Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 350 : Pembantaian Di Pulau Tengah Laut


__ADS_3

Itu adalah sebuah hutan rimbun dimana Solomon hanya bersandar di pohon selagi membelakangi Nightmare yang tengah mandi di sebuah kolam kecil.


"Kau yakin tidak ingin mandi denganku?"


"Aku tidak tertarik dengan hal semacam itu."


"Masih dingin seperti biasanya."


Solomon mendecapkan lidahnya lalu melanjutkan.


"Setelah kau pergi ke sana apa yang akan kau lakukan?"


Keheningan sesaat terasa di keduanya.


"Aku ingin menjadi dewi lalu memutar waktu dunia dan kembali ke waktu dimana aku hidup bersama ayah dan ibuku."


"Kau?"


"Ada apa?"


"Bukan apa-apa, aku sudah membantumu sekarang aku akan pergi."


"Pergi?"


"Ada seseorang yang ingin kutemui."


Solomon hanya berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Apapun itu semoga kau mendapatkan apa yang kau inginkan," diam-diam Solomon mengatakan hal itu dengan suara pelan baginya entah dirinya ataupun Nightmare sedikit memiliki kemiripan.

__ADS_1


Solomon telah sampai di sebuah kota pertama dari tujuannya, itu adalah sebuah pelabuhan yang menghubungkan beberapa pulau lainnya dari sini dia akan pergi ke pulau di tengah laut.


Saat dia melangkahkan kakinya pemandangan yang membuatnya mengingat masa lalu tampak di depan matanya.


Itu adalah saat beberapa anak besar sedang menindas seseorang yang lemah, di dunia bawah ia sering mengalami hal itu bagaimana dia dipukuli dan tubuhnya dipotong-potong adalah sesuatu yang sering terjadi padanya.


Memikirkannya membuat dirinya muak.


Bagi kebanyakan orang lain orang yang menindas orang lemah adalah salah tapi bagi Solomon entah itu pelaku atau korban sama-sama bersalah.


Jika korban bisa membela dirinya mereka akan berhenti menggangunya. Solomon mengarahkan tangannya ke arah kumpulan orang tersebut.


Bersama itu kepala serta tubuh mereka meledak dalam sekejap, darah kental berbau rasa amis menempel di setiap dinding menciptakan nuansa mengerikan dari karya seni yang penuh rasa ketakutan.


Orang-orang yang melihatnya tampak memucat gemetaran, mereka melihat bagaimana anak-anak itu berkelahi tapi tidak ada siapapun yang mencoba melerainya. Itu seolah mereka tidak ingin terlibat sesuatu yang merepotkan.


Suasana yang sebelumnya ramai kini telah menjadi sesuatu yang mencekam.


"Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku."


Meminta pada iblis hanya mendatangkan kemalangan, bahkan jika seseorang itu berusaha untuk hidup mereka yang menyedihkan iblis tak akan mengabulkannya.


Pedang Solomon mengoyak tubuhnya membelahnya menjadi dua bagian, dia dengan santai menginjak darah yang menggenang di bawah sepatunya sebelum naik ke dalam perahu yang dijalankan oleh dirinya sendiri.


Tujuan akhir darinya merupakan sebuah pulau ditengah laut di mana para titan masih hidup, di masa lalu dia pernah di bawa kemari dan mendapatkan pelajaran bagaimana cara merubah manusia menjadi titan.


Tepat saat kaki Solomon menginjak pulau puluhan titan menyerbu ke arahnya secara serempak.


"Dasar bodoh, harusnya kalian diam saja," kata Solomon dingin.

__ADS_1


Tebasan dari pedangnya memotong mereka dengan mudah. Dari belakang orang yang dibunuhnya tampak seorang wanita berdiri selagi mengepalkan tangannya.


Ia memiliki rambut hitam panjang bergelombang serta kulit sedikit gelap.


"Solomon, apa yang kau lakukan?"


"Lama tak bertemu Julie, atau harus kupanggil guru."


"Kau bukan lagi muridku."


Di belakang Julie tampak beberapa anak sedang bersembunyi, ada seorang wanita di sana yang melindungi mereka.


"Bawa mereka pergi ke tempat Lion, aku akan menahannya sebisa mungkin di sini."


"Jangan khawatir aku tidak akan membunuh kalian, berikan benda itu padaku maka aku akan pergi."


"Tidak akan, jika aku berikan maka kau akan kembali membuat kekacauan di benua ini."


"Itulah yang kuinginkan."


"Cepat pergi."


"Baik."


Julie mengikat rambutnya sebelum mengirim tinju ke arah Solomon.


"Aku akan mengalahkan dirimu di sini dan menembus kesalahanku yang telah membawamu kemari."


"Aku meragukan itu."

__ADS_1


__ADS_2