
Dua hari semenjak aku kembali ke duniaku, aku berdiri di makam Ryker setelah menaruh bunga di nisannya.
Aku telah kehilangan rekan serta temanku yang berharga lagi. Tepat saat aku berbalik istri Ryker telah berdiri di sana dengan perut yang membesar, sebentar lagi mungkin dia akan melahirkan tapi hal ini malah terjadi.
"Maafkan aku, harusnya aku berada di sana saat insiden itu terjadi."
Dia menggelengkan kepalanya lalu berkata.
"Tuan Lion tidak salah, semua itu terjadi begitu cepat."
Meski begitu aku tetap saja tidak bisa menerimanya, aku ingin segera peperangan ini berakhir dan semua orang bisa hidup damai tanpa takut sesuatu buruk yang menimpanya.
"Saat anakmu besar aku akan mengajaknya ke sebuah tempat yang dulu pernah aku kunjungi bersamanya, Ryker bilang itu tempat Favoritnya sejak kecil."
Air mata jatuh dari pipi wanita itu, dari sini ia akan hidup sendirian dan akan mengelola kerajaan di pundaknya.
Aku akan membantu apapun yang dia butuhkan, hal ini terjadi karena ulahku maka dari itu, ini adalah satu cara untuk bertanggung jawab.
Aku melangkah pergi lalu menggunakan Teleportasi Gate untuk muncul di perkarangan istana milikku sendiri di Elfdian.
Livia dan Alteira sedang sibuk karena itu aku bisa bersantai semuanya sekarang, Aira muncul lalu menutup mataku dari belakang.
"Ada apa Aira?"
"Kau bisa menebaknya, tidak seru."
"Yah aroma kalian sangat berbeda satu sama lain karena itu aku bisa membedakan masing-masing dari kalian."
__ADS_1
"Bukannya itu artinya suamiku itu orang mesum."
"Aku tidak begitu, ini hanya satu dari bakat alamiku."
Aira mengembungkan pipinya lalu duduk di depanku.
"Selama ini Lion selalu meninggalkan kami untuk berpetualang, aku pikir beberapa orang marah karenanya."
"Mungkinkah karena itu saat aku menyapa mereka mereka hanya berbalik cuek."
"Sudah jelas kan, mengelola istri yang baik adalah tugas suaminya.... lebih baik Lion cepat meminta maaf lalu mengganti waktu semuanya."
Mengelola bukan kata yang tepat kurasa.
"Maksudnya aku harus berkencan dengan kalian semua perorang sekarang."
"Itu harus loh... jika Lion mau dimaafkan."
"Jangan menatapku seperti itu, aku jadi malu."
"Kalian pasti sudah merencanakan ini sejak lama bukan."
Aira mengalihkan pandangannya.
"Tidak juga."
Sudah jelas dia berbohong, aku sudah lama meninggalkan keluargaku jadi kurasa itu memang harus dilakukan.
__ADS_1
"Aku mengerti, jadi seperti apa jadwalnya."
Aira tersenyum penuh kemenangan sebelum menaruh secarik kertas yang di dalamnya bertuliskan hari dan dengan siapa aku harus pergi.
Mereka sangat detail.
Aku merasa diam-diam mereka melakukan perkumpulan bersama atau semacamnya.
"Daftarnya sangat padat."
Aira tersenyum tipis atas pernyataanku lalu melanjutkan.
"Anggap saja ini juga hukuman untuk Lion."
Aku menerima daftar tersebut lalu menyimpannya di dalam saku bajuku.
"Kalau begitu aku pamit aku harus belanja bersama yang lainnya hehe."
Istriku memang suka berbelanja dua pelayanku muncul selagi menaruh teh dengan beberapa camilan di atas nampan.
Mereka bertugas sebagai orang yang bertanggung jawab atas kebersihan istana, tapi dengan istana sebesar ini aku ingin menanyakan apa mereka perlu tenaga tambahan.
Dan ketika aku menayangkannya mereka menggelengkan kepala.
"Kami berdua sudah cukup yang mulia."
"Kalian yakin?"
__ADS_1
"Um.. kami ahli dalam bidang ini, kalau tuan tidak mempercayainya apa anda bisa ikut dengan kami untuk melihatnya."
Aku sedikit penasaran dengan itu, karena itu aku mengangguk setuju.