
Aku keluar kota dan menemukan Glory hanya duduk meringkuk, sementara semua orang sulit untuk mengatakan apapun lagi.
"Aira?"
Atas penggilanku dia berubah menjadi pedang lalu terbang ke tanganku.
"Mereka menargetkan kota petualang Gordan untuk dihancurkan, aku akan pergi sendirian kalian tolong jaga Glory."
Semuanya mengangguk kecil, dan diam-diam aku meminta Clarisa untuk menguburkan orang-orang yang gugur di kota.
"Aku pergi."
Kuciptakan teleportasi gate untuk muncul di jalan utama kota Gordan, seperti apa yang dikatakan Miguel enam gerbang Solomon muncul di tempat ini tepatnya di tengah-tengah kota.
Orang-orang telah mati termasuk Hendrik yang bersandar di dinding dengan kepala terkulai ke bawah.
Setengah tubuhnya hancur dan usus miliknya memenuhi jalan.
Ada para penjaga dan juga Jon yang hanya menyisakan kepalanya saja. Mengetahui keberadaanku para iblis titan berjumlah puluhan menyergapku.
Aura gelap berbentuk bayangan seketika menyelimuti tubuhku, perlahan merubah bentuknya menjadi sebuah mantel yang langsung kukenakan.
Di saat aku mengayunkan pedangku seluruh iblis titan terpotong dalam sekejap. Darah menyembur ke udara membanjiri setiap langkahku.
Topeng di wajahku ikut hancur menampilkan mata yang berubah menjadi gelap gulita.
__ADS_1
"Lion?" panggil Aira dan Rion khawatir.
"Tidak masalah, ini tetap aku."
Aku mengayunkan pedangku dan dua iblis titan hancur dalam sekejap, selagi berjalan aku membunuh apapun yang datang hingga bisa menghadap ke dekat enam gerbang yang berdiri seperti sebuah lingkaran.
Di atas gerbang tersebut sosok pria dengan mantel berbulu duduk santai dengan mata berwarna merah. tangannya memegang pedang besar yang terlihat terkutuk.
"Solomon?" aku memanggil namanya.
"Sudah waktunya mengakhiri pertarungan kita, entah kau ataupun dewi di tanganmu itu aku akan menghabisinya."
Aku mengayunkan kembali pendangku dan dalam sekejap enam gerbang itu terbelah dua dan jatuh ke tanah seperti reruntuhan, adapun untuk Solomon dia jatuh perlahan selagi menatapku tanpa mengubah ekpresinya.
Solomon adalah raja iblis yang memicu peperangan titan dan manusia, jika aku tidak bisa membunuhnya maka dunia ini akan hancur.
Dia adalah sosok berbahaya yang tidak boleh dibiarkan hidup.
Pedang kami bertubrukan menghasilkan ledakan angin yang menerbangkan bangunan di sekeliling kami. Kekuatan yang kugunakan memiliki efek negatif karena itulah aku harus menyelesaikannya dengan cepat dan tidak boleh melewatkan kesempatan ini.
Kami bergerak dengan kecepatan tinggi hingga sulit untuk dilihat oleh mata telanjang, tepat saat pedang kami kembali berbenturan akan ada satu atau dua bangunan yang terpotong setelahnya.
"Solomon."
Dentrang.
__ADS_1
Hampir semua seranganku tidak bereaksi padanya, aku mengarahkan tanganku menciptakan akar tanaman yang muncul layaknya sebuah bor dari dalam tanah yang mana menyerang Solomon dari dua arah yang berbeda.
Dia mengayunkan pedang untuk satunya sementara satunya lagi dia hancurkan dengan hanya tangan kosong.
Seolah baru saja dia tembak dengan sihir angin.
"Itu bukan sihir angin Lion, itu sihir gravitasi."
"Gravitasi?" aku mengulang kata tersebut saat tubuhku melayang ke udara lalu tertarik ke arah tangan Solomon.
Pedang yang ada di tangan kanannya dia arahkan padaku dan itu menancap baik di jantungku.
Tentu itu hanya ilusi, diriku yang sebenarnya berada di antara ratusan orang yang kubuat dari skill dosa mematikan.
Solomon memiringkan kepalanya.
"Merepotkan sekali."
Sebagian ilusi ini bisa menghasilkan bom cahaya dan sisanya lagi adalah bom ledakan, dengan ini mari habisi dia.
Semua diriku menyergap secara bersamaan sebelum akhirnya tertarik ke tanah dengan tekanan tinggi.
"Jadi ini sihir gravitasi," kataku.
Tanah retak lalu meledak dahsyat sehingga menyemburkan puing-puing reruntuhan ke udara.
__ADS_1