Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 325 : Gerbang Terakhir


__ADS_3

Aku menarik pedangku begitu juga kedua rekanku saat ini, kami hanya perlu menghancurkan rantai tersebut dan semuanya akan selesai meskipun itu jelas tidak mudah.


Henos melompat di depan kami dengan tubuhnya yang besar, aku memberikan tebasan pertama yang mana dia tahan dengan pedang besar miliknya.


Wisteria dan Yukisa juga menyerang secara bersamaan, setelah mendorongku dia memotong tubuh keduanya kemudian memenggal kepalaku.


"Ternyata kalian sangat lemah."


Aku tertawa hingga dia terkejut bagaimanapun aku sudah berada di belakangnya dan menghancurkan rantai yang mengikat tubuh Hime.


"Bagaimana bisa?"


"Hanya sebuah trik sederhana," kataku mengangkat bahu.


Aku hanya menggunakan kemampuan skill dosa mematikanku untuk membuat ilusi, Wisteria dan Yukisa memegangi tubuh Hime yang lemas saat gerbang yang sebelumnya yang muncul telah menghilang seutuhnya.


"Kalian berdua bawa Hime ke tempat aman, dari sini aku sendiri sudah cukup mengalahkan orang ini."


"Kami mengerti."


"Pedang iblis... jadi Hime membuatmu menjadi kesatrianya."


"Bisa dibilang begitu."

__ADS_1


Kami melangkah maju di saat bersamaan, bagiku yang melihat sosoknya tidak jauh berbeda saat berhadapan dengan seekor Minotaurus.


Kedua pedang kami memercik kembang api ke udara dengan bunyi dentuman memekikkan telinga, kami saling mengirim tebasan dan sama-sama tidak ada yang melangkah mundur.


"Dunia bawah telah memiliki langit yang indah sekarang, tapi kenapa kau masih ingin mengirim semuanya kembali ke sana."


"Manusia yang telah memaksa kami tinggal di sini maka kami akan balas dendam."


"Itu salah nenek moyang kalian yang menjadikan manusia sebagai musuh."


Kami saling menjaga jarak, seseorang berpenampilan ninja muncul dari dalam tanah dan hendak menyergapku dari belakang.


Aku mengayunkan pedangku untuk memenggal kepalanya.


"Yang kuinginkan adalah menjadi iblis terkuat, aku akan melakukan hal yang tidak bisa dilakukan nenek moyangku yaitu melenyapkan para manusia dengan begitu namaku akan ditulis sebagai legenda."


Hanya demi kebanggaan itu dia telah mengorbankan banyak orang, dia membuat pasukan pilar yang membunuh iblis lain demi kekuatan.


Aku hanya bersimpati untuk alasan konyolnya. Aku melesat maju dengan gerakan menebas dari bawah.


Berbanding dengannya Raiku lebih kuat aku merasa aneh bahwa dia harusnya jadi pemimpinnya dibandingkan orang ini. Henos menahan pedangku memantulkannya ke samping sebelum mengambil serangan balasan.


Dia menebas leherku meski begitu pedangnya hancur dengan mudah. Menggunakan Skill tujuh dosa mematikan aku membuat tubuhku kebal serangan.

__ADS_1


Dengan tebasan horizontal aku memenggal kepalanya dengan mudah. Kepala itu jatuh ke sisi lain diriku lalu menggelinding begitu saja.


"Dengan kekuatanmu aku tidak yakin kau bisa menang... di dunia yang kau tuju sekarang sudahlah lebih maju dari sebelumnya, bahkan setelah kalian pindah kemari manusia terus berkembang dan menciptakan berbagai senjata, kalian semua tidak memiliki kesempatan."


"Bagaimana kau tahu?"


"Karena aku juga berasal dari sana."


Aku sudah muak melihat peperangan manusia melawan iblis, manusia melawan manusia bahkan negara melawan negara. Sudah waktunya semua orang hidup damai tanpa menjajah satu sama lain.


Aku menyarungkan pedangku kembali lalu berjalan ke arah Wisteria dan Yukisa yang masih mencoba membangunkan Hime.


Dia benar-benar tidak sadar.


Saat dia membuka matanya ia segera menggunakan tangannya untuk menutupi dadanya.


"Ka-kau melihatnya."


" Semuanya, ngomong-ngomong itu dada yang bagus."


"Terima kasih."


Normalnya seorang gadis akan berteriak Kyaa atau mengutukku selagi mencoba membunuhku, sayangnya di dunia ini sangat berbeda sekali.

__ADS_1


Yah, mungkin karena ini bukan pertama kalinya aku melihatnya.


__ADS_2