
Hari ini aku, Rion dan Nibela mengunjungi hutan Arfa yang menjadi tempat tinggal Rion saat dia dijatuhkan ke dunia fana sebagai elf.
Berbeda dari yang kubayangkan tempat ini sudah kacau balau dengan pepohonan yang rubuh serta rerumputan yang mengering.
Bagaimana pun sebelumnya tempat ini telah diserang oleh kerajaan di benua manusia sebagai bentuk supaya penerus dewi jahat tidak muncul kembali ke dunia ini.
Rion tampak berdiri diam seolah mengenang masa lalunya. Sebagian temannya telah tewas dan sebagian laginya telah dipindahkan ke benua iblis, setelah menunggu perasaan Rion membaik kami dibawa pergi ke sebuah tebing batu yang tak jauh dari pemukiman.
Nibela merubah tubuhnya menjadi Titan sebelum memindahkan batu besar yang menutupi jalan masuk gua. Di lorong yang dihiasi kristal bercahaya Rion berkata tanpa menoleh.
"Saat aku berkeliling untuk mencari kekuatan, aku tidak sengaja bertemu dengan ibumu, dia mengatakan bahwa dia tidak bisa menemukan putrinya dengan putus asa, dia memutuskan untuk menyegel dirinya ke dalam es keabadian sama sepertimu lalu memintaku untuk menyembunyikannya di sini, sampai aku bertemu putrinya aku diminta jangan membangunkannya."
Itu sama seperti apa yang terjadi pada Nibela, hanya saja salah satu Titan memilih membawanya lari ke benua ini agar dia tidak terlibat peperangan yang akan terjadi dan menjadi alat sebagai balas dendam.
Titan yang pertama kali kutemui adalah ayah angkatnya.
Tepat di ujung lorong kami bisa melihat ruangan lebih luas dengan pemandangan es yang menggunung layaknya bukit. Di tengahnya tampak seorang wanita berambut merah sedang tertidur selagi memeluk lututnya.
Tanpa dikatakan lagi dialah ibu Nibela, dan juga sahabat Rion.
Nibela menangis selagi memanggil ibunya dan Rion duduk di salah satu kristal selagi menyuruhku untuk membebaskannya.
"Cepat bebaskan dia, kau budakku kau tidak mungkin hanya pandai di ranjang saja bukan."
Akan kututup mulut jahatnya ini.
__ADS_1
"Hentikan, aku cuma bercanda hehe."
"Kau jelas bersungguh-sungguh," teriakku.
Aku menghela nafas panjang sebelum mengirim energi ke enam sihir dunia dari tubuhku pada es tersebut, berbeda dengan kasus Nibela, es yang digunakan ibunya lebih kuat dan sulit untuk mencairkannya kecuali dengan kemampuanku.
Es mulai mencair sedikit demi sedikit.
"Tunggu berapa lama aku harus mencairkan esnya."
"Mungkin semalaman, jadi lakukan yang benar."
"Aku bisa mati karena kehabisan mana," teriakku.
"Aku akan melakukannya dan membebaskan ibumu."
"Terima kasih banyak Lion, kau pahlawanku."
Dia mencoba bersikap manis padaku.
"Lalu untuk apa pil ini?" tanyaku kembali.
"Namanya pil exilir, itu bisa mengisi manamu dengan cepat."
"Dari mana kau mendapatkannya?"
__ADS_1
"Yah itu... saat aku menyerang alam dewi aku merampasnya dari dewi lain, kau tahu dunia ini terbagi dengan dunia berbeda-beda... sementara kita hidup di dunia dengan sihir dan pedang, dunia dewi itu adalah bela diri dan kultivasi.. walau berbeda efeknya sama."
Buset, seberapa jahat dewi ini?
"Aku dengar itu."
Rion menatapku dengan tatapan sinis.
"Dibanding Rion, aku yang lebih jahat."
"Fufu itu benar."
Dunia manapun memiliki kesusahannya sendiri jadi aku tidak berniat untuk pergi ke dunia lainnya. Setelah matahari terbenam aku beristirahat untuk menyiapkan makanan bagi kami semuanya.
Aku membuat rebusan dari daging kura-kura, kerang, kepiting dan apapun yang bisa ditemukan di laut lagipula tempat ini dekat dengan itu.
"Apa ini? Bentuknya lucu."
"Itu Sotong."
"Namanya juga lucu."
"Minta maaflah pada Sotong."
Aku dan Rion memang sering berbuat keributan, rasanya seperti aku tidak pernah bosan saat di dekatnya.
__ADS_1