
Menara Babel adalah sebuah menara yang tersembunyi dari semua orang meski begitu karena insiden dengan Nightmare, kami tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Aku muncul di depan menara tersebut lalu berjalan maju, tugasku adalah untuk membersihkan semua yang ada di sana dimana sebelumnya tempat ini dijadikan semacam sekte berbahaya.
Asteroid dalang dari semua ini sudah lenyap yang tersisa adalah kutukan yang menyelimuti tempat ini. Aku masuk ke lantai satu dan melihat banyak bayangan hitam yang bermunculan, hampir seluruh tempat sudah tak terurus dan menjadi tempat untuk makhluk-makhluk seperti ini berkeliaran.
Aku mengarahkan tanganku lalu kugunakan sihir suci untuk melenyapkan mereka, jika suatu hari ada lagi orang yang pergi ke sini mereka tidak akan menemukan apapun bahkan pengetahuan sedikitpun.
Ada buku-buku yang diletakkan memutari ruangan ini yang mana aku bakar tanpa ragu menjadi debu, naik ke lantai dua pemandangan tidak pernah berubah aura mencekam terasa menyelimutinya dan sekali lagi aku melenyapkan aura tersebut termasuk jiwa-jiwa yang tertinggal yang berada di dalamnya.
Banyak orang yang dikorbankan di sini dan mereka semua menunggu untuk seseorang membantunya, aku senang bisa melakukannya.
Semakin tinggi semakin pula masalah yang kuhadapi, buku-buku raksasa yang kulihat bisa berubah jadi monster lalu menyerangku, dengan sebuah tebasan aku menghancurkan mereka dengan mudah.
Aku menancapkan pedangku pada buku-buku yang mulai terbuka, setiap lembar dari buku ini menciptakan monster karena Itulah jika jatuh pada orang jahat itu sudah cukup menghancurkan satu negara.
"Hellfire."
Apiku membakar semua ruangan sebelum naik ke lantai berikutnya hingga mencapai lantai terakhir.
Di sini banyak tengkorak yang tergeletak yang mana kebanyakan anak-anak, jika dulu Nightmare datang kemari ia juga akan mengalami hal sama.
Tanpa memikirkan apapun lagi aku membakar mereka menjadi debu termasuk singgasana ataupun buku-buku yang terlihat memenuhi rak ini, aku tidak peduli buku apa itu yang terpenting aku hanya membersihkan semuanya hingga menjadi ruangan kosong tanpa apapun.
Karena aku sudah menjadi dewa, aku bisa melihat jiwa-jiwa mereka yang mulai menghilang selagi membungkuk sekali padaku.
Aku keluar dari menara dengan sihir teleportasi dan melihat menara sedikit lebih cerah sekarang. Tugasku sudah selesai maka dari itu mari kembali ke tempat berikutnya yaitu alam dewi.
Di sana aku melihat pulau-pulau telah diperbaiki sedia kala dan di pulau paling atas Ringbel, Venus serta Amnesty tampak menungguku dengan secangkir teh yang mereka berikan padaku.
Di belakangnya Pandalium masih bergerak semestinya.
__ADS_1
"Semuanya sudah kembali sedia kala rupanya yah."
"Ini semua berkat Lion loh, bahkan Venus juga jadi tidak memakai pakaian lagi," balas Amnesty.
"Saat kekuatanku hilang aku merasa kedinginan tapi sekarang aku lebih baik."
"Lebih baik apanya coba, semuanya terlihat loh," kataku demikian.
"Ringbel kau tidak mencoba telanjang juga."
"Mana mungkin aku melakukannya, aku bisa kehilangan pengikut yang mayoritas bermoral tinggi."
"Maksudnya pengikutku tak bermoral."
"Bukan aku yang mengatakannya."
Kupikir tidak semua dewi suka telanjang seperti Venus, dan dewi juga bisa bertengkar seperti sekarang.
Aku menyeruput tehku dalam damai.
"Dia hidup dengan bahagia, ia berasal di keluarga yang baik meskipun mereka seorang bangsawan yang cukup kaya raya, ia mendapatkan pangeran setia dengan satu pasangan dan menjadi ratu di sana yang banyak dikagumi rakyatnya, memiliki dua anak laki-laki dan perempuan yang memilih keadilan tinggi."
"Dia pasti bahagia sekarang."
Venus mengangguk mengiyakan.
Beberapa hari kemudian Karina dan Viloe muncul di ruanganku selagi bertengkar.
"Aku tidak ingin mendapatkan bimbingan darinya, dia undead."
"Aku juga sama, dia seorang pendeta."
__ADS_1
"Mulai sekarang kalian harus rukun, Viloe yang mengurusi ras Siren jadi jika ada keperluan apapun Karina harus mengatakannya padanya."
"Heh, padanya?"
"Aku tidak mau."
"Aku juga tidak mau."
Mereka saling memalingkan wajahnya, sungguh sangat kekanak-kanakan. Livia muncul dengan tergesa-gesa untuk menerobos ruanganku, Alteira menyusul dari belakang.
"Tuan, nona Rion akan segera melahirkan anda harus cepat pergi."
"Hari ini."
Aku bergegas pergi dan di istana semua istriku serta penghuni mansion telah menunggu di luar kamar, untuk persalinan sendiri dilakukan oleh Atlas dan juga Clarisa.
Aku benar-benar sangat gugup sekarang hingga akhirnya terdengar tangisan bayi, saat Atlas membuka pintu kami semua diperbolehkan masuk dan melihat Rion terbaring di ranjang sementara di sampingnya seorang bayi perempuan yang cantik tampak tersenyum dengan mata tertutup.
"Kalian pasti ingin cepat punya bayi bukan?"
Dewi ini sama seperti sebelumnya sangat jahil.
"Aku juga sedang hamil atau sebenarnya kami semua juga," balas Aira sebagai perwakilan.
Aku menggendong putriku lalu berkata.
"Aku akan memberikan nama Noir," dan semua orang berteriak semangat.
"Biarkan aku menggendongnya juga."
"Setelah itu aku juga."
__ADS_1
Sepertinya kebahagiaanku juga dimulai dari sekarang. Meski banyak hal terjadi bahkan saat aku datang ke dunia ini, aku sangat senang bahwa aku telah berhasil menyelamatkan dunia ini.
Tamat.