Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 296 : Seorang Pengkhianat


__ADS_3

"Sialan kau, beraninya.."


Mereka menyergapku dari segala arah, tanpa berpikir dua kali aku menebas mereka dengan mudah, tubuh mereka tergeletak di bawah dengan darah menggenang di sekitarnya.


"Kurasa mereka pantas mendapatkannya, nona Hime membiarkan semua orang menambang tapi mereka malah memonopolinya sendiri bahkan merampas hasil kerja keras orang lain."


"Rin sepertinya kau tahu segala hal."


Aku menatapnya curiga, namun dia hanya tersenyum masam.


"Kau bukan seorang mata-mata dari pihak pemberontak kan?"


"Mana mungkin aku seorang mata-mata aku bekerja untuk nona Hime."


Aku pikir aku akan mempercayainya, aku mengalahkan mereka semua sendirian dan mengambil alih pertambangan.


"Kalian baik-baik saja?"


"Terima kasih, tapi apa kau tidak takut... tuan mereka akan datang kemari untuk membuat perhitungan."


"Jangan khawatir jika dia datang aku akan mengalahkannya juga... sekarang kalian bebas menambang, ajak juga yang lainnya, seluruh penduduk kota berhak atas hasil pertambangan ini."


"Aku mengerti."


Situasinya belum aman jadi selama itu aku maupun Rin akan menambang bersama yang lainnya, dua hari berlalu dan sampai saat ini belum ada yang muncul.


Aku berdiri di depan gua sebelum Rin muncul dengan kantong makanan di tangannya.


"Silahkan Aoi."

__ADS_1


"Um... sejauh ini tidak ada yang muncul, apa mereka takut."


"Mana mungkin aku yakin mereka akan datang, besar kemungkinan mereka merekrut banyak anggota lebih dulu."


Seperti yang dikatakan Rin tampak kumpulan iblis bermunculan di langit, jumlahnya sekitar 100 atau lebih dengan sayap di punggung mereka.


Semuanya bertubuh merah terang seperti iblis yang kukenal.


Di tengahnya ada iblis yang terlihat arogan.


"Kau berani membunuh anak buahku dan juga mengambil tambang kami, terimalah akibatnya... bunuh mereka semua."


"Jangan secepat itu, aku sudah melapor perbuatan kalian pada nona Hime dalam waktu dekat kalian pasti akan diusir dari tambang ini."


"Nona Hime sayang sekali kami tidak berkerja padanya.. kami bekerja untuk tuan muda Henos."


Pantas saja mereka sangat seenaknya.


"Kalau begitu aku juga akan ikut membantu, pengkhianat seperti mereka aku sangat muak sekali."


"Hah, kalian hanya dua orang memangnya bisa apa .. kalian jangan diam saja, cepat serang."


"Aaaaaargh."


Mereka berteriak selagi melesat maju, hanya orang bodoh yang bertarung tanpa pikir panjang.


Aku mengarahkan tanganku dan sekitar enam lingkaran sihir muncul secara bersamaan.


"Hellfire."

__ADS_1


Api berbentuk tornado dilesatkan dari setiap lingkaran yang mana menyapu mereka dalam sekejap mata, kecuali pemimpinnya mereka semua telah menjadi debu yang tertiup angin.


"Sihir? Bagaimana bisa seorang rendahan sepertimu bisa menggunakannya."


"Rin apa maksudnya?"


"Hanya kalangan bangsawan iblis saja yang diizinkan untuk mempelajari sihir dan rakyat biasa dilarang."


"Dunia ini memiliki peraturan yang merepotkan."


"Mau bagaimana lagi, kebiasaan lama sulit diubah tapi ngomong-ngomong Aoi, kau sama sekali tidak membiarkan aku mendapatkan giliran menyerang."


"Ah kesalahanku... baiklah untuk dia aku serahkan padamu."


"Jangan meremehkanku."


Pemimpin iblis itu mendaratkan kakinya di tanah, dia menghentakan kakinya dan lingkaran sihir hitam muncul bersamaan pedang yang menyeruak dari dalamnya.


Dia menariknya untuk menunjukkan bilah pedang miliknya.


"Kalau begitu Rin, silahkan bertarung."


"Tentu, aku akan mengalahkannya."


"Kunoichi sepertimu bukan lawanku."


"Mari kita lihat kemampuanmu itu."


Rin menarik kunai ke tangannya untuk menerima serangan langsung dari setiap tebasan musuhnya, saat mereka mengatur jarak iblis itu menciptakan api hitam di tangannya yang mana ia lempar ke arah Rin secara berurutan.

__ADS_1


__ADS_2