Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 31 : Seorang Rekan Kejahatan


__ADS_3

Aku turun dari penginapan lalu menyerahkan secarik kertas ke arah receptionis sebelum akhirnya menunggu di luar belakang penginapan.


Di Dunia lamaku aku cukup terlatih dalam berbagai bidang seperti analisis maupun negosiasi, dengan cara seperti ini aku bisa menentukan bagaimana caraku mengambil langkah ke depannya.


Setelah menunggu sekitar tiga menit wanita receptionis yang baru kutemui beberapa saat keluar dengan pakaian berbeda, dia mengenakan celana pendek ketat untuk bagian bawah sementara bagian atas merupakan sesuatu yang dipakai oleh ninja pada umumnya serta sebuah syal untuk menutupi lehernya.


"Bagaimana kau tahu bahwa aku salah satu organisasi yang menentang pembentukan benteng di wilayah ini?"


"Mudah sekali, walau aku terkesan seperti cuek aku selalu memperhatikan sekelilingku dengan seksama, aku sempat melihat banyak tulisan kotor di atas benteng yang menginginkan temboknya dihilangkan terlebih ada gambar kupu-kupu hitam di sana yang sama dengan yang ada di bagian pahamu."


"Kau melihatnya?"


"Aku tanpa sengaja melihatnya saat angin menyibaknya."


"Saat pertama kali kau datang kah."


Ada satu hal yang selalu kuyakini, di manapun kau berada kota selalu menyimpan sisi gelap di dalamnya, entah itu penipuan, penggelapan uang ataupun prostitusi hal seperti itu memang selalu terjadi.


Tapi berbeda dengan di sini, receptionis di sampingku bersama rekannya memiliki tujuan lebih mulia.


"Mari pergi."

__ADS_1


"Aah."


"Kau percaya diri bernegosiasi dengan kami tanpa membawa senjata."


"Anggap saja aku mempercayai kalian," kataku ringan.


Ada sebuah bangunan mewah di pinggiran kota di mana para wanita tampak berlalu lalang di sekitarnya. Tentu kami masuk ke dalamnya.


"Kalian menjadikan tempat seperti ini sebagai markas utama bukannya itu terlalu mencolok."


"Biar kukatakan satu hal penting para petinggi itu kotor dan busuk, mereka selalu menyewa wanita di sini ketika mereka lengah kami menggunakan kesempatan untuk mengambil semua informasi yang bisa kami gunakan untuk mengambil alih negeri ini kemudian mengambil negeri seberang dan selanjutnya menghancurkan tembok yang menghalangi keduanya."


"Banyak hal yang ingin kutanyakan tentang kalian tapi aku lebih suka bertemu dengan bos kalian."


Para wanita pun mengambil pisau kecil di belahan dada mereka bersiap menerkamku sebagai hewan buas.


Aku kini tahu rasanya menjadi hewan herbivora diantara karnivora pembunuh.


"Dia bersamaku."


"Tapi dia orang asing?"

__ADS_1


"Jangan khawatir dia sama sekali tidak membawa senjata apapun."


Aku mengangkat tanganku selagi tersenyum masam.


"Lihat tanganku bersih, aku lebih suka melihat kubang tanduk bertarung satu sama lain dibandingkan memancing keributan."


Karena aku memakai topeng wajar mereka sedikit curiga. Selanjutnya aku dibawa ke ruangan atas di mana bos dari organisasi ini berada.


Dari sini aku hanya masuk sendiri, setelah menyiapkan diriku pintu dibuka dan aku melangkah beberapa kaki ke depan untuk menyaksikan seorang wanita berambut merah sedang duduk di atas meja berselonjoran kaki selagi menghisap asap dari cerutu di tangannya.


Tentu bagian dada dan paha terekspos begitu jelas hingga sulit memalingkan wajah darinya.


Satu hal yang bisa menggambarkan sosok darinya adalah sebuah mawar berduri.


Walau cantik dia memiliki Kekejaman yang sulit dikatakan dengan kata-kata, di bahu kirinya yang putih seekor kupu-kupu hitam tersirat indah.


"Maaf tapi tubuhku tidak disewakan untuk siapapun."


"Aku tidak datang untuk itu, aku ingin melakukan negosiasi denganmu."


Wanita itu melirik ke arahku dengan senyuman di wajahnya. Kedua matanya tertutup seolah memberikan keramahan pada umumnya.

__ADS_1


"Mau merokok?"


"Air putih saja sudah cukup," balasku singkat sebelum mengambil tempat duduk di ranjang.


__ADS_2