
Di bawah pohon rimbun aku maupun Rin tengah memanggang beberapa jamur yang kami temukan di hutan sebelumnya, jamur ini memiliki rasa enak dan harganya cukup mahal dibandingkan daging yang ada di pasaran.
Sungguh senang bisa memetiknya di alam liar secara gratis.
"Fuwaah... bukannya ini enak, aku sangat bersyukur bisa hidup sampai sekarang," ucap Rin dengan mata berlinang.
Padahal kami sudah memiliki uang tapi dia malah lebih menyukai makanan yang langsung dipetik dari alam, kupikir dia jarang mengalami hal seperti ini.
Aku memakan jatahku sebelum melihat awan yang telah menutupi langit, hujan terjadi di dunia ini juga maka dari itu kami harus segera menemukan tempat untuk berteduh.
Setelah merapikan barang bawaan, kami melangkah kaki menunju tempat yang sama sekali tidak kukenal, itu merupakan desa tak berpenghuni.
Rin sepertinya mengingat sesuatu.
"Ini desa yang dihancurkan oleh para pengkhianat, kami bahkan tidak bisa menemukan satu mayat pun di sini karena itu kami membiarkan semuanya begitu saja."
"Mayatnya tak ditemukan?" aku mengulang perkataan tersebut sementara Rin tampak terlihat sedih.
Dia melanjutkan.
"Semua penduduk desa ini dimakan oleh salah satu iblis dari pasukan pemberontak."
Itu mengejutkan bahwa iblis memakan iblis lainnya. Ketika aku memikirkannya hujan mulai berjatuhan dari langit.
Kami berdua masuk ke dalam rumah di mana tampak beberapa makanan yang penuh jamur berada di atas meja.
Rin tampak menyeka ujung matanya sebelum mengalihkan pandangan ke arah hujan yang turun, ketika kau sedih pemandangan seperti ini selalu sedikit membuatmu lebih baik.
__ADS_1
Sesampainya di ibukota para penjaga dengan senang memberikan jalan ke arah kami, di saat yang sama tampak seorang gadis berlari ke arah kami berdua.
Dia memiliki rambut merah muda panjang yang diikat ekor kuda, ia mengenakan seragam hitam dengan haori bermotif kupu-kupu, di pinggangnya tampak pedang tersarung dengan rapih.
"Aku sudah mencari Anda kemanapun?"
"Kemanapun? Apa kau bawahan dari Rin?"
"Apa maksudmu? Dia adalah."
Sebelum dia menjawab pertanyaanku mulutnya sudah ditutup oleh tangan Rin.
"Ada yang mencurigakan di sini? Pertama para penjaga terlihat terlalu baik dan sekarang gadis cantik muncul seolah mengenalmu."
"Dia temanku, jadi hubungan kami layaknya tuan dan pelayan."
Gadis itu memperkenalkan diri.
"Namaku Wisteria, salam kenal Aoi."
Wisteria adalah nama bunga, kurasa nama itu memang cocok untuknya, dia seperti sebuah bunga yang indah yang muncul untuk memberi kebahagiaan pada orang lain yang melihatnya.
"Kalau begitu aku antar ke istana kaisar, silahkan."
Kami diantar oleh Wisteria melewati jalan utama kota, istana berada di belakang kota karena itulah tempatnya sedikit jauh.
"Kudengar kaisar adalah seorang wanita?" tanyaku pada Wisteria.
__ADS_1
"Benar sekali, dia sangat cantik dan manis... dibanding memerintah dengan tangan besi ia memerintah dengan tangan bunga."
"Tangan bunga apaan?"
"Tangan yang penuh dengan kelembutan dan aroma harum saat menamparmu jika berbuat kesalahan."
"Bukannya itu malah artinya sama saja."
"Aku cuma bercanda, beliau sangat baik... aku yakin di masa depan kaisar akan menjadi sosok yang paling membawa perubahan ke dunia bawah ini."
"Kurasa dia terdengar luar biasa."
"Syukurlah kau berfikiran begitu," potong Rin bangga.
Dia pasti orang yang sangat mengaguminya.
Sesampainya di sana kami mulai memasuki koridor cukup panjang menuju ke singgasana kaisar, tampak orang-orang berlutut penuh penghormatan namun aku sama sekali tidak melihat siapapun yang duduk di atas kursi itu.
"Itu.... kenapa kalian semua berlutut?"
Wisteria yang menjawabku.
"Sudah sewajarnya kami melakukan ini pada kaisar, sudah sejak lama saat beliau menginjakan kakinya kembali ke ibukota."
Aku melirik Rin tapi dia tidak berada di sampingku lagi melainkan telah berjalan di depan dan duduk di singgasana mewah tersebut.
"Jangan bilang, dia kaisarnya?"
__ADS_1