Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 416 : Last Around


__ADS_3

Sebuah tekanan menghantam tubuh kami, itu berupa sebuah getaran dari niat membunuh milik Alteira.


Aku belum tahu informasi seperti apa yang diberikan Clarisa Marie padanya sebagai pertukaran namun setelah melihat matanya aku akhirnya mengerti. Itu adalah kemampuan dosa mematikan.


Mata Alteira telah berubah gelap gulita telinganya meruncing di satu titik dan penampilannya sedikit berbeda dari yang kulihat sebelumnya.


Dia tidak mengenakan pakaian yang sama melainkan sebuah pakaian seolah dibentuk dari sebuah bayangan, itu membentuk sebuah gaun berenda dengan menampilkan bahu serta dadanya yang terbuka seolah akan tumpah dari sana.


Itu pemandangan bagus namun bukan saatnya untuk mengaguminya, dia menciptakan bayangan hitam di tangannya membentuk sebuah tombak. Dosa mematikan memiliki tahap akhir yang disebut Last Around, Last Around adalah teknik yang dimiliki setelah mendapatkan tujuh dosa mematikan tergantung pemakainya itu bisa berbeda wujud.


"Kekuatan dosa mematikanku adalah menciptakan material terkuat di dunia ini, mari kita lihat kekuatanmu seperti apa."


Dia melesat maju, aku menggunakan dosa mematikan untuk membuat tubuhku kebal namun sayangnya dia menghilang dan muncul di dekat Livia, Livia berusaha menahannya, pedangnya terpotong dua bagian dan darah menyembur dari tubuhnya sebelum akhirnya dia tumbang.


"Aku menghindari organ vitalnya, dia hanya tidak bisa bergerak untuk sementara waktu, sekarang Last Around milikmu seperti apa."


Aku menggunakan Magic Tree dan dengan cepat dia menghindarinya dan muncul di sisi lain.


"Kau tahu itu tidak berguna, mungkinkah kau belum bisa mengendalikan tujuh dosa milikmu."


Dia bisa menembaknya.


"Jadi begitu, sayang sekali hasilnya tidak akan berubah."


Dia mengarahkan ujung tombaknya lalu mengisinya dengan cahaya hitam membentuk dirinya menjadi bola raksasa yang mana dia lesatkan ke arahku mirip seperti sebuah laser. Aku terhantam secara langsung bahkan tak perlu dikatakan lagi aku tahu bahwa serangan itu menghancurkan dinding menara ini hingga cahaya gelap itu bisa dilihat oleh semua orang.


Aku berdiri di lubang yang tercipta tanpa kehilangan apapun, tubuhku di selimuti bayangan hitam yang membentuk dirinya sesuai pakaian yang kukenakan.


Telingaku mirip seperti ras Elf serta mataku berubah gelap seutuhnya.

__ADS_1


"Kekuatanmu bangkit di detik-detik akhir, itu menarik."


Aku mempererat genggaman pedangku lalu menghilang dan muncul di depannya, Alteira menerima seranganku secara langsung.


Kami menghilang dan muncul di tempat berbeda selagi saling menyerang dan bertahan.


Dentrang.


Dentrang.


Kami melayang di udara setelahnya, angin berhembus dari lubang yang diciptakan oleh Alteira membuat pakaian kami berkibar.


"Apapun yang terjadi akan kuseret kau keluar menara."


"Kenapa kau melakukannya sejauh ini, kau bisa mengambil batu bintangnya lalu pergi dari sini dengan kekuatanmu, bahkan ada lubang besar di sana yang membuatnya semakin mudah."


"Pria selalu menempati janjinya, akan kukalahkan kau."


"Jangan khawatir, itu akan menyembuhkan lukanya... mari lanjutkan pertarungannya."


Alteira menciptakan tombak-tombak lain di sekelilingnya lalu dia tembakan ke arahku. Aku menangkisnya dengan pedangku kemudian menerjang ke arahnya, sulit dipercaya bahwa dia menjatuhkan tombaknya tepat di depanku lalu sebagai gantinya dia malah memelukku.


"Aku yang kalah."


Pakaian kami berubah sedia kala hingga kami mendaratkan kaki di permukaan lantai.


"Kenapa, bukannya barusan kau?"


"Tidak ada yang bisa menghindari tombak barusan, itu sudah membuktikan kau lebih kuat."

__ADS_1


"Begitu."


"Bisakah kau berhenti memelukku."


"Itu tidak bisa. Entah kenapa aku malah ingat masa lalu sekarang, benar-benar menyedihkan."


Air mata menetes dari wajahnya yang mana membuatku semakin bingung.


Sebelum Alteira meninggalkan rumahnya dia berpapasan dengan seorang bernama Julie yang menunjuk ke arahnya.


"Dengar Alteira, meski kita kalah aku yakin suatu hari ras titan akan mendapatkan kehidupannya sedia kala aku akan membuat pulau yang hanya diisi oleh ras titan, bahkan jika aku memilih jalan salah ataupun seseorang muncul untuk menghentikanku, aku yakin ras titan tidak akan pernah punah... sementara ini ikutlah denganku, kau ingin membuat labirin bukan sampai saat itu selesai tinggallah denganku."


"Kau tidak perlu mencoba membuktikan apapun."


"Begini saja, ambilah tombak ini.. jika aku bisa menghindari lemparan tombakmu maka aku yang menang dan kau akan ikut denganku."


"Jika kau kalah."


"Aku akan mengakui bahwa mimpiku itu bodoh."


Alteira mengambil tombak tersebut yang mana ia lesatkan dengan kekuatan penuh, mengetahui Julie tidak akan menghindarinya dia pun memutuskan untuk tidak mengenainya.


"Dengan ini aku yang menang bukan."


"Dasar licik."


Julie tertawa, dia tahu bahwa Alteira bukan orang yang akan melukai siapapun. Dia dibawa ke sebuah pulau di tengah laut, di depannya ia melihat seorang yang tidak dia kenal, seorang gadis bertelinga elf yang dengan senang sedang meracik beberapa penemuan.


"Kau sudah kembali Julie."

__ADS_1


"Maaf, maaf, ada sedikit urusan di kota, biar kuperkenalkan... dia adalah."


Ingatan itu mulai memudar seutuhnya.


__ADS_2