
Itu hari cerah di mana tidak ada awan yang menyelimutinya selain matahari yang bersinar terang.
Selama satu bulan aku hidup tanpa beban di sini, rumah yang kubangun telah selesai dan juga setiap harinya aku hanya menghabiskan waktu berkebun di samping rumahku.
Friella dan Laina tampak sedang mencuci di dekat sumur sementara Rion dan Rosvalia akan selalu bertengkar di pagi hari. Mereka cukup menghangatkan suasana jadi aku biarkan seperti itu saja.
"Lion aku sudah memetiknya, terong, tomat, cabai, paprika dan juga kubis."
"Kerja bagus Misa, kau bisa menaruhnya di dapur dan kita akan memasaknya nanti?"
"Iya, tapi ngomong-ngomong apa tidak apa-apa kita terus-menerus makan sayur Harty tampak tak bergerak di sana."
Di Benua ini tidak ada hewan yang hidup kecuali ikan karena itu sulit untuk mendapatkan daging.
"Tidak apa-apa, dia harus bersabar sebentar lagi."
Rencananya kami akan kembali berpetualang dalam dua hari lagi, aku masih belum mengumpulkan kekuatan Rion seutuhnya yang mana menjadi prioritasku sekarang.
Misa mencium pipiku lalu pergi ke dalam rumah setelah berkata.
"Itu ciuman untuk hari ini."
Dia akan menciumku setiap harinya tiga atau lima kali. Karena menyenangkan aku tidak keberatan.
Valentine tiba-tiba muncul di dekatku hingga aku terkejut.
"Aku ingin minum darah."
"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku bisakah kau tunggu sebentar."
"Baik."
Valentine menguntitku kemana saja selagi membawa payung di tangannya, rasanya tidak nyaman.
Baru setelah selesai aku membiarkan dia menghisap darahku, biasanya dia akan menghisap di tanganku tapi setelah di sini dia lebih menyukai menghisapnya di leherku.
Aku berfikir apa aku akan menjadi vampir juga nantinya.
__ADS_1
Entahlah yang jelas aku terkadang merasa anemia.
Valentine mengangkangi pangkuanku lalu menunjukan kedua taringnya.
"Selamat makan."
Aku bisa merasakan taringnya yang dingin menembus kulitku. Aku seperti persediaan makanan baginya, yang bisa kulakukan hanyalah melingkarkan tanganku di punggungnya atau paling tidak mengelus rambutnya selagi menunggu selesai.
Seluruh tubuhnya memang terasa dingin tapi masih terasa lembut di beberapa titik, aku terkadang khawatir dengannya tapi semuanya baik-baik saja.
"Terima kasih makanannya."
"Kalau begitu bisakah kau turun dariku sekarang, ini posisi yang tidak aman."
"Ah yah."
Aku suka ekpresi Valentine yang memerah.
Harty menerobos masuk saat Valentine turun dariku.
"Gawat Lion, ada monster yang keluar dari danau."
Bukannya dirinya yang lebih menakutkan dari monster, dia seekor naga loh.
Kami buru-buru melihat monster seperti apa yang dimaksud Harty hingga kami semua menunjukkan wajah bermasalah.
"Ini bukan monster ini hanya berang-berang," teriakku.
Friella dan Laina tertawa.
"Mereka sangat imut bukan? Aku ingin memeluk mereka."
"Aku juga."
"Apa aku bisa memakannya?"
"Tidak, kau tidak bisa melakukannya... apa berang-berang memakai pakaian seperti itu."
__ADS_1
Di depanku adalah keluarga berang-berang dengan ayah, ibu dan anak.
Ada masih banyak lagi di belakang mereka.
Rion melanjutkan.
"Mereka memiliki insting tajam, sepertinya mereka bisa mengetahui bahwa daratan ini telah kembali sedia kala."
"Kurasa itu benar."
"Kalau begitu mereka akan jadi pendudukku dan membayar upeti setiap bulannya."
Misa membalas pernyataan Rosvalia.
"Kau ingin memungut pajak dari berang-berang, bukannya itu berlebihan."
"Ini demi kerajaanku."
Meski dapat uang dia tidak akan bisa menggunakannya.
"Ratu Alice memang hebat, itu ide bagus."
"Fufu."
"Hanya saja satu yang ingin ku katakan padamu."
"Apa itu sayangku?"
"Berang-berang tidak tahu uang."
"Apa?"
"Kami selalu membayar dengan serangga."
Dan kami langsung memucat.
"Dia bisa berbicara," kata Valentine mewakili kami semua.
__ADS_1
Harusnya ini tidak aneh, mereka berpakaian jelas mereka juga bisa berbicara.