Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 270 : Pengendali Darah


__ADS_3

Kekaisaran ini telah menciptakan monster seperti Blossom, yang bisa kami lakukan adalah mengalahkannya dan mengubur semuanya.


Blossom menciptakan pedang dengan darah yang keluar dari tubuhnya.


"Pertarungan sesungguhnya telah dimulai," katanya menunjukkan dua tarik dari mulutnya.


Dalam sekejap dia telah muncul di depan kami selagi mengayunkan pedangnya, aku yang lebih dulu menyadarinya menahannya dengan dua pedang milikku, perbandingan kekuatan yang luar biasa melemparkanku jauh ke belakang.


Blossom menyerang Kanade sebagai serangan lanjutan membuatnya mundur dalam posisi bertahan.


Dentrang.....Dentrang.... Dentrang.


Kilatan menyatu dengan pergerakan mereka yang cepat, udara terasa sangat menyesakkan saat melihat pertarungan itu.


Kanade melompat setelah menyarungkan pedangnya di udara.


"Tebasan Kilat."


Sebuah bilah angin meluncur kepada Blossom yang berhasil dia tangkis, aku datang untuk membantu dengan sihir air berupa bola raksasa.


Sekali tebasan bola itu terbelah dua kemudian bilahnya masih meluncur padaku yang mana kuhindari dengan sihir teleportasi untuk berpindah tempat ke atas kepalanya.


"Usaha bagus."


Dia masih mampu menahannya.

__ADS_1


Vampir yang bisa mengendalikan darah pantas disebut sebagai leluhur vampir sesungguhnya.


Darah yang sebelumnya menyebar di kota mulai terangkat ke udara membentuk dirinya menjadi jarum-jarum mematikan yang mampu membuat seseorang menjadi vampir.


Serangan itu bukan diarahkan padaku melainkan pada Kanade maupun Ginny secara bersamaan.


"Celaka."


Dia sudah tahu bahwa aku kebal dengan racun maupun kutukan miliknya.


Aku muncul di dekat Kanade dengan sihir terleportasi, menarik kerah pakaiannya aku menghilang bersama dengannya untuk menyelamatkan Ginny.


Karena sudah tidak ada waktu aku sengaja menggunakan punggungku sebagai pelindung untuk keduanya.


"Lion?"


Aku menciptakan Teleportasi Gate menuju istana kerajaan Frames.


"Maaf hanya menjadi bebanmu."


"Tidak perlu meminta maaf, musuh yang kita hadapi benar-benar tidak ada yang normal, kurasa aku juga begitu."


Keduanya menghilang dalam gerbang dan aku menancapkan pedang Rion sesaat demi mencabuti jarum di tubuhku sebelum menariknya kembali.


"Pilihan yang buruk, setelah terluka bagaimana kau mengalahkanku?"

__ADS_1


"Mudah saja."


Aku menggunakan sihir dan dalam sekejap luka telah dipulihkan.


"Kau menggunakan sihir air rupanya, itu jelas menarik."


Darah mulai berkumpul kembali di sekeliling Blossom dengan jumlah besar.


"Di kota ini telah menjadi lautan darah, aku jelas tidak terkalahkan," katanya demikian.


Aku maupun Blossom kembali membenturkan pedangku, aku pernah mendengar darah memang memiliki zat besi tapi tak kusangka bisa seperti ini.


Setelah beberapa kali mengayunkan pedang kami tertahan satu sama lain hingga kami bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.


Jarum darah menyerangku dari atas memaksaku untuk mundur demi menghindarinya, Blossom memburuku dengan cepat demi mempersempit jarak.


Aku ingin menahan tebasan Blossom namun dia tidak menggunakan pedangnya melainkan sebuah tendangan yang menghantam perutku membuatku terhempas menyisir permukaan tanah sebelum menabrak beberapa bangunan di belakangku.


Beberapa puing-puing bangunan hendak berjatuhan menimpaku, dengan sedikit berguling aku bisa menghindarinya dengan baik sebelum duduk melirik ke arah Blossom yang berjalan dengan santainya.


"Kau lebih baik dari yang kuduga, dibanding musuh kau yakin tidak ingin melayaniku sebagai budak."


"Maaf saja aku tidak tertarik."


"Sayang sekali kalau begitu aku akan membunuhmu."

__ADS_1


Jarum-jarum itu berubah menjadi cairan darah kembali lalu menyatu seperti sebuah bola raksasa sebelum membentuk dirinya kembali menjadi tombak raksasa.


"Rasakan ini."


__ADS_2