Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 123 : Hutan Roh Kematian


__ADS_3

Matahari terbit dengan indahnya memberikan kesegaran saat cahayanya menimpa wajahku, dengan meregangkan tanganku aku bisa melemaskan otot-ototku yang terasa kaku dan melihat bahwa Kizuna sedang membuat sesuatu untuk sarapan kami.


Aku sedikit mengintip apa yang dia buat dan itu jelas makanan yang sangat ekstrim.


Paula pun bangun dan menunjukan reaksi yang sama denganku.


"Ka-kau memanggang tarantula berukuran besar," ucap Paula.


"Kenapa, rasanya juga enak? Aku juga akan membuat makanan dari serangga lainnya, seperti jangkrik, belalang, owh ada juga ulat kayu yang gemuk-gemuk."


Aku rasanya mual.


"Penampilan mereka seperti ini tapi rasanya akan enak saat sudah diolahnya."


Aku menyentuh pundak Paula.


"Kita tidak bisa menolaknya."


Charlotte muncul dengan buah-buahan di tangannya.


Ah, dia memilih untuk memakannya sendirian agar tidak mencoba apapun yang dimasak Kizuna. Betapa curangnya itu.


Apa seorang ahli masak selalu membuat sesuatu yang berbeda? Kurasa begitu.


Seusai matang ujian kami telah dimulai, aku mengambil tarantula yang tubuhnya masih utuh lalu menggigitnya dari belakang.


Aneh bahwa terdengar bunyi renyah saat memakannya.


Namun dibanding itu rasanya benar-benar enak.


Paula berkata.

__ADS_1


"Ryker?"


"Nah sekarang giliranmu."


Kizuna mendorong tarantula padanya dan dia berteriak.


"Tidaaaaak! Hentikan."


"Coba dulu, kau akan menyukainya... Di Kamboja dan Venezuela mereka menjadikan ini makanan favorit."


"Aku tinggal di Inggris."


"Ayolah... di Jepang aku juga terkadang mencobanya."


"Tidak."


Paula memakannya dan bergidik setelahnya.


Dia masih merasakan perasaan aneh setelah memakannya.


"Selanjutnya dengan belalang," lanjutnya.


Aku yakin bahwa Kizuna sedang mempermainkan kami, karena dia memakannya juga aku tidak bisa mengeluh karenanya, kecuali berusaha untuk menghabiskan semua makanan yang dibuatnya.


Hutan roh kematian memiliki aura yang sama seperti namanya, di sekitar pinggirnya terdapat kabut hitam yang menyelimutinya seolah menambah ketakutan bagi yang memasukinya.


Aku tidak heran jika sebuah tengkorak keluar dari sana lalu menyergap kami untuk memakan otak kami.


Itu hanya imajinasiku jadi lupakan.


Charlotte membuat persiapan dan ia menciptakan sebuah gelembung yang bisa kami masuki bersama.

__ADS_1


"Persiapannya sudah selesai jadi mari bergegas."


Kami hanya menurut dan terus maju ke depan, beberapa tengkorak hewan bahkan manusia bisa dengan mudah ditemukan namun untuk tumbuhan sendiri tidak mengalami hal sama malah terlihat lebih subur dari seharusnya.


"Apa bagi pohon ini orang-orang yang mati seperti sebuah pupuk?"


"Itu benar."


Tak kusangka Charlotte akan membalas perkataan Paula secara cepat tanpa menyembunyikan sedikitpun kebenaran.


Kami tidak jauh-jauh datang kemari untuk menjadi pupuk.


Kami berjalan semakin jauh dan bisa kulihat seorang wanita dengan gaun pemakaman duduk di tunggul pohon yang sudah ditebang.


"Oh ternyata Charlotte rupanya?'


"Lama tak bertemu Symponia, kau masih tidak berubah."


"Iya, kau juga sama."


Symponia tersenyum menunjukkan bibir yang dilukis dengan warna hitam. rambutnya hitam panjang kecuali warna kulitnya yang putih pucat semua ornamen itu berwarna serupa.


"Kau tidak mungkin datang-datang jauh ke sini untuk hanya menyapa bukan? Apa yang kau inginkan dariku?"


"Aku ingin kau membantu kami dengan mengikat kontrak dengan gadis ini dan menjadi sebuah senjatanya."


"Senjata? Ah, maksudmu Artefak suci... kau tahu aku bukankah Artefak suci, aku lebih seperti racun untuk dunia ini.. kau sebaiknya meminta roh lain."


"Tidak, bagiku kau adalah pilihan tepat... bagaimanapun lawan yang harus kami lawan bukankah orang biasa."


"Aku mendengarkan."

__ADS_1


__ADS_2