Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 223 : Priodal Demon


__ADS_3

Aira mengeluarkan guci yang sebelumnya menyegel setiap roh dari penduduk Dark Elf, setelah membilas wajah mereka. Aira membuka gucinya dan lalu roh itu kembali ke tubuh mereka.


Air dari sumur kehidupan memberikan keajaibannya, mayat yang telah diberikan air tersebut menarik kembali rohnya ke dalam tubuhnya membuat mereka hidup kembali.


Di saat semua orang kebingungan Selena menjelaskan banyak hal pada mereka, tentu semua peran penting diberikan padaku hingga mereka semua menundukkan kepala untuk mengucapkan banyak terima kasih.


Ini juga berkat semua orang jadi mereka berhak mendapatkan ucapan yang sama.


"Kurasa desa kalian sudah tidak bisa ditinggali lagi, aku harap kalian mau mengambil tawaranku sebelumnya."


Mata mereka dipenuhi harapan dan para tetua akhirnya setuju dengan apa yang kuharapkan, aku membuka Teleportasi Gate lalu masuk sebentar dan kembali bersama Atlas dan Livia.


Atlas adalah seorang gadis buta yang merupakan jelmaan dari rubah ekor sembilan, sementara Livia adalah ras Titan yang sebelumnya mengabdikan diri pada Ranger dan sekarang menjadi pelayanku.


Aku sudah menjelaskan tujuannya jadi mereka berdua membantuku untuk mengungsikan seluruh penduduk ke negaraku.


"Silahkan ikuti aku kemari," ucap Atlas dan Livia mulai mendata semua nama orang-orang bersamaan mereka memasuki Teleportasi Gate.


Livia berkata.


"Kalau begitu kami permisi, aku harap tuan bisa segera kembali ke rumah secepatnya."


"Aku akan datang lebih sering nantinya."


Berbeda dengan semua orang yang memperlakukan sebagai raja, Livia lebih ingin memperlakukanku sebagai tuannya karena itu ia masih menyebutku demikian terkadang penghuni mansion melakukan hal sama.


Gerbang menghilang sementara Aira dan Rion menjadi pedang.


"Terlalu lama di sini akan berbahaya, mari kembali ke kota Gordan."

__ADS_1


"Baik."


"Bagaimana denganmu Clarisa?"


"Aku tidak punya tujuan karena itu biarkan aku ikut dengan kalian sementara waktu."


"Aku tidak keberatan."


Aku meminta Harty merubah dirinya menjadi naga dan kami segera menaiki punggungnya lalu bergegas pergi menjauh.


Aku merasakan sesuatu yang kuat sedang mengejar kami sekarang jadi kubuat mereka mengikuti kami ke tempat yang lain.


Valentine mengangguk sebagai tanda.


Di balik gunung kubuat ilusi kami dan membiarkannya bergerak lebih dulu sementara kami menunggu di balik gunung.


Aku bisa melihat keempat orang melesat di langit.


"Paling tidak kita tak harus menghadapi mereka semua dalam waktu dekat."


Kami turun ke bawah kemudian menggunakan Teleportasi Gate kembali untuk segera pergi dari sini.


Kami semua muncul di kediaman sederhana di kota petualang Gordan atau lebih tepatnya di ruangan tamu, semua bangunan diciptakan dari sihirku jadi semuanya terbuat dari kayu kecuali sofa dan peralatan yang sering dipakai di rumah.


Untuk sekarang kami bisa beristirahat sebentar.


"Clarisa bisa tidur di kamar kosong, Valentine tolong tunjukkan kamarnya."


"Aku mengerti."

__ADS_1


"Baik."


Aira dan Rion hendak pergi namun aku memegangi kerah baju mereka.


"Kalian mau ke mana?"


"Kami sudah lelah sudah waktunya istirahat bukan."


"Benar sekali, aku juga merasa begitu."


Aku menyangkal perkataan Aira dan Rion.


"Kalian bisa berisitirahat setelah membantuku memasak, ayo pergi."


"Heh."


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Harty.


"Kita kehabisan buah-buahan dan roti, tolong beli di pasar."


"Serahkan padaku."


Aku memberikan sejumlah uang padanya sebelum menarik istriku ke dapur.


"Aku akan dinodai, Lion pasti akan memintaku untuk mengenakan celemek bugil."


"Heh, aku juga harus berpenampilan seperti itu."


Dinodai apanya? Aku suami mereka wajar melakukan itu tapi bukan berarti aku suka menyuruh mereka mengenakan apapun yang kusuka.

__ADS_1


"Kalian berdua jangan selalu membuatku terlihat sebagai penjahat," kataku lemas.


__ADS_2