
Matahari mulai menampakkan cahaya dari balik pegunungan, bersamaan suara burung yang mulai mengepakkan sayapnya aku, Aira, Rion dan Laurenta siap untuk berangkat diantarkan seekor capung raksasa yang dikendarai oleh Selena.
Untuk kereta kuda kami akan titipkan di sini, lagipula dengan Teleportasi Gate kami bisa muncul di sini dengan mudah, jika tempatnya belum pernah dikunjungi maka aku akan dipindahkan secara acak tapi jika sudah dikunjungi itu seperti membalikan telapak tangan saja.
Yah, mari kesampingkan hal itu.
Kami naik di punggung capung dengan tenang, aku duduk diapit oleh Aira dan Rion.
"Rion dadamu memukulku."
"Ini sepele."
"Dengan ukuran seperti itu aku tidak yakin itu sepele.... berhenti menggosokannya."
Mari abaikan saja dan nikmati perjalanan langit ini, setelah beberapa jam kami diturunkan di depan ibukota.
Selena pamit untuk kembali dan kami hanya melambai ke arahnya sampai sosoknya menghilang dalam awan.
"Akhirnya aku kembali, mari ikuti aku."
Atas pernyataan Laurenta kami mengikutinya dari belakang baru saja beberapa langkah dari gerbang kota aku langsung dikepung oleh para penjaga dari segala arah kemudian dijebloskan ke dalam penjara tanpa membiarkanku menjelaskan sedikit pun.
Apa-apaan ini?
Aku memasang wajah datar bahkan dibalik jeruji penjara.
Salah satu penjaga muncul selagi memperlihatkan hukuman yang akan didapatkan oleh narapida.
"Lihat ini, maling ayam 20 tahun, korup satu bulan, pencuri 5 tahun."
__ADS_1
Yang pertama dan kedua tampak janggal.
Saat aku menanyakannya penjaga memasang wajah bangga.
"Ayam itu sangat mahal di sini malah melebihi koin emas, biasanya sebelum mereka dijebloskan mereka akan diamuk masa sampai bonyok."
"Dan yang kedua?"
"Lupakan saja, orang kaya bebas, hukum tidak bisa menyentuh mereka.... mereka sulit untuk ditangani. Jika mereka sopan saat persidangan hukumannya akan dikurangi lagi jadi satu Minggu."
"Lalu hukuman apa yang akan kuterima?" aku dengan ragu masuk ke inti pembicaraan.
"Yang ini, penculik loli hukuman mati."
Aku terduduk lemas dengan mulut mengeluarkan asap.
"Tunggu sebentar, siapa yang kau panggil penculik loli?" teriakku sementara penjaga menaikan bahunya ringan.
"Bukannya kalian lebih sering membiarkan amuk masa terjadi."
Si penjaga tersenyum masam lalu melanjutkan.
"Putri Laurenta sekarang memasuki umur 18 tahun, dan kau malah menculiknya bukannya kau jadi penculik loli."
"Bukannya umurnya 10 tahunan."
"Sepuluh tahun jidatmu, sudah jelas dia loli, loli."
Saat aku hendak membantah kejahatanku orang yang dimaksud muncul dengan beberapa orang penjaga termasuk Aira dan Rion.
__ADS_1
"Kau cukup senang memanggilku loli di sana."
Wajah penjaga memucat.
"Maafkan aku, aku hanya menjelaskan hukuman apa yang akan diterimanya."
"Lepaskan dia, semuanya hanya salah paham."
"Baik."
Aku keluar dengan masih memasang wajah bermasalah.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Loli?"
"Berhentilah mengatakan itu, cepat ikuti aku aku akan membawa kalian ke orang tuaku."
Pantas saja dia terasa lebih dewasa dari umurnya, aku penasaran seperti apa ibunya.
Apakah loli juga?
Saat aku berpikir itu, ternyata benar.
Ayahnya pria biasanya bermantel serta berjenggot seperti apa yang kebanyakan orang lihat di sebuah anime.
Sementara ibunya berdiri di atas kursi selagi memasang wajah kesal, dia memiliki rambut pirang yang sama seperti Laurenta hanya saja rambutnya diikat bergaya twintail yang sama sekali tidak seperti ratu.
"Aku tidak menyangka ada beberapa orang yang berani menyentuh putriku, aku benar-benar berterima kasih untuk para petualang, tinggallah di sini kami akan membuat jamuan mewah."
__ADS_1
Aku melirik ke arah raja dan dia sepertinya suami takut istri.
Ah, aku ingin pulang secepatnya.