
Setelah Paula mendapati ketenangannya kami akan memulai menjelaskan apa yang telah aku kesepakati dengan ratu roh.
Apa dasarnya kini Kizuna telah menjadi buronan pihak Venus sebagai pahlawan pengkhianat yang memihak Titan dan nyawanya terancam, karena Paula ikut dengan kami bukan jaminan dia juga akan terbebas.
Karena itu sebelum kami pergi ke tembok keadilan Julius kami akan singgah ke tempat yang paling dilarang untuk dimasukin yaitu Hutan Roh Kematian, saat seseorang mendekatinya mereka akan langsung mati tapi beruntung karena kita memiliki Charlotte dia bisa membuat efek kematian itu tidak akan berkerja untuk kita.
Kizuna berkata pada Paula.
"Maaf membuatmu harus bertarung, kau bisa memilih untuk pergi ke tempat lain dan hidup seperti pada umumnya."
"Tidak, aku memutuskan untuk bertarung... paling tidak aku ingin melanjutkan apa yang ingin diraih oleh Erik."
"Kau tahu kau tidak akan bisa mundur lagi setelah ini? Bahkan untukku sendiri tidak ada jaminan aku bisa hidup lama," aku menyela dengan nada khawatir.
"Aku masih akan melakukannya."
"Baiklah, di tempat ini ada roh yang setara dengan Charlotte jika kau mengikat kontrak maka kau akan bisa bertambah kuat dan melindungi dirimu sendiri."
"Aku mengerti, mari lakukan."
"Tapi apa bisa seperti itu, bukannya roh yang akan memilih," Kizuna berseru.
"Dalam kasusnya berbeda, dia hanya akan melayani siapapun yang bisa mengalahkannya."
Pernyataan Charlotte membuat seolah sulit untuk melakukannya.
Aku maupun Kizuna saling menatap kemudian mengangguk setelahnya. Hutan itu tidak jauh dari sini karena itu tidak akan memakan waktu lebih lama.
__ADS_1
Setengah hari berlalu dan kami sampai di hutan tepat saat matahari tenggelam atau tepatnya di bagian luarnya, Charlotte berkata.
"Mari berkemah di sini dan menunggu pagi berikutnya... roh yang akan kita temui benar-benar mengerikan, jika aku kuat pada saat matahari terbit dia roh yang sebaliknya."
Itu terdengar bahwa sosok yang kami akan temui merupakan jelmaan malam hari.
Kami tidak bisa mengeluh apapun dan melakukan sesuai yang diinginkannya, Kizuna menekan sesuatu yang aneh di depannya.
Aku tidak bisa melihat apa itu, tapi tiba-tiba saja dua tenda muncul di depan kami.
Aku segera memprotes.
"Dua, bukannya harusnya tiga."
"Kau bisa tidur bersama Paula."
Kizuna memiringkan kepalanya kemudian meniru kelamin pria dan wanita dengan tangan dan menghubungkannya seolah itu hal wajar.
"Kau? Bisa menunjukkan hal itu tanpa ekspresi."
"Aku sudah dewasa, aku membaca doujin dan berbagai hal yang menarik."
"Kau mengatakan sesuatu yang merujuk ke arah seksual," perkataanku sama sekali tidak di dengar di sisi lain Paula tersipu malu.
Itu bukan reaksi yang kuinginkan.
Aku serius, aku telah hidup dilatih sebagai tentara ataupun pasukan elit.
__ADS_1
Membayangkan hal seperti itu membuatku mual dan ingin muntah. Ayolah, pria itu tidak hidup untuk memenuhi nafsunya saja.
Bukan berarti aku tidak normal, tapi itu bukan waktunya memikirkannya saat dunia dipertaruhkan.
Untuk kasus Dewi Aira itu sedikit berbeda karena hanya itulah yang bisa mengeluarkannya.
Aku pada akhirnya memutuskan akan tidur di luar bersama api unggun yang menghangatkan selagi membersihkan dua pedangku setelah makan malam.
Malam semakin dingin dan aku tidak tahu waktu berjalan seberapa lama, tapi aku yakin bahwa ini sudah tengah malam dengan banyaknya burung hantu serta kelelawar yang menembus sinar rembulan.
Sesekali terdengar suara gagal yang memecah keheningan.
Charlotte adalah roh karena itu konsep istirahat berbeda dari manusia, dia bisa terjaga beberapa hari tanpa tidur dan jika pun dia ingin istirahat empat jam lebih dari cukup.
Dia muncul di dekatku karena mencium aroma ubi yang kupanggang.
Aku menyelesaikan perawatan lalu menyarungkan kembali pedangku pada sarungnya.
"Kau mau?"
"Kau ternyata baik Ryker, pernahkah aku bilang bahwa kau cukup tampan."
"Hentikan itu."
"Kau tidak suka pujian."
"Aku lebih menghargai pujian yang tulus."
__ADS_1