
Di pinggir danau setelah beristirahat Roxy melempar batu ke tengahnya, menurut Valentine di sinilah raja itu berada karena itulah kami lebih waspada dari sebelumnya.
Lemparan pertama tidak membuahkan hasil.
"Aku akan melempar batu yang lebih berat," katanya.
Roxy mengambil batu paling besar lalu dengan sedikit teriakan lemparannya mendarat tepat di bagian tengah menciptakan riak-riak air ke permukaannya.
Dari dalam danau itu sosok kepala naga mulai memperlihatkan bentuknya bukan hanya satu kepala melainkan sembilan kepala sekaligus.
Aku tidak mungkin tidak mengenalinya,.dia seekor Hydra yang masing-masing kepala menembakan racun dan api secara bersamaan.
"Semuanya serang dengan sihir."
"Baik."
Ketika kami menyerang, Hydra pun membalas.
Aku menciptakan dinding air untuk menahan serangan yang akan melukai semua orang, aku telah mendapatkan kekuatan sihir dunia air.
Bertarung di tempat seperti ini akan menguntungkanku juga.
"Kita harus mengeluarkan Hydra dari dalam air agar kita bisa menyerangnya serempak," ucap Amarzuki.
Jika itu maunya aku memanggil Harty.
"Ada apa Lion?"
"Perubahan rencana, seret naga itu keluar dari air."
"Aku?"
Aku menarik kerah baju Harty lalu melemparnya jauh ke belakang Hydra.
"Uwaaahh.... aku terbang."
Harty mendarat di tempat yang kuinginkan.
Amarzuki maupun Roxy menatapku dengan wajah bermasalah.
__ADS_1
"Dasar sadis."
Dia seekor naga, dia tidak akan mati hanya dengan sedikit lemparan. Valentine yang terbang di atasku membuat sulur dari bunga mawarnya lalu membantu Harty untuk menyeret Hydra ke tepian.
Dorongan Harty sangat kuat.
Roxy berkata.
"Semuanya menghindar."
Harty tanpa segan melemparkannya ke arah kami walaupun dia berada dalam air. Hydra tersungkur ke tanah berusaha untuk bangkit.
Di saat itu kami mulai menyerangnya bersama-sama dengan pedang maupun sihir, aku menebas satu kepalanya disusul oleh salah satu penjaga yang bisa menggunakan sihir api.
Setiap kepala yang dipenggal harus segera dibakar dengan api dengan begitu Hydra tidak bisa menumbuhkannya lagi sehingga kami yang akan menang.
Roxy melompat ke udara dan lalu menancapkan pedangnya tepat di bagian jantungnya.
"Tidurlah untuk selamanya, Thunder Arc."
Dari langit sebuah petir dijatuhkan menabrak sang naga maupun Roxy sendiri, karena itu sihirnya petir tidak melukainya.
"Pakaian dalamku basah."
"Kerja bagus."
"Kerja bagus jidatmu," Amarzuki maupun Karl berkata di waktu bersamaan.
Harty menciptakan api di sekujur tubuhnya untuk mengeringkan pakaiannya hingga pakaiannya terbakar.
"Kerja bagus."
"Kerja bagus jidatmu," sekarang aku yang berkata itu kepada keduanya.
Aku melepaskan pakaianku untuk kuberikan pada Harty, tubuhku cukup terlatih hingga kau bisa melihat otot di sana.
Roxy maupun kesatria wanita berkata.
"Kerja bagus."
__ADS_1
Rion yang kembali ke wujud elfnya pun menyela.
"Lion pakailah pakaianku juga."
Aku tentu segera menghentikannya hingga dia mengembungkan pipinya dan membuat para pria kecewa. Untuk sekarang mari kembali ke benteng.
Bulan merah yang sebelumnya telihat kini telah menghilang seutuhnya, dengan ini juga bahwa Faktor Bencana sudah berakhir.
Harty mengembalikan pakaianku.
"Pakaianmu kembali?"
"Aku membuat pakaian ini dari sihir."
"Ada sihir seperti itu juga."
"Sihir tidak memiliki batasan apapun."
"Aku mengerti."
Harty dan Valentine duduk di kuda yang sama sementara aku berpasangan dengan Rion yang bersemangat memegangi tali pengekangnya.
Aku harus melingkarkan tanganku di pinggangnya agar tidak terjatuh.
"Fufu Lion sedang mencuri kesempatan dengan menyentuh tubuhku, kau bisa melakukannya nanti loh."
Dia masih berusaha menggodaku.
Aku mengubah topik pembicaraan.
"Menurutmu apa hutan ini akan menciptakan faktor bencana lagi?"
"Tentu saja, hutan ini memiliki kemampuan untuk menyerap mana dari udara yang nantinya setelah terkumpul selama lima tahun itu akan dilepaskan dan diambil oleh para monster maupun Undead yang tinggal di tempat ini kecuali kalau kita menghancurkan hutannya, kukira naga di sana bisa menghancurkannya dengan mudah."
"Begitu."
Memang benar jika tidak ada hutan ini maka faktor bencana tidak akan terjadi lagi tapi apa itu pilihan baik? Para petualang menggantungkan hidupnya dari berburu monster jika tidak ada hutan ini maka mereka akan kehilangan mata pencarian dan mungkin saja beralih profesi jadi bandit atau yang lainnya.
Karena itu aku memutuskan untuk membiarkan semuanya seperti ini saja lagipula ke depannya penjaga benteng maupun petualang akan berkerja sama untuk menghentikannya.
__ADS_1