ia melompat ke arah priest agung dengan pedang di tangannya, ada semacam dinding pelindung yang menahan serangan itu dan akhirnya tubuh Thalisa terdorong ke belakang hingga semua orang segera mencoba membantunya.

__ADS_1


White Tiger, Pir dan juga Mitha kami serempak menyerang.


Aku akan kesulitan bertarung dengan tubuh sebesar ini karena itu, aku kembali ke wujud normal.


"Kau rupanya haha tak kusangka solo dikalahkan oleh kalian."


Dari nada bicaranya dia pasti belum tahu bahwa solo adalah venus.


"Biarlah, kalian semua akan binasa hari ini."


Itu cukup berani saat dia mengatakannya di depan para penduduk sampai White Tiger memotong.


"Lion, lihat sekeliling kita."


"Mereka dikendalikan," kata Pir menjelaskan sementara aku menggunakan sihir angin untuk menghempaskan mereka kemudian menahan mereka dengan akar tanaman.


Thalisa dan aku saling memandang sebelum mengangguk satu sama lain sebagai tanda pertarungan dimulai.


Aku membiarkan Rion untuk bersantai dengan Diona karena itu hari ini aku akan bertarung tanpanya.


Kami menerjang secara serempak ke arah priest agung yang mengulurkan tongkatnya. Tepat saat dia akan menggunakan sihir sucinya.

__ADS_1


Thalisa lebih cepat muncul di depannya, itu mirip teleportasi dengan jangkauan pendek.


"Apa---?"


Thalisa menghancurkan pelindung priest agung dengan sebuah mantra suci, dan di saat yang sama ia mencoba menusukan pedang pendeknya.


Priest agung melompat ke belakang selagi menyeringai senang, ujung pedang yang terarah padanya ditangkis dengan tongkat kemudian melesatkan bola cahaya sebagai serangan balasan.


Tak berhenti di sana.


White Tiger muncul dari samping berusaha menebas sosok priest agung yang masih di udara. Dengan hanya membungkuk rendah dia bisa menghindari tebasan tersebut dan membuat tubuh White Tiger terpental secara sama.


Orang ini jauh lebih kuat dari kelihatannya.


Pir maupun Mitha telah mengambil celah demi mengirimkan pukulan mereka dan saat priest agung bernama Laxus itu hendak mengulurkan tongkatnya aku menahannya dengan sulur tanaman.


Kedua pukulan itu menghantam wajah Laxus membuatnya tersungkur ke tanah dengan darah membasahi hidungnya.


"Beraninya kalian semua," Laxus berteriak dengan kemarahan menelannya, dia melanjutkan setelah tongkat yang kutahan menghancurkan tanaman yang kubuat lalu kembali padanya.


"Holy Explosion."

__ADS_1


Cahaya yang menyilaukan muncul dari sihir sucinya menelan kami dalam warna terang keemasan.


__ADS_2