Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 181 : Bekerja Sama


__ADS_3

Sekembalinya ke pasukan di pelabuhan Regional, aku menjelaskan semuanya ada semua orang.


Sama sepertiku mereka juga terkejut tapi itulah kebenarannya, di sisi lain kami senang bahwa ras Titan masih hidup dan di sisi lain kami khawatir tentang keberadaan Nightmare.


Pada akhirnya kami semua berada di telapak tangannya.


Selagi memikirkan hal itu aku mulai menjelaskan apa yang akan kami mulai, dengan kematian Titan penyihir tidak akan ada lagi manusia yang dirubah menjadi raksasa itu adalah informasi yang bagus.


Kini setelah aliansi dibuat kami akan menggabungkan pasukan untuk mengambil alih Tembok Suci Maria. Aku juga telah mendapatkan semua perjanjiannya yang menjadikan bahwa benua iblis sepenuhnya dimiliki olehku dan tak ada lagi yang berusaha mengambilnya.


Dengan sedikit beban yang hilang kami bisa lebih fokus pada peperangan.


Dua hari berikutnya kami semua telah berkumpul di wilayah tembok suci Maria bersama para pahlawan yang diambil dari dunia lain kami berjabat tangan untuk memulai pertarungan ini.


Tidak ada yang saling mengenal satu sama lain namun kami memiliki tujuan yang sama yaitu mengambil alih kota ini.


Di atas tembok itu kami bisa melihat seluruhnya, berbeda dari Titan yang dibuat dari manusia mereka Titan asli dengan tubuh diselimuti baju besi.


Untuk awalan aku berayun dan berdiri di depan seorang pria berotot bernama Nilstrong.


"Sekali lagi aku ingin kalian menyerah, ras Titan lainnya telah hidup aman di benua iblis tidak sepatutnya kita masih bertarung."

__ADS_1


"Berhentilah membual, kami tidak percaya denganmu bahkan jika itu benar kami masih harus membalas dendam terhadap manusia."


"Jika itu alasanmu apa boleh buat."


Aku mengambil suar dari pinggangku lalu menembakannya ke udara hingga dari sana cahaya yang menyilaukan tercipta menjadi tanda bahwa negosiasi gagal.


Orang-orang yang berada di atas tembok mulai turun ke bawah untuk mengalahkan semuanya.


Ini adalah pertarungan habis-habisan.


"Habisi mereka semua," teriak Nilstrong sebelum aku bisa menarik pedangku, dia telah berdiri tepat di depanku untuk memberikan pukulan.


Itu mengenai dadaku hingga aku jatuh menukik ke dalam tanah.


"Manusia harus dimusnahkan, itulah harga yang harus dibayar untuk semuanya."


Sungguh menyebalkan bahwa peperangan ini sesuatu yang bodoh.


***


Sudut pandang Kizuna.

__ADS_1


Setelah membersihkan katanaku kami telah bersiap untuk pergi ke salah satu kota disebut tembok suci Maria. Di luar kota kami bertemu rekan baru yang merupakan sesama pahlawan seperti diriku.


Sayangnya mereka bukan merupakan seangkatanku, mereka adalah generasi selanjutnya dari generasiku dengan kata lain, hanya aku dan Paula saja pahlawan yang masih hidup.


Aku sedikit marah dengan Venus, namun demi kedamaian yang tercipta aku harus bekerja sama dengannya, setelah kembali dari ibukota banyak hal yang diceritakan oleh Lion dan itu sangatlah mengejutkan.


Di atas tembok Gracia yang berada di sampingku berkata.


"Pertarungan ini akan sangat merepotkan, akan lebih baik para ras Titan ini mengaku kalah dan mencoba bergabung dengan kita."


"Menurutku itu mustahil."


Aku bisa melihat bahwa Lion kini telah berhadapan dengan pemimpi di kota ini bernama Nilstrong, tubuhnya terlihat cukup kuat bahkan dalam bentuk manusianya.


Dari tempat kami sulit untuk mendengarkan pembicaraan namun satu hal yang pasti, negosiasi telah gagal.


Lion menembakan suar ke langit yang mana menjadi tanda kami menyerang, Ryker sebagai wakil komandan berteriak.


"Tarik pedang kalian dan serang."


Kami melakukan apa yang dia katakan.

__ADS_1


Para Titan baju besi pun bergerak di waktu bersamaan.


__ADS_2