
Semenjak benua titan jatuh pada manusia, kehidupan di sini tampak seperti biasanya, orang-orang hidup sebagai mestinya meskipun sebenarnya tanah ini bukan milik mereka.
Rion menghela nafas panjang selagi memberikan sejumlah uang pada receptionis penginapan yang dikunjunginya.
Sekarang dia bukan lagi seorang dewi semua ini bukan urusannya, membuang pemikiran tersebut dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang empuk.
Yang dia khawatirkan sekarang hanya dua, temannya yang entah belum diketahui keberadaannya dan sosok Nightmare yang mungkin akan menghancurkan dunia ini sebelum memikirkan lebih jauh dia hanya harus bertambah kuat.
Menutup kedua matanya, pagi berikutnya Rion kembali membuka bisnisnya, berbeda dari sebelumnya pengunjungnya bertambah banyak.
Hal yang membuatnya bingung adalah bahwa jumlah pria yang berkunjung padanya lebih banyak dari perempuan, kenapa? Mungkin karena dadanya.
Rion menggoyangkan dadanya dan entah kenapa banyak orang memberikan uang tanpa perlu diramal.
"Ini kemenangan manis," ucap Rion tersenyum bahagia.
Wanita yang sebelumnya menjadi pelanggan pertama Rion muncul selagi menangis. Sungguh dalam sekejap kesenangan Rion berubah menjadi suram juga.
"Dia pria jahat, dia meniduri banyak wanita dan bersenang-senang setiap harinya, uang yang kuberikan padanya dia gunakan untuk pergi ke rumah bordil."
Mendengar itu ekpresi Rion semakin sulit, dia hanya mengatakan.
"Aku mengerti, kasihan sekali," setiap saat wanita itu berhenti berbicara.
"Kuharap dia mati saja."
__ADS_1
Mendengar perkataan itu, Rion akhirnya menyadari sesuatu hal penting. Dia harus mengumpulkan dosa mematikan dan dia berfikir bahwa pria yang dimaksud wanita ini adalah seseorang yang pas untuk mencapai tujuannya.
Aku seorang dewi apa bisa membunuh seseorang, tidak.. aku bukan dewi, aku hanya elf biasa sekarang.
Meski dosa nafsu tidak cocok untuk bertarung namun setiap dosa memiliki peranan penting satu sama lain dan jika satu saja tidak terpenuhi maka kekuatan sesungguhnya tidak akan keluar.
Wanita itu mengucapkan terima kasih pada Rion dengan memberikan satu koin emas namun Rion menolak dan hanya meminta satu koin perak seperti biasanya.
"Mulai sekarang carilah pasangan yang baik," atas pernyataan Rion wanita itu mengangguk kecil selagi tersenyum dengan perasaan sedikit lebih baik.
Malam hari sebelum kepergian Rion dari kota, seorang pria tampak terhuyung-huyung di jalanan sepi dengan sebotol anggur di tangannya.
Menyadari ada seorang yang terjatuh di depannya dia bergegas untuk menolongnya, bukan karena pria itu punya hati baik akan tetapi dia adalah pria yang tidak bisa mengabaikan seorang gadis cantik di depannya.
Aroma harum dari tubuhnya sangatlah memikat tak terkecuali jika seseorang itu wanita.
"Kamu baik-baik saja," pria itu bertanya selagi mengusap air liur di mulutnya.
"Kakiku terkilir, padahal aku harus pulang sekarang."
"Aku akan mengantarmu."
"Kamu mau? Syukurlah, aku tinggal sendirian di ujung gang itu."
Gadis itu menunjuk ke sebuah gang sepi yang mana membuat pria itu lebih bersemangat dari sebelumnya.
__ADS_1
Dia dengan hati-hati membawa gadis tersebut ketempat yang dia minta sebelum melewati gang dia lebih memilih untuk menjatuhkan wanita itu ke bawah.
"Ah ada apa?"
"Sebelum kau pulang mari bersenang-senang sebentar."
Gadis itu menyeringai senang, saat pria itu menaiki tubuhnya hendak menyentuh organ sensitifnya, yang dia dapatkan bukanlah sebuah kepuasan melainkan sesuatu seperti rasa dingin yang menusuk, rasa dingin itu berubah menjadi rasa panas, seiring waktu semakin panas dan panas.
Dia akhirnya menyadari sesuatu hal penting, sebuah belati telah tertancap di perutnya.
Saat pria itu tak bisa berkata apapun, sosok gadis berambut perak menendang perutnya hingga terbaring di lantai.
"Guakh."
Darah menyembur dari mulutnya, rasa sakit yang tak tertahankan membuat pria itu hanya bisa mengerang kesakitan.
"Maaf karena aku harus membunuhmu, tapi kurasa tidak akan ada orang yang bersedih untukmu."
"Mustahil.. siapa kau sebenarnya?"
Sebelum pertanyaan darinya terjawab pria itu telah menghembuskan nafas terakhirnya, gadis perak mulai membuat lingkaran sihir dari darah pria tersebut.
Dia melantunkan mantra ketika lingkaran tersebut mulai bersinar sementara dirinya berdiri di tengahnya.
Ia sekali lagi melihat tubuh pria tak bernyawa itu lalu mengenakan jubah sebelum pergi, ini semua bukan sekedar mengabulkan permintaan seorang wanita yang bersedih, ini semua demi mencegah bencana yang lebih besar terjadi di kemudian hari.
__ADS_1