Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 22 : Melanjutkan Perjalanan Kembali


__ADS_3

Aku melesat maju selagi mengangkat pedangku setinggi kepala sembari berteriak.


"Awokawokawok."


"Kau ngapain Lion? Kau malah terlihat bodoh?"


"Situasi seperti ini cukup menegangkan, sesekali coba hiburan biar tidak terlalu serius."


"Aku salah mengenalmu, kau memang seorang badut," ucap raja iblis.


Aku mengayunkan pedangku dan dalam seketika senyuman di wajah raja iblis menghilang, pedang yang kuayunkan berhasil melukai tangannya.


"Kenapa ini? Kau memiliki enam mata, bukannya tebasanku terlihat jelas."


"Cih.."


Dia membuang wajahnya lalu berusaha meninjuku dengan kekuatan miliknya.


Aku menangkis dengan punggung pedang hingga ledakan terjadi di belakang maupun sampingku.


Rion dalam wujud pedang tertawa.


"Kurasa raja iblis akan semakin lemah setiap tahunnya."


Dia memukul tubuhku hingga meledak, tentu itu hanya sebuah ilusi yang kubuat.


"Sial tunjukan wujud aslimu."


"Kau tidak mengetahuinya, mengecewakan sekali."


Sekitar 10 orang sepertiku muncul mengerumuninya, aku melanjutkan.


"Tidak ada yang lebih kuat dariku, aku adalah intensitas tinggi dari semuanya."

__ADS_1


"Jadi begitu kemampuan dosa kesombongan, jika aku tidak tahu siapa yang asli aku hanya perlu menyerang semuanya."


Raja Iblis Utara mengeluarkan seluruh kemampuannya, dia mengamuk dan menyerangku secara brutal, setiap pukulannya menciptakan kehancuran yang membuat tanah terangkat ke udara.


Rion berkata setelah aku menarik nafas panjang.


"Sebaiknya kita berhenti mempermainkan raja iblis... sekuat apapun dirinya jika dia tidak bisa mengenai musuhnya percuma saja, lebih baik mengakhiri ini secepatnya."


"Kurasa begitu."


Aku mengayunkan pedangku dan seketika muncul di belakangnya. Tubuh raja iblis terduduk lemas dengan darah menyembur dari tubuhnya.


"Di banding aku, raja iblis lainnya lebih kuat, mereka akan menghabisimu."


"Tidak usah pikirkan aku, aku akan membunuh semua raja iblis termasuk bawahannya jadi kau tidak akan kesepian nanti di neraka."


Tepat saat aku menyarungkan pendangku, raja iblis tumbang ke bawah. Aku bisa melihat orang-orang di atas tembok melompat bersemangat dengan senyuman di wajahnya.


Pekerjaanku di sini sudah selesai, sudah waktunya melanjutkan perjalananku kembali.


"Rasanya tidak jauh berbeda rupanya."


"Kukira naga sedikit pilih-pilih makanan."


"Aku tidak suka pilih-pilih, selagi mereka mempunyai daging aku akan melahapnya juga."


"Dasar rakus."


Valentine yang melayang dari atas jatuh di depanku dan aku menangkapnya, karena berat aku terbaring di rumput.


"Lion baik-baik saja, apa ada yang sakit?"


"Aku tidak apa."

__ADS_1


Valentine menghela nafas lega meksipun dia duduk di pahaku dengan santainya.


"Mari rayakan dengan makan-makan."


"Tentu."


"Kau bilang makan-makan?"


"Harty tidak perlu makan lagi."


"Heh."


Beberapa hari selanjutnya kami berpamitan pada Calistha tepat di hari penobatannya menjadi seorang ratu.


Bersama Angela dan Lucia ia mengutarakan terima kasihnya, aku menerima ucapannya dengan baik hanya saja Harty tampak tertawa dengan koin emas bagianku.


Naga ini tidak bisa menahan diri.


Dengan terbebasnya dari raja iblis kini wilayah air sepenuhnya akan baik-baik saja, wilayah yang sebelumnya dikuasainya telah diambil kembali termasuk hasil kekayaan mereka yang akan digunakan untuk pembangunan kerajaan ini.


Calistha mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, aku menerimanya dengan baik selagi tersenyum ke arahnya.


"Kalian pasti akan baik-baik saja mulai sekarang, Angela dan Lucia sangat bisa diandalkan."


"Aku beruntung memiliki keduanya di sampingku."


Aku melepaskan jabat tangan tersebut lalu berbalik untuk melangkah pergi.


"Selamat tinggal," ucap Valentine disusul Harty.


"Dadah."


Ini adalah perpisahan.

__ADS_1


Dengan ini perjalanan kami dimulai kembali.


Untuk sekarang aku belum berniat untuk tinggal di suatu tempat akan tetapi hari itu pasti akan datang suatu hari nanti.


__ADS_2