
Aku maupun Valentine menghindar saat sebuah api meluncur ke arahku, aku mendorong kakiku dengan kecepatan tinggi membuat kehancuran di belakangku.
Kutendang dengan kaki kananku, kemudian kuputar tubuhku untuk menendangkan kaki kananku, saat aku melompat kuputar diriku dengan tendangan gunting.
"Mata mistikmu sepertinya bukan tipe bertarung, ini akan jauh lebih mudah."
Lakurius menangkap kakiku kemudian melemparkannya menembus bangunan, Valentine tidak menyiakan kesempatan yang dimilikinya.
Dia melapisi tangannya dengan tanaman bunga mawar, saat tangan itu mengenai Lakurius dia terlempar seperti apa yang kualami.
"Kau baik-baik saja Risela?"
"Tidak masalah."
Aku membentulkan postur tubuhku selagi menunjukan kedua tinjuku di udara.
"Mari habisi dia."
Valentine mengangguk sebagai persetujuan, Lakurius keluar dari puing-puing yang menimpanya dan berjalan tanpa kendala.
Dia memamerkan api di tangannya lalu melemparkannya ke arah kami seperti sebuah bola.
Valentine memiliki kemampuan bunga mawar kemampuannya tidak cocok jika harus digunakan melawan Lakurius kendati demikian jika kami kalah seluruh penduduk kota ini akan mati.
Tanpa memikirkan apapun aku melangkah maju dengan tinjuku sementara Valentine mengikuti dari belakang, kami berbagi pukulan bersama meskipun Lakurius lebih banyak melukai kami.
Tubuhku dikirim terbang sejajar dengan tanah, begitu juga Valentine yang ada di sebelahku, kami sudah babak belur.
__ADS_1
"Seperti janjiku kalian akan mati."
Lakurius menciptakan api raksasa yang menghasilkan panas luar biasa bahkan aku yakin bahwa pakaian kami berdua akan meleleh jika terlalu lama.
Aku diberkahi mata mistik meski begitu seperti apa yang dikatakannya mata ini tidak bisa dipakai bertarung mata ini hanya bisa melihat aura dari seseorang.
Hanya sebatas itu.
Dengan tubuhku aku berdiri di depan api yang mendekat ke arah Valentine.
Aku yakin aku akan musnah jika aku terhantam sihir tingkat atas seperti itu meski begitu paling tidak Valentine akan selamat, di saat keyakinan itu melekat kuat di benakku seseorang jatuh dengan mudahnya dari atas.
Dia mengulurkan tangannya dan itu menciptakan sihir air yang menelan api dalam luapan uap tak terbatas, entah aku ataupun Valentine terkejut akan hal itu.
Sementara kami tak bisa berkata apa-apa Lakurius hanya menaikkan bahunya ringan, seolah mengejek dan berkata.
Darah menyembur ke udara bersamaan tangan kiri yang putus ke bawah.
"Apa yang barusan itu? Kenapa?"
Selagi kepalaku diisi dengan berbagai pertanyaan aku melihat sosok Lion di depanku yang dengan santai memegang pedang di tangan kanannya.
Dia barusan menebas tangan Lakurius sangat cepat.
Wajahnya tertutup topeng karenanya meski dia menoleh ke arahku ekpresinya sulit kuketahui akan tetapi aku tahu satu hal.
Itu adalah ekpresi marah.
__ADS_1
"Tidak akan kubiarkan kau menyakiti rekan-rekanku, meski mereka menyebalkan mereka tetap saja adalah orang-orang yang berharga untukku."
"Kau akan membayar soal tanganku ini."
"Kalian mundurlah biar aku yang mengatasi hal ini," bisiknya sebelum melesat maju.
Bersamaan itu Nibela dan Harty juga turun dari langit.
"Valentine kau terluka, biar aku sembuhkan dengan air liur."
"Aku tidak mau."
"Kenapa? Air liur naga sangat berkhasiat."
"Mana mungkin begitu."
Ketika Valentine dan Nibela mendorong satu sama lain, Nibela membantuku berdiri.
"Lion mungkin akan kesulitan saat melawan pria itu" kataku demikian.
"Dia bilang, dia akan menghadapinya sendirian, walaupun Lion terlihat acuh tak acuh pada kami, dialah yang paling memperdulikan kami dari siapapun."
"Lalu kenapa orang sebaik itu memiliki kutukan?"
Nibela berbisik ke arahku agar tidak ada siapapun yang mendengarnya, satu pernyataan darinya membuatku sedikit terkejut.
"Rion adalah dewi jahat," kataku pelan mengulang pernyataan Nibela.
__ADS_1