Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 302 : Identitas Raksasa


__ADS_3

Aku menginjak kepala Zetsu yang masih bisa menggerakkan mulutnya.


"Apa kau benar-benar seorang pilar?" tanyaku demikian.


"Jangan salah paham, aku hanya pilar penyangga... ada tingkat yang lebih tinggi dariku."


"Tingkat?"


"Pertama pilar penyangga, pilar pondasi dan juga pilar utama."


"Apa yang Henos inginkan?"


Sebelum dia bisa menjawab pertanyaanku Zetsu telah mati selamanya. Jika kepalanya belum tersambung dengan tubuhnya maka regenerasinya tidak akan bekerja.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah atap bangunan di mana iblis yang menyerang ibukota ini mulai bermunculan.


Seluruh tubuhku telah tertutup pola hitam kupu-kupu meski begitu tidak ada cara untuk menghentikan racunnya.


Aku menancapkan pedang di tanah untuk menopang tubuhku yang kehilangan keseimbangan, tulang-tulangku terasa berderit serta nafasku mulai menipis.


"Dia sudah lemah, habisi dia bersama."


"Baik."


Tak hanya teriakan itu yang terdengar namun jeritan pun menggema di udara, saat pandanganku hampir kabur aku melihat seorang pria dengan rambut putih panjang berdiri di depanku dengan sebuah Katana di tangannya.


Ia mengenakan haori berwarna putih dengan pola bunga teratai.

__ADS_1


Tidak salah lagi dia adalah.


"Shiramaru."


"Istirahatlah dulu Wisteria, jika kau terlalu banyak bergerak racunnya akan menyebar dengan cepat... sebentar lagi Kaori akan datang menyembuhkanmu jadi serahkan sisanya padaku."


"Aku mengerti."


Aku hanya terduduk lemas selagi menatap bagaimana Shiramaru mengalahkan mereka semua, setiap dia bergerak itu menghasilkan suara lonceng berdenting yang mana berasal dari anting di telinga kirinya.


Tak lama Kaori yang tiba bersama para pasukan medisnya menghampiriku.


"Kau tak apa, Wisteria?"


"Aku mati rasa."


Aku mengangguk mengiyakan saat Kaori menyuntikan obatnya pada tanganku, ia juga mengambil sampel darah milikku.


Kaori memiliki penampilan lembut dengan kimono merah muda, ia mengepang rambutnya menggantung di dada. Dengan keberadaannya dia telah banyak membantu orang-orang.


Setelah menganalisa dia mulai menyuntikkan penawarannya hingga perlahan tubuhku kembali pulih.


"Aku sudah bisa bergerak, nafasku juga sudah kembali normal."


"Syukurlah.. aku harus kembali mengobati orang-orang yang terluka, kau jangan terlalu memaksakan diri."


"Um."

__ADS_1


Kami berpisah, Shiramaru melawan para pasukan pilar penyangga sementara aku akan melihat tengkorak yang tadi.


Beberapa orang muncul di depanku yang mana pertarungan tak bisa dihindari.


Bunyi benturan logam menyebar bagikan gelombang tak terlihat, bersamaan kilatan cahaya jeritan pertarungan mulai terdengar dari segala arah.


Aku menusukkan pendangku ke dalam salah satu mulut musuh kemudian merobeknya ke arah leher. Tak tinggal diam, rekannya mulai menyerangku lebih agresif.


Mereka mengirim sihir api maupun senjata mereka secara membabi-buta.


Provokasi cukup berguna saat digunakan dalam bertarung. Aku menebas kepala mereka, leher mereka dan saat kusadari tidak ada lagi yang tersisa.


Pemimpin pilar penyangga sudah dikalahkan meski begitu pasukannya tidak ada niat untuk mundur, di sisi lain aku lebih penasaran dengan makhluk itu.


Aku melompat dari rumah ke rumah sebelum mendarat dan berlari melewati tembok, bisa kulihat di sana kedua raksasa tersebut masih berada dalam pertarungan, tengkorak itu mematahkan salah satu tulang rusuknya untuk dijadikan sebagai senjata demi menikam dada raksasa besi.


Tulang itu menebus tubuhnya sementara raksasa besi menggunakan kedua kakinya untuk mendorong tubuh tengkorak menabrak gunung.


Saat tengkorak itu kehilangan keseimbangan, raksasa besi memegangi lehernya dan selanjutnya mematahkannya.


Kepala tengkorak itu dia banting ke bawah lalu diinjaknya sampai hancur, tubuh tengkorak mulai berhenti bergerak sementara raksasa besi yang sebelumnya berwarna perak telah berubah menjadi warna merah karena panas yang dihasilkan musuhnya.


Perlahan tubuhnya mulai berubah menjadi asap, saat aku sadari di mana sosok raksasa berdiri telah digantikan oleh seorang wanita.


Ikatan rambutnya yang putus membuat rambut putihnya berkibar tertiup angin.


Satu kata yang bisa kukatakan hanyalah.

__ADS_1


"Aoi?"


__ADS_2