Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 284 : Bersama Livia


__ADS_3

Di hari berikutnya aku pergi ke tembok keadilan Julius, Tembok Penghakiman Argos dan juga Tembok Kebijaksanaan Chaldis.


Di sini aku membantu membuat rumah-rumah melalui sihir kayuku serta memberikan potongan kayu bekas pembangunan jalan jika penduduk ingin menggunakannya sebagai barang kebutuhan lainnya.


Jika untuk temboknya sendiri memerlukan waktu yang cukup lama karena itu aku hanya fokus dalam pembentukan rumah mereka agar bisa ditinggali semestinya.


Sepuluh bangunan tercipta secara bersamaan membuat semua penduduk terlihat gembira, mereka bukan sepenuhnya warga di kota ini mereka adalah korban serangan Titan yang berhasil diselamatkan.


"Berikutnya."


Dalam hitungan jam aku telah membuat ratusan rumah di setiap wilayah tembok, aku merasa kasihan jika membuat orang tua dan anak-anak tidur di alam bebas, dengan ini mereka akan memiliki tempat yang nyaman.


Aku terhuyung ke depan saat Livia merangkulku.


"Tuan Lion?"


"Aku terlalu banyak menghabiskan mana, paling tidak semuanya telah selesai."


"Tolong jangan memaksakan diri anda."


"Mari kembali, aku ingin tidur."


Aku melewatkan makan malam dan bangun di pagi hari dengan perut keroncongan, Winny yang melihatku banyak makan tertawa kecil.


"Ini pertama kalinya aku melihat wajah Lion, sangat tampan."


"Benar, pantas saja kau menyembunyikan wajahmu dari semua orang khususnya wanita, mungkin akan berakhir dengan menghamili mereka jika lengah," kata Glory.


"Aku sedang makan, bisakah kalian tidak mengatakan hal itu," kataku datar.


"Yahh aku juga ingin dihamili kalau begitu meskipun di luar nikah."

__ADS_1


"Apa yang kau katakan, kau gadis suci kan?" teriakku pada Winny.


"Lihat Livia juga terlihat malu-malu."


"Aku tidak malu-malu."


Perkataan dan sikapnya sama sekali tidak sesuai, siang hari rombongan dari kerajaan lain akan tiba di sini, karena itu aku harus mengisi energiku sebanyak-banyaknya agar tetap fokus.


Setelah makan aku pergi ke halaman luar istana, aku tidak melupakan topengku sekarang.


"Tuan Lion, anda lupa memakai celana."


"Sejak kapan?" teriakku.


"Sejak saat makan."


"Kau baru mengatakannya?'


Aku hanya mengenakan celana boxer dengan motif hati.


"Dengar Livia, warna pink itu menandakan jantan."


Dia tertawa.


Percuma aku tidak bisa meyakinkannya.


Selepas mengenakan celana aku duduk di perkarangan istana untuk menikmati teh sembari melirik ke arah sekeliling yang dipenuhi pemandangan indah.


Hanya aku dan Livia di sini yang mana membuat hampir semuanya tampak sepi.


"Nah Tuan Lion, apa menurutmu mulai sekarang aku harus mengenakan gaun pelayan serta telinga kucing."

__ADS_1


Air menyembur dari mulutku, ketenangan cepat sekali berlalu.


"Kenapa kau mengatakan itu?"


"Saat di kota para pria sangat menyukai wanita berpenampilan seperti itu."


"Di mana kau melihatnya?"


"Rumah bordil."


Guakh.


"Apa yang sebenarnya kau lihat, pokoknya jangan pergi ke tempat seperti itu."


"Lalu soal gaunnya?"


"Tolong jangan mengenakan pakaian seperti itu."


Ini gejala virus Rion, di mana efeknya membuat semua orang bertingkah sepertinya... aku yakin dia sedang mandi sinar matahari di pantai bersama yang lainnya sekarang.


"Aku juga berfikiran untuk memakai Bunny suit dan pakaian sailor."


Aku sebenarnya lebih menyukai Livia dengan pakaian seragam militer tapi kurasa pakaian seperti itu mulai tidak cocok dengannya, karena itulah aku mengajaknya pergi ke sebuah toko yang dimiliki seorang gadis berkacamata.


"Selamat datang di toko kami, moto kami adalah melayani orang kaya dan menendang orang miskin dari sini... silahkan dilihat-lihat."


"Bukannya moto kalian terdengar mengerikan," kataku demikian dan gadis kacamata meletakan tangannya di bibir selagi berpikir.


"Benarkah?"


Hal seperti itu tidak perlu dipikirkan lagi.

__ADS_1


__ADS_2