
Ketika para petualang mulai berlarian keluar dungeon aku dan Harty masih berada di dalam memanggang makanan yang kami bawa dari luar.
Aku tertarik dengan roti serta susu sementara Harty masih setia dengan daging monster yang sebelumnya dia kalahkan.
Dungeon pada dasarnya merupakan tanggung jawab guild namun di sini berbeda, kami bisa menjual ini tanpa persetujuan mereka terlebih dahulu.
"Bagaimana dengan perburuan kita?"
"Itu sukses, tapi sulit untuk mengetahui bahwa harganya mahal atau tidak, aku hanya mengambil yang terlihat indah bagiku."
"Jadi begitu."
"kuharap kita bisa dapat sekitar 500 koin emas atau lebih dari dungeon ini."
Melanjutkan perjalanan, kami turun lebih ke bawah.
Ada seekor kepiting raksasa yang telah menunggu kami di sana dengan mengarahkan tanganku sebuah lingkaran sihir tercipta.
"Water Shooter."
Aku menembaknya tepat di kepala dan tumbang.
"Aku suka kepiting, akan kusimpan nanti."
Membiarkan tubuh monster untuk diurus oleh Harty aku turun ke lantai paling bawah, di sana aku menemukan bebatuan mirip kristal yang memancarkan sinar kehijauan.
Ini jelas pasti mahal, aku menghancurkan semuanya dan mengambil apapun yang ada.
Tanpa sadar aku tertawa terbahak-bahak.
Harty yang memperhatikan dari belakang menurunkan bahunya lemas.
"Mirip sekali seperti penjahat," katanya demikian.
Setelah berkeliling untuk menjual hasil perburuan ke beberapa guild aku kembali ke ibukota negeri angin. Agar tidak membuat kegemparan aku meminta Harty dalam wujud naganya mendaratkan dirinya di depan gerbang kota sebelum berubah wujud menjadi bentuk manusianya.
"Aku lelah sekali."
Kami sudah pergi kemana saja, tidak aneh dia merasakan hal demikian, bersamaan matahari yang perlahan tenggelam aku bisa melihat Rion ataupun Valentine duduk di tepi jalan selagi memegangi lutut mereka.
"Kerja bagus kalian berdua."
"Bagaimana?" yang menjawab pertanyaan Rion adalah Harty.
__ADS_1
"Kami mendapatkan 10 juta koin emas."
"Sebanyak itu?"
"Untuk sekarang kita bisa bersantai."
Valentine maupun Rion menghembuskan nafas lega.
Beberapa minggu berikutnya seorang pangeran bersama pengawalnya datang menghampiriku yang sedang menggoreng gorengan.
Pangeran itu bertubuh gemuk serta pendek dan hanya ada beberapa helai rambut yang ditutupi dengan mahkota kecil.
"Kata Jones, kau juga menginginkan budak itu."
"Woyah.... apa baru sekarang kau tahu?"
"Aku sedang sibuk karena itu baru sekarang datang kemari, jadi pangeran sangat repot kau tahu."
Aku bisa melihatnya.
"Nah Lion... aku ingin pergi makan bersama yang lainnya."
Wajah pangeran itu memucat.
"Siapa yang kau panggil budak?" Rion memprotes tapi aku segera menghentikannya dengan cara memberikannya sekantong uang padanya.
"Aku ambil ini, mari pergi."
Dasar wanita mata duitan.
Aku kembali mengalihkan pandangan ke arah pangeran.
"Lebih baik kau menyerah dan berikan tiga budak itu padaku, aku akan merawatnya dengan baik haha."
"Kau? Paling tidak bicaralah setelah melepas topengmu."
"Maafkan aku, tapi wajahku cukup jelek."
"Dengan kata lain aku lebih tampan darimu."
Dia tertawa dengan puas.
Aku akan biarkan seperti itu saja.
__ADS_1
"Aku menginginkan mereka bahkan jika pria bertopeng sepertimu melawanku, aku tidak akan mundur."
"Apa raja sudah tahu apa yang kau perbuatan selama ini?"
"Kau ingin mengancamku yah."
"Tidak, aku hanya memperingatimu... banyak meniduri wanita tidak baik untuk kesehatan."
"Aku tidak butuh rasa khawatirmu."
"Aku hanya memperingati, oh yah... kudengar para budak yang kau miliki semuanya menghilang, apa kau mengirimnya ke tempat lain atau membunuhnya."
Aku mendekatkan wajahku hingga pandangan kami berdekatan.
"Aku tidak tahu apa maksudmu."
Dia berjalan pergi.
Aku sebenarnya tidak perlu menanyakannya lagi karena aku sudah tahu jawabannya, saat di negeri wilayah tanah Huang Lien mengambil beberapa orang untuk diperkerjakan di rumah bordil di wilayahnya.
Hampir 50 persennya adalah budak pria yang barusan.
Ketika aku memikirkannya suara tawa muncul dari arah lain. Orang yang datang kepadaku adalah seorang gadis berambut pirang bergaya bor dengan gaun mewah serta mahkota di kepalanya, dia berbicara dengan kipas menutupi mulutnya.
"Kau cukup berani menantang orang barusan."
"Dan siapa dirimu?"
"Ara, aku belum memperkenalkan diri, sebagai bangsawan atas aku harus menunjukkan keramahanku terhadap rakyat jelata."
Orang ini menyebalkan.
Setelah menutup kipasnya dia memberikannya pada seorang pengawal wanita tampan kemudian gadis bergaun mewah itu mengangkat klinan gaunnya dengan wajah menunduk penuh keanggunan.
"Namaku Rosvalia Annetta Aurin Apolista von Bariella, aku putri dari kerajaan negeri angin ini, salam kenal."
Namanya terlalu panjang Oi.
"Dengan kata lain kau adik dari pria barusan."
"Benar sekali."
Dia kembali menutup setengah wajahnya dengan kipas.
__ADS_1
Sepertinya dia sedang sariawan atau sebagainya.