
Di ruangan yang diberikan penduduk ini aku menjelaskan pada semua elf yang kubawa.
"Walau mereka sudah beradaptasi di tempat ini, tidak dipungkiri bahwa hidup mereka juga sulit, tanaman hijau tidak tumbuh di benua ini dan seiring waktu kayu-kayu yang mereka gunakan sebagai bahan bakar akan lenyap."
"Itu mengerikan... apa mereka bisa bertahan?"
Aku menggelengkan kepalaku demi menjawab pertanyaan Via.
Hidup di tempat dingin bukanlah hal yang dianggap menyenangkan, salju yang dingin membuat balok es begitu kuat dan sulit dihancurkan.
Hanya menunggu waktu hingga mereka mati kelaparan.
"Sepertinya kau tahu situasi kami Lion?"
Aisha masuk tanpa kami undang, dia membawa beberapa makanan laut seperti ikan dan kerang yang disajikan mentah.
"Api adalah sesuatu yang sulit di dapatkan, jadi makanlah seperti ini."
"Aku bisa membuat api."
Aku menengadahkan satu tanganku dan kobaran api muncul di sana.
"Kau penyihir?"
"Benar, sihir bukan sesuatu yang spesial kalian bisa mempelajarinya jika mau."
Aisha menunjukan ketertarikannya hingga dia menarikku ke luar bangunan lalu memanggil seluruh penduduk di lahan kosong.
__ADS_1
"Kalian semua kita menemukan api."
Rasanya tidak senang disebut api.
"Apa? Setelah sekian lama apa kita bisa makan makanan yang hangat."
Mereka jelas jarang menikmatinya, apa boleh buat untuk hari ini aku akan membiarkan mereka merasakannya tapi bukan dari sihir apiku.
Aku ingat bahwa aku mengambil beberapa kayu saat pembuatan jalan, jadi kugunakan itu saja dan menyimpan sisanya untuk dijual ke ortodoks suci.
"Apa?"
Ketua suku hanya berteriak apa sepanjang waktu, kami semua pada akhirnya membuat sebuah perayaan makan-makan.
Aku sempat melirik ke arah An, tapi dia berbalik lalu pergi meninggalkan tempatnya. Aisha menepuk pundakku.
"Kalian sudah sangat lama hidup."
"Hanya beberapa, sisanya juga sudah meninggal," balas Aisha meleparkan ikan yang langsung masuk ke dalam mulut beruang miliknya.
Dia melanjutkan.
"Jika penduduk terlihat senang seperti ini, aku yakin mereka akan setuju jadi tidak perlu dipikirkan lagi."
"Kau terlihat yakin?" aku balik bertanya.
"Beberapa bulan ini ada monster Kraken yang muncul di benua ini dia hampir memakan seluruh persediaan yang kami miliki di sini, seperti yang kau katakan sumber daya kami akan hilang suatu hari nanti."
__ADS_1
Seluruh benua ini memang dikelilingi laut.
Ketika kami asyik menyantap makanan An kembali. Matahari baru saja tenggelam dan ia akhirnya datang di waktu yang tepat.
Namun hal itu jelas berbeda dari yang kubayangkan, seluruh tubuhnya dipenuhi luka serta darah.
"An, apa yang terjadi?" tanya Aisha.
"Larilah."
Aisha mencengkeram kerah bajunya.
"Jangan bilang kau melawan Kraken."
"Kupikir jika aku mengalahkannya kalian tidak akan pergi ke tempat itu."
"Dasar bodoh, dia pasti akan mengincar kita sekarang."
Tepat saat Aisha berkata demikian tangan-tangan tentakel bermunculan dari dalam es naik ke permukaan, bersamaan itu sosok Kraken menampakkan wajahnya.
"Semuanya lari?" teriak Aisha Sementara elf yang kubawa termasuk Via menarik pedangnya.
Monster ini muncul dari bawah dengan kata lain daratan di benua ini lebih banyak terbuat dari es.
Jika demikian maka monster ini sangat kuat hingga bisa menghancurkannya. Kraken yang sekarang akan kami hadapi bukan makhluk yang senang melecehkan wanita.
Dia benar-benar mesin pembunuh terbukti saat dia membuka mulutnya yang mirip seperti gergaji.
__ADS_1