
Vivi adalah rekanku saat berada di pelatihan militer, dulu dia orang yang baik sampai suatu saat dia sengaja membunuh peserta pelatihan yang lain.
Aku mendesaknya untuk mengatakan alasannya dan dia bilang 'Merekalah yang selalu membullyku' setelahnya dia di penjara dan sekarang aku bertemu dengannya lagi di sini.
Vivi menangkap kakiku saat aku melompat lalu melemparkanku menabrak tembok.
"Guakh..."
Darah keluar dari mulutku.
"Aku tidak ingin membunuhmu, lebih baik kau menyerah Vivi."
"Menyerah haha itu mustahil, kau tahu saat aku membunuh mereka itu adalah sesuatu yang menyenangkan... mereka berteriak meminta pengampunan namun aku tidak membiarkannya hingga menyiksa mereka, penderitaan itu, sangat indah."
Aku bangkit dengan masih memegang kedua pedang di tanganku.
"Ada apa denganmu? Bukannya kau membencinya, tapi kau malah menjadi seperti mereka sekarang."
"Saat itu aku salah, lebih baik aku yang melakukannya dibanding mereka yang melakukannya."
"Kau membuatku kecewa Vivi, kau sudah rusak."
Aku sama sekali tidak menyalahkannya atas pembunuhan yang dilakukannya bagiku dia hanya sedang membela diri.
Dibanding bunuh diri, orang yang di bully lebih baik membunuh. Karena pada dasarnya entah hukum atau hakim akan selalu bisa dibeli dengan uang.
Di mana pun kau keberadaan itulah keadilan di dunia ini.
Dia berteriak.
"Kaulah yang rusak, kau masih memegang keadilan bodohmu itu sampai sekarang.. aku tahu kau menjadi pengkhianat untuk merubah dunia ini bukan."
"Aaah, aku pernah bilang suatu hari desaku diserang monster hingga kedua orang tuaku terbunuh, saat itulah aku ingin menjadi seseorang yang bisa melindungi semua orang yang berharga untukku, tapi sekarang aku ingin melindungi semua orang di dunia ini."
"Berisik, kau hanya orang naif."
Vivi berlari ke arahku layaknya hewan buas dan aku mengayunkan pedangku hingga tangan yang memegang gada itu terpotong rapih.
__ADS_1
Darah menyembur dari lengannya dengan bunyi memuakkan.
"Aaaaaaaah, tanganku."
"Selamat tinggal Vivi, kurasa kau sudah kehilangan keadilanmu saat kau memutuskan untuk membunuh."
"Tidak."
Aku menebasnya hingga tubuhnya menjadi dua bagian, memuntahkan isi perutnya keluar hingga memenuhi lantai dengan aroma darah.
Aku menggigit bibirku lalu berlari ke tempat lain.
Tepat saat itu seorang elf wanita yang telanjang keluar dari pintu dan berlari ke arahku untuk memelukku.
"Jangan lari, mari bersenang-senang."
Salah satu pria menyusul namun kata-katanya terhenti saat melihatku.
"Aku--"
SRAK.
"Selamatkan aku."
"Tenanglah kau sudah aman."
Aku melepaskan pakaianku lalu memberikannya padanya.
"Pakailah."
"Terima kasih."
Beberapa penjaga mulai bermunculan dan aku menebas mereka tanpa ampun, kupotong-potong seluruh tubuhnya bagaikan sebuah kertas yang berterbangan di udara. Tangan, kaki, organ mereka semuanya berserakan.
Satu kepala menggelinding ke kakiku dan aku menginjaknya hingga hancur, bola mata memantul ke tempat lain dan satu orang lagi tampak syok melihatnya.
Dia merangkak ke dinding terdekat selagi berteriak.
__ADS_1
"Jangan bunuh aku, jangan, jangan."
Aku membelahnya menjadi dua bagian.
Sementara elf yang kuselamatkan hanya memalingkan wajahnya tak mampu melihat.
Kurasa tidak ada lagi penjaga atau elf di sini.
"Mari pergi."
"Baik."
Aku menggendongnya setelah menyarungkan pedangku kembali, kulihat Kizuna dan Paula telah membawa semua para elf ke lokasi yang kuminta.
Mereka membunuh setiap penjaga yang mendekat, kurasa ini sudah waktunya pergi.
Aku bisa merasakan bahwa para pahlawan telah datang kemari, aku melompat jatuh ke bawah tepat di depan keduanya.
"Kau muncul dengan telanjang dada, bukannya itu terlalu gila."
Charlotte berbicara dengan nada biasanya.
"Berisik."
Aku menurunkan elf tersebut dan dia bergabung dengan yang lainnya.
Kizuna mengarahkan tangannya untuk menciptakan lingkaran sihir raksasa.
"Hellfire."
Ledakan terjadi.
Dia melanjutkan dengan nada datar.
"Aku inginnya membunuh kalian semua sayangnya aku tidak punya waktu untuk melakukannya, aku akan biarkan para Titan yang melakukannya jadi nikmatilah kehidupan yang menyedihkan kalian."
Paula menarik tangan Kizuna dan bergegas mendekat ke arahku, bersamaan itu sihir teleportasi dengan cangkupan luas diaktifkan dan kami semua termasuk para elf menghilang dalam sekejap.
__ADS_1
Aku bisa membayangkan wajah pahlawan yang frustasi dengan ini semua.