
Para petualang tampak kebingungan dan seketika mengalihkan pandangan mereka kepada kami berdua.
"Oi, oi, apa barusan bola kristal itu meledak."
"Mustahil, pasti benda itu sudah rusak."
Estelle yang mengetahui maksudku dengan sigap segera menutupinya.
"Ah, sepertinya ini memang rusak, padahal statusnya rendah tapi malah hancur begitu saja."
Semua petualang memiliki wajah mengerti dan kembali melakukan aktivitas sebelumnya. Aku diam-diam mengucapkan terima kasih padanya tapi Estelle malah menyinggungkan senyuman licik.
"Mari pindah ke ruangan tertutup untuk menjelaskan semuanya."
Dia jelas tidak akan melepaskanku begitu saja, Estelle adalah staf yang memiliki wewenang tinggi di sini, dia menaruh teh di depanku sedangkan aku pada akhirnya melepaskan topengku.
Reaksi yang ditunjukkannya sedikit berbeda dari yang kubayangkan tapi itu lebih baik.
"Mari kunci pintunya sebentar."
"Oi," kataku singkat.
Dia berdeham sekali lalu mengatakan yang seharusnya.
"Sebenarnya kau siapa? Aku berfikir Lion bukan dari pasukan raja iblis atau anggota organisasi mencurigakan semacamnya."
"Aku akan mengatakan semuanya asal dengan satu syarat."
Mengetahui apa yang akan kukatakan Estelle mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Aku akan merahasiakan semuanya."
"Sebenarnya..."
"Ini mustahil, Lion seorang yang dikirim dewi untuk mencari kandidat pahlawan baru untuk mengalahkan raja iblis."
"Seperti apa yang kukatakan, pahlawan yang sekarang tidak memuaskan karena itulah hal ini dilakukan."
"Jadi begitu."
Secara garis besar perkataanku tidaklah bohong, aku tidak ingin mengatakan bahwa aku dijebak oleh musuh dan melakukan semua ini secara tidak sengaja. Pernyataanku lebih terdengar masuk akal.
Aku menyeruput tehku lalu melanjutkan.
"Guild adalah tempat dimana orang-orang yang memiliki mimpi besar berada, aku yakin bisa menemukan kandidat pas untuk itu."
"Aku meragukannya, petualang adalah orang yang menjalani hidupnya dengan bebas, beberapa orang memiliki moral rendah serta beberapa lagi terlihat kasar dan sok berkuasa."
Kurasa itu benar.
"Bagaimana kalau mencoba mencarinya di akademi sihir atau semacamnya, mereka sangat terlatih."
"Aku tidak yakin, menjadi pahlawan bukan hanya sekedar kuat ia juga harus memiliki keadilan serta berjiwa penolong."
Kebanyakan bangsawan adalah orang yang licik. Jika kau membacanya dalam novel mereka selalu ada di jajaran atas dalam kejahatan.
"Aku akan membantu semampuku."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong sekarang kau tinggal di mana?"
Aku tersenyum ragu seolah bisa merasakan niat buruk dari receptionis berumur 25 tahun ini, itu adalah sebuah wilayah kumuh di pinggiran kota Arsel. Estelle sedang memasak di dapur sementara aku harus duduk di meja makan selagi memperhatikannya.
Ini adalah kediamannya yang merupakan kamar apartemen kecil dilantai dua.
Dia tidak mengenakan seragamnya melainkan celana pendek berwarna hijau serta t-shirt polos, semua penampilannya membawa seorang pria dalam kesesatan.
Untunglah aku sudah terlatih dengan istriku jadi bisa mengendalikan diri dengan baik.
"Apa tidak masalah jika kau mengundang pria asing ke rumahmu?"
"Jangan khawatir, anggap saja kita saling menguntungkan... Lion bergabung dengan guild jadi aku yakin guild akan memiliki nilai bagus dengan keberadaanmu."
Dia jelas berniat memanfaatkanku, karena aku juga begitu jadi tidak perlu membahasnya lebih jauh.
Dia melanjutkan.
"Guild sebenarnya tidak terlalu ramai seperti sebelumnya, orang-orang yang kuat akan pergi ke ibukota dan bergabung dengan guild yang lebih besar pula. Aku menjadi staf hanya sementara saja sampai pengganti dari ibukota datang."
"Ah, jadi begitu."
Itu menjelaskan kenapa dia memiliki rumah kecil meskipun jabatannya cukup tinggi.
Dia berbalik ke arahku dengan senyuman kecil, aku tahu bahwa dibalik senyuman itu ada sebuah kesedihan yang tersembunyi.
"Karena itu... apakah aku bisa menjadi pahlawan yang Lion cari?"
Keheningan terasa diantara kami berdua.
__ADS_1