Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 127 : Pertarungan Antara Pahlawan


__ADS_3

Kedua mata Kizuna tampak berwarna merah terang hingga saat menyadari itu, seluruh pahlawan mundur menjaga jarak sebelum bergantian mengirim serangan kembali.


Si rambut merah menyisir udara selagi menebaskan pedangnya yang mampu dihindari Kizuna tipis melewati rambutnya.


Aku berkata ke arah Paula.


"Kita juga harus ikut membantu."


"Um."


Dia mengangguk sebelum berlari menjauh dan aku berlari ke depan untuk membantu Kizuna, lima dari antara mereka mencegahku dengan mengirimkan sihir mereka.


Skill api adalah sihir yang mereka sering gunakan, ketika asap mengepul ke udara, mereka bermunculan di sekitarku dan berganti mengirimkan serangan terbaiknya.


Dentrang..


Pedangku menghasilkan dentingan kerasa setiap berbenturan dengan musuh. Berbeda denganku Kizuna telah membunuh banyak orang lewat pedangnya.


Dia terlihat berbeda.


"Kemana kau melihatnya?"


Bam.


Tanah terangkat ke udara saat seorang dari mereka hampir mengenaiku dengan tebasannya.


Aku mengayunkan pedangku di udara seolah-olah menari-nari dengan cepat, kuputar pendangku tanpa jeda hingga kilatan muncul setelahnya.

__ADS_1


Memang benar mereka sangat kuat akan tetapi dari segi pengalaman mereka benar-benar belum matang. Sebuah panah meluncur dari tempat lain dan menembus satu dari musuh yang kulawan hingga tumbang.


Sisanya mulai kebingungan.


Panah Paula memiliki efek pengendalian, di mana lintasan tembakannya akan terlihat muncul dari setiap arah.


"Sial, harusnya kita... gaaaaaaaaaaaaaah."


Aku menebas tubuh salah satu pahlawan.


"Lawan kita terlalu kuat apa kita mundur?"


"Bodoh, jika kita mundur kita tetap saja akan menerima hukuman mati, terus serang."


Venus benar-benar menjadikan mereka hanya sebagai alat.


Kami terus bertarung untuk beberapa saat, mereka melapisi pedang mereka dengan sihir dan mengayunkannya di udara, bilah angin berbentuk bulan sabit meluncur saat aku melompat untuk menghindarinya.


Aku muncul ke permukaan kembali untuk melihat pertarungan Kizuna, seluruh pahlawan yang dia hadapi telah mati sementara hanya si rambut merah yang masih bertahan.


Ekpresinya tampak terlihat terkejut, awalnya dia berpikir bahwa dia akan menang namun sebenarnya dari awal dia sudah kalah.


"Harusnya kau terus diam di tempatmu hingga paling tidak kau akan terus menjalani hidup mudah itu."


"Berisik kau, penghianat."


Si rambut merah menggunakan pijakan dahan untuk melompat di atas Kizuna, dia mengayunkan pedang secara diagonal dari atas hingga berbenturan keras dengan pedang Kizuna.

__ADS_1


Saat mereka terus bertarung di udara, Kizuna memperbanyak dirinya menjadi lima orang.


"Apa---"


Seluruh bayangan Kizuna menyerang dengan gaya tusukan hingga suruh pedang itu menusuk si rambut merah dari segala arah.


"Mustahil."


Darah menyembur dari mulutnya.


Seolah bayangan Kizuna itu memanglah bukanlah hanya sebatas ilusi. Si rambut merah berhenti bergerak yang mana menjadi akhir darinya untuk selama-lamanya.


Para roh yang mereka gunakan mulai berubah bentuk ke wujud mereka dan lalu berlarian setelah di suruh oleh Charlotte pergi.


Paula muncul dari belakangku untuk melihat Kizuna juga, dia memanggil namanya dan saat dia menoleh Kizuna hanya tersenyum selagi memiringkan kepalanya.


"Aah, aku sepertinya berlebihan."


Aku maupun Paula sama-sama bergumam di waktu bersamaan.


"Dia mengerikan."


"Ingatkan aku untuk tidak membuatnya marah."


"Aku juga."


Perlu beberapa saat untuk menunggu Kizuna membersihkan dirinya sebelum melanjutkan kembali perjalanan kami. Kami tidak bisa membuang waktu lagi jadi kami langsung menyelinap ke dalam kereta pedagang untuk masuk ke Tembok Keadilan Julius.

__ADS_1


Di perempatan kami turun dan mulai berlarian masuk ke dalam gang sepi tanpa diketahui oleh penjaga.


Di tengah kota ini ada sebuah bangunan luas berwarna putih yang sekelilingnya tertutup baik tanpa celah. Di mana di sanalah para elf itu berada.


__ADS_2