Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 322 : Kenangan Dalam Salju


__ADS_3

Musim dingin di dunia bawah adalah musim yang paling dingin yang bisa dirasakan penduduknya, kendati demikian Solomon terbaring di atasnya dengan darah mengalir dari hidungnya.


Sudah hal wajar iblis yang lemah akan tertindas oleh iblis yang lebih kuat tapi bagi Solomon dia memilih untuk bertarung hingga dia berakhir seperti ini.


Di sampingnya berjongkok Hime dengan rasa khawatir.


"Harusnya kau tidak melawan mereka, tak masalah jika mereka melecehkanku."


"Aku jelas tidak akan membiarkannya."


Di saat yang sama Raiku baru tiba dengan nafas tersenggal-senggal karena tergesa-gesa.


"Solomon, kau baik-baik saja?"


"Tentu saja, aku ini kuat loh."


Raiku mengusap air matanya, bagaimanapun setiap tubuh Solomon tidak pada tempatnya, tangan dan kakinya terpisah sementara organ dalamnya telah hancur, mereka hanya bersyukur bahwa kepala Solomon tidak terpenggal.


Raiku berteriak.


"Akan kubunuh mereka semua."


"Tunggu Raiku," teriak Hime namun sudah jelas bahwa dia tak dapat menghentikannya.


Raiku mengambil sebuah katana di kediamannya sebelum pergi ke dalam bar yang diisi oleh para iblis yang minum-minum, tak perlu waktu untuknya untuk mengetahui dalang dari ini semua.


Karena sejak awal mereka selalu mengganggu ketiganya.

__ADS_1


Raiku berjalan dengan santai selagi menyembunyikan pedangnya di belakang, dia tertuju pada lima orang yang duduk di dekat jendela, tanpa sepetahuan mereka pedang tajam diayunkan memotong salah satunya tepat segaris mata.


Iblis itu berteriak-teriak dengan potongan otak yang terlihat jelas sementara rekannya terdiam bersamaan orang-orang yang melarikan diri.


Tebasan kedua memenggal kepalanya jatuh.


"Ka-kau?"


"Kalian sudah menganggu temanku, sekarang matilah."


"Gaaaaaaaah."


Solomon yang telah menyatukan tubuhnya berlari bersama Hime untuk menyusul Raiku, mereka membuka pintu bar dan melihat bagaimana seluruh mayat yang mereka kenal tergeletak dengan mengerikan.


Bola mata serta cairan otak memenuhi lantai bersamaan dari bau amis khas darah, Raiku sedang berdiri di sana dengan memegang potongan kepala di tangan kiri sementara tangan lagi adalah sebuah pedang.


"Raiku, kau?"


"Pergilah dari sini sebelum semua orang menangkapmu," ucap Solomon.


Hime hanya menutup mulutnya dengan wajah menangis meski begitu dia tidak berbuat banyak, saat mereka berusaha melarikan diri para penjaga kerajaan telah menangkap mereka.


Solomon dan Hime hanya melihat kepergian Raiku dari tempatnya berdiri.


Hime berkata.


"Apa dia akan dibunuh?"

__ADS_1


"Lebih buruk dari itu dia akan dipenjara dan disiksa seumur hidupnya."


"Tapi merekalah yang jahat."


"Hirarki terkutuk ini... Hime jadilah kaisar dan buat negara yang lebih baik."


"Solomon."


Solomon hanya berbalik selagi membuang emosinya, semenjak itu dia terus mengurung diri di perpustakaan belajar apapun yang bisa dilakukan dan membuat ekpresimen.


Selama satu tahun dia akhirnya belajar dari naskah kuno yang diambilnya dari suatu tempat dan menemukan sesuatu yang luar biasa, Hime yang terus datang untuk memeriksanya tampak terkejut saat Solomon tidak ada di ruangannya.


Ia bergegas pergi ke hutan dan menemukan sesuatu yang aneh.


Di depan Solomon delapan gerbang telah muncul.


"Apa itu?"


"Tujuh diantaranya aku menamakannya gerbang Solomon, sementara satu lagi akan kuberikan padamu... ini adalah gerbang yang bisa menghubungkan dunia kita ke dunia manusia."


"Mustahil?"


"Aku mempelajari naskah kuno ini."


"Tapi bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Hime kebingungan.


"Apa kau kenal Clarisa Marie? aku mengambilnya dari rumah yang sudah ditinggalkan mereka"

__ADS_1


"Ah. setengah elf dan setengah iblis.. ayahnya bilang bahwa dia pernah ke dunia manusia namun tidak ada yang percaya."


"Aku mempercayainya dan sekarang lihatlah ini.. dengan ini kita bisa pergi dari sini."


__ADS_2