Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 256 : Pertarungan Di Ibukota Borman Bagian Enam


__ADS_3

Efek dari serangan Faust memberikan luka cukup fatal. Aku membuang darah yang keluar dari mulutku selagi memeriksa keadaan Kanade.


Kanade masih belum bangun setelah menerima panah yang menghempaskannya.


"Kanade?" aku memangilnya namun tidak ada jawaban, di sisi lain iblis api dan Faust beralih melirik ke arahku.


"Kau masih bisa hidup setelah menerima seranganku, aku bisa memuji kekuatanmu itu.. tapi hanya sebatas di sini saja."


Kini iblis api membuat panah yang cukup besar di mana ia menggunakan seluruh tangannya untuk melakukannya.


Faust menyeringai.


"Matilah."


Ledakan angin tercipta dan panah melesat dengan kecepatan tinggi, hanya dalam waktu singkat ujungnya bisa kulihat semakin jelas. Sebelum aku bergerak, Kanade telah muncul untuk memblokir serangannya meluncur di sisi jauh dariku.


"Aku masih belum selesai, jangan remehkan seorang samurai."


"Kanade kau baik-baik saja?"


Darah menetes dari tangan serta wajahnya meski begitu dia tidak terlihat kesakitan atau setidaknya dia berusaha menahannya.


"Mari lakukan sekali lagi Lion."


Aku mengangguk mengiyakan.


"Aah, aku akan meningkatkan kecepatanku."


Mataku telah berubah menghitam.


"Ayo."


Mengikuti arahan Kanade, aku berlari di sampingnya.


"Sialan kalian, berapa kali aku harus mencoba membunuh kalian," teriak Faust penuh emosi.


Saat anak panah di tembakan, Kanade bergerak ke belakangku. Menggunakan dua pedang di tangan aku menepis semua serangan yang meluncur.

__ADS_1


"Kanade."


"Okay."


Dia menyentuh punggungku dan dalam sekejap kami berdua muncul di atas iblis api, aku menebasnya dengan kedua pedangku.


Menyadari hal berbahaya Faust melompat ke belakang menembus iblisnya sendiri, di saat yang sama Kanade menggantikan seranganku. Dia maju untuk mempersempit jarak.


"Jangan pikir senjatamu bisa melukaiku."


Pedang yang diayunkan Kanade membuat luka besar di tubuh Faust namun pergerakannya masih bisa menyelamatkan organ vital miliknya.


"Kena kalian berdua."


Faust bersiap menggunakan sihir api dari tangannya, sebelum dia mengaktifkannya tebasan Kanade memotong tangannya.


"Sialan."


"Lion?"


Kanade berbaring selagi memeluk pedang miliknya.


"Hehe aku menang."


"Kau benar-benar memaksakan dirimu," kataku.


"Apa menurutmu aku sudah bisa disebut pahlawan?"


"Kurasa begitu."


Aku menyarungkan kembali pedangku lalu berlutut untuk memberikan sihir penyembuhan padanya.


"Sakit sekali."


"Sudah jelas, lukamu parah sekali."


Kanade melirik ke arah langit selagi tersenyum menutup matanya, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya namun kurasa dia telah menemukan sesuatu yang diinginkannya sejak lama.

__ADS_1


Setelah aku menyembuhkan Kanade, aku memutuskan untuk pergi ke pertarungan lainnya, melompati beberapa rumah aku menemukan pertarungan Thomas melawan Kuno.


Keduanya bergerak dengan cepat hingga sulit untuk mengikutinya, sebelum aku tahu apa yang terjadi? Thomas berdiri mematung sementara musuhnya tertawa.


Thomas menyemburkan darah dari mulutnya.


"Mustahil?" katanya.


"Kau baru menyadarinya, pedang ini memberikan racun setiap terkena tubuh manusia."


"Kau menggunakan cara licik."


"Sekarang matilah."


Aku bergerak di depannya untuk menahan tebasan yang terarah pada Thomas.


"Hentikan Lion, pedang itu beracun."


"Apa kau lupa dengan apa yang kukatakan waktu di kafe itu?"


Thomas sedikit terkejut dengan apa yang kukatakan, namun dia tahu apa jawaban dari pertanyaanku.


"Kau kebal dari racun."


"Tepat sekali."


"Kau?"


"Maaf saja, seluruh temanmu telah dihabisi kini hanya giliranmu yang masih hidup."


"Kukira aku akan menyerah, aku akan membunuhmu demi tuan Solomon."


"Kau ini bodoh, apapun yang dia katakan orang itu tidak berjuang untuk manusia, dia malah ingin melakukan hal sebaliknya."


Kuno melompat ke belakang selagi mengarahkan ujung pedangnya.


"Aku sudah tahu itu, karena itulah aku ingin melayaninya."

__ADS_1


__ADS_2