Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 400 : Bagian Awal Labirin Besar


__ADS_3

Pagi harinya kami telah bersiap-siap untuk berangkat, aku mengenakan mantel seperti biasanya dengan dua pedang melekat di pinggangku.


Livia dengan Kimono yang diikat dengan obi sederhana.


Harty dengan gaun gothic hitam miliknya sementara Valentine dengan gaun terusan berwarna merah.


Itu cukup mencolok.


"Valentine."


"Aku ingin tampil beda hari ini."


Jika itu maunya aku hanya akan memujinya, aku telah membeli banyak makanan yang akan bertahan sangat lama di Labirin Besar jika habis kudengar buah-buahan di dalam sini bisa dimakan, tujuan kami adalah seluruh lantai, maka dari itu, itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan waktu singkat.


Labirinnya sendiri berada di tengah kota jadi saat kau pergi ke sana kau bisa melihat bagaimana menara itu menjulang tinggi ke langit. Ada semacam sihir yang membuatnya tidak terlihat dari luar kota.


Kami telah memiliki izin karena itu para penjaga memperbolehkan kami masuk tanpa ada masalah sedikitpun, kami melewati pintu dan dalam sekejap pemandangan kota sebelumnya tergantikan dengan sebuah pemandangan hutan luas yang dipenuhi dengan pepohonan yang mengering.


"Sukar untuk dipercaya bahwa kita berada dalam labirin," ucap Valentine mewakili perasaan kami.


Di dalam sini ada matahari, awan dan juga angin, setiap tumbuhan bisa hidup dengan baik kebetulan saja di lantai pertama tempatnya seperti ini.


Walau pohon ini mengering tanahnya tampak subur dimana itu dipenuhi bunga serta rumput hijau, berbeda sekali saat aku pertama kali tiba di dunia bawah.


Livia menarik pedangnya selagi mengawasi sekitar.

__ADS_1


"Ada banyak dari mereka yang datang pada kita."


Mereka.


Aku bertanya-tanya apa itu dan seketika pertanyaan tersebut terjawab, kami bergerak cepat dengan berlari sekuat tenaga.


Makhluk yang sedang mengejar kami adalah jenis suatu yang sulit dihadapi, itu adalah ratusan kecoa.


"Harty lakukan sesuatu, kau bisa memakan mereka?" kataku.


"Itu mustahil, jumlah mereka sangat banyak sulit untuk dihadapi."


Aku berbalik untuk menembakan Fire Bolt beberapa kali, beberapa bisa dihabisi dan sisanya masih banyak.


Harty membuka mulutnya untuk menembakan bola api raksasa, itu meledak di tengah kerumunan dengan guncangan yang memakkan telinga. Aneh bahwa setiap kecoa yang kami kalahkan itu hancur menjadi bayangan hitam yang akhirnya memudar dan hanya menyisakan batu-batu kecil setelahnya.


"Setiap monster akan berubah menjadi batu sihir, batu ini yang bisa kita tukar dengan uang."


"Jadi begitu."


Hanya Harty yang terlihat terkejut. Dia berteriak.


"Jika begitu aku tidak bisa memakan mereka."


"Untuk sekarang tidak ada jalan lagi selain mengalahkan mereka."

__ADS_1


Aku menarik kedua pedangku dan menebas beberapa kecoa yang melompat padaku.


Mereka jelas tidak ada habis-habisnya meski begitu pertarungan ini tidak bisa kami abaikan, Livia mengirimkan bilah dari tebasannya memotong kepala mereka dengan mudah.


Namun seperti semua orang tahu kecoa bisa hidup tanpa kepala karena itu semuanya sia-sia.


"Uwaah... aku benci kecoa."


Jarang-jarang melihat Livia seperti itu.


Valentine menggunakan sihirnya untuk menciptakan sulur-sulur dari bunga mawar, sulur itu menusuk kecoa tanpa terlewat satu pun.


Seiring waktu jumlahnya menurun, kalau saja ada Ireta dia pasti sangat membantu di situasi seperti ini, sayangnya dia sudah pergi di hari pertama setelah mengalahkan Solomon dan mulai berpetualang di benua enam wilayah sebagai pengembara.


Kuharap kami bisa bertemu dengannya suatu hari nanti. Harty berkata.


"Lion di belakangmu."


Aku menebas kecoa paling besar.


"Tak masalah."


Harty berubah jadi naga dan hendak memakan kecoa tersebut, sebelum dia mengunyahnya itu berubah menjadi batu sihir.


"Aku benci tempat ini."

__ADS_1


Walau lantai satu kesulitan di tempat ini tidak bisa diremehkan.


__ADS_2