Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 27 : Seorang Dari Wilayah Negeri Tanah


__ADS_3

Mengendarai sosok naga Harty kami mendaratkan diri ke pesisir pantai di mana seorang wanita tampak terbaring di sana.


Tujuan kami adalah pulau di tengah laut di mana menjadi tempat tinggal para gadis kelinci ini, namun kami berhenti untuk melihat keadaan orang ini.


Valentine menggoyangkan tubuh wanita yang terbaring tersebut, wanita ini mungkin dikisaran 20 tahunan dengan rambut hitam panjang.


Ada yang unik dengan pakaiannya, berbeda dari tempat yang selama ini aku kunjungi yang mengambil gaya abad pertengahan, wanita di depanku mengenakan pakaian adat cina kuno yang disebut Hanfu dengan perpaduan putih untuk bagian atas dan bawah bagian biru.


Aku bertepuk tangan sekali seolah mengingat sesuatu.


"Mari beri nafas buatan untuknya, kurasa aku yang harus berkorban untuknya."


"Berkorban apanya? Itu jelas ciri khas pria yang akan mencuri kesucian seorang wanita," sela Rion dan akhirnya meminta Valentine untuk melakukannya.


Saat ujung bibir mereka akan bersentuhan wanita tak sadarkan diri itu membuka matanya lalu menyemburkan air ke wajah Valentine.


"Valentine hebat, bahkan sebelum bersentuhan dia sudah sadar," ucap Harty yang mana kami semua hanya menundukkan kepala kami frustasi.


Naga ini tidak bisa membaca situasi.


Wanita itu terkejut selagi mundur beberapa langkah.


Naina dan Salsa segera bertanya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Siapa namamu?"


"Namaku.... Huang Lien."


Dalam bahasa cina itu berarti bunga teratai, Huang mungkin marganya. Perbedaan jelas dari nama Eropa memang bisa dilihat dari sana khususnya soal penempatan nama keluarga.


Dia melirik ke arahku lalu menutupi mulutnya.


"Aku diculik pria bertopeng aneh."

__ADS_1


Yap, aku adalah pria aneh itu.


Valentine segera menyela pembicaraan.


"Kami menemukanmu tergeletak di sini, apa kau mengingat apa yang terjadi?"


"Hmm.. biar aku memikirkannya."


Beberapa menit kemudian.


"Itu..."


Beberapa jam kemudian.


Yos, mari tinggalkan orang yang hilang ingatan ini.


"Kami sibuk, kita pergi."


"Tunggu sebentar... kenapa kau begitu kejam? Paling tidak biarkan aku mengingatnya."


"Tujuan kami ke pulau di tengah laut itu, naiklah selagi memikirkannya dalam perjalanan."


"Baiklah, itu lebih baik dibandingkan ditinggalkan di sini sendirian... sendirian... sendirian"


Dia bahkan repot-repot menambahkan efek 'Sendirian' beberapa kali.


Pada akhirnya kami tiba di pulau seharusnya, di sini adalah sebuah perkampungan yang diisi oleh ras kelinci.


Naina dan Salsa berlari ke arah wanita tua yang mungkin neneknya.


"Kalian berdua syukurlah."


"Kami pulang."


Semua warga mengerumuni kami dan Naina menjelaskan.

__ADS_1


"Merekalah yang menyelamatkan kami berdua serta mengantarkan kami kemari. Entah itu Rion atau Harty keduanya kembali ke bentuk manusia sehingga semua orang langsung terkejut namun itu sesaat sampai akhirnya mereka menyambut kami dengan perayaan.


"Makan, aku suka makan."


"Sebisa mungkin kau harus menahannya, terlebih kau menyolong makananku," teriakku pada Harty.


"Di dalam kamusku tidak ada kata menahan diri dan makan secara jujur"


"Biar aku menuliskan untukmu dengan tinta ini."


"Hentikan.. menjauhlah dariku."


Aku mengejar Harty sampai dia bersembunyi di belakang Rion, dia mengambil dua dada Rion yang melimpah dari belakang.


"Serangan dada."


Naga ini saraf.


"Fufu sudah kuduga kelemahanmu adalah ini."


"Semua pria pasti akan lemah dengan itu."


"Aku percaya diri dengan milikku."


Aku menghela nafas panjang lalu duduk di kursiku selagi menikmati jus buah tanpa membuka topengku, Lien yang duduk di sampingku berkata selagi berdiri.


"Aku ingat aku berasal dari wilayah negeri tanah."


"Kami ingin tahu kenapa kau terbaring di pasir?"


"Itu.."


"Lupakan saja."


Aku menjatuhkan kepalaku di meja.

__ADS_1


__ADS_2