Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 95 : Mengalahkan Raja Iblis


__ADS_3

Aku menyerang raja iblis tanpa menahan diri, kuayunkan pedang dari segala arah yang ditangkisnya kemudian menggunakan ayunan miliknya untuk membalas.


Dentrang dentrang dentrang dentrang dentrang.


Suara memekakkan telinga selalu menjadi hal yang bisa didengar di sini.


"Kau jelas sudah banyak bertarung, baiklah... jika kau ingin bertarung maka akan kulayani dengan serius...Over Hill."


Pedang yang digunakan raja iblis terselimuti api merah membara, aku juga melakukan hal sama hingga saat berbenturan itu menghasilkan ledakan api.


Kami mendorong satu sama lain sebelum kembali mengirimkan tebasan.


Raja iblis mengirim tebasan menyamping dan aku menahannya selagi memutarnya ke arah lain hingga percikan menjalar ke udara.


Kukirim gaya tusukan mengincar bagian jantung yang mana ditahan dengan baik oleh punggung pedangnya.


"Kau bocah merepotkan... aaah."


Aku terlempar ke atas langit, di saat yang sama raja iblis mengirimkan bola api raksasa melesat ke arahku.


Kugunakan sihir pelindung kendati demikian hantamannya masih bisa membuatku menukik jatuh ke tanah.


"Guakh."


"Lion masih memiliki tubuh manusia karena itu kau tidak akan sepenuhnya bisa menahannya."


"Jangan mengatakan bahwa jadi manusia adalah kelemahan."


"Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan," tambah Rion sebelum aku menembakan bola api, air, angin dan tanah secara bersamaan.


Raja iblis menyeringai dan dengan pedangnya dia menebas semuanya dengan mudah.


"Kau bisa menggunakan empat elemen sihir, tapi itu tidak bekerja denganku... pedang ini mampu memotong apapun termasuk sihir."

__ADS_1


Memang benar raja iblis sangat kuat akan tetapi selama ini aku juga telah berjuang keras karenanya tidak ada alasan untuk takut pada mereka.


Aku bangkit selagi mengangkat katanaku sebelum melesat maju, tubuhku langsung di selimuti petir hitam.


"Apa itu?"


Dengan cepat aku menghantamkan pedangku menabrak raja iblis dari depan hingga menghasilkan kilatan cahaya yang menyilaukan.


"Kau? Sebenarnya kau siapa? Kekuatanmu tidak normal."


"Bagaimana mengatakannya, aku hanya manusia."


"Mustahil."


Pedang raja iblis hancur berkeping-keping dan aku menendangnya ke atas. Saat dia jatuh ke bawah aku memasukan pedangku ke dalam sarungnya


Waktu disekeliling kami terasa berhenti.


"Tebasan keputusasaan."


Pemimpinnya sudah dikalahkan bagaimana dengan pasukannya, Gracia terlihat masih bertarung dengan Minotaurus dia meluak-liuk untuk memberikan serangan atas.


"Sial... kurasa sudah terlalu lama aku tidak bertarung seperti ini, Lion bantu aku."


"Aku sedang memikirkan apa yang harus kuminta nanti."


"Kau?"


Gracia melompat ke atas kepala Minotaurus lalu menancapkan pedangnya di kepalanya hingga dia tumbang ke tanah.


Walau berhasil sepertinya dia sama sekali tidak senang, itu terlihat saat dia menatapku dengan tatapan bermasalah.


Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?

__ADS_1


Di ruangan pribadi Gracia tampak memerah selagi memegangi ujung gaun pelayannya.


"Selamat datang tuan Lion," dia terlihat imut bagiku. Sebagai hadiah aku memintanya untuk melakukan ini.


"Seharian ini aku memintamu untuk melayaniku jadi mohon bantuannya."


"Hiii... menyebalkan sekali, jadi apa yang harus kulakukan?"


"Membuatkanku teh dan makanan enak."


"Ada lagi?"


"Tidak ada."


Keheningan terasa di antara kami berdua.


"Tunggu, kenapa kau marah... tolong jauhkan pedangmu."


Selagi mundur aku bisa mendengar bisik-bisik dari samping pintu kamar. Rion, Isabela dan Ryker berada di sana tepatnya.


"Dasar pria tak peka."


"Ma, ma, aku tidak menyangka Lion sangat populer pantas saja dewiku menaruh minat padanya."


"Sepertinya aku juga sedikit tertarik."


Ketika aku sadar aku telah diterbangkan keluar bangunan dengan ledakan selagi berteriak.


"Apa yang salah?"


"Berisik, belajarlah untuk jadi pria dewasa."


"Eh."

__ADS_1


Aku tidak tahu tapi kurasa semuanya berjalan lancar.


__ADS_2