
"Jadi ini gadis yang asli."
Raja iblis melirik ke arah gadis di tangannya sembari berkata demikian namun aku sudah menduganya, Estelle yang dia bunuh tiba-tiba menghilang lalu berubah jadi aliran petir yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Apa? Bagaimana bisa? Jika ini palsu lalu."
Tepat saat dia kebingungan sebuah cermin muncul di belakang raja iblis dan dari dalam sana Estelle melompat ke luar lalu menusukkan belatinya tepat menembus jantungnya.
"Mustahil?"
Darah menyembur dari mulut raja iblis.
"Kau telah merusak kehidupan orang lain maka itu terimalah balasannya dari orang yang telah kau renggut tempat tinggalnya."
Secara perlahan tubuh raja iblis mulai membeku, seiring waktu itu menjalar ke seluruh bagian hingga akhirnya seluruhnya berubah jadi es lalu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil.
Estelle terduduk lemah selagi mengangkat tangannya.
"Kita berhasil."
Dari awal dia memang bisa diandalkan, aku meminta Varlia meniru sihir raja iblis lalu memindahkan Estelle ke dalamnya dan itu ternyata terbukti berhasil.
Kami semua mendekat bersama-sama padanya. Mamia dan Hualing melompat untuk memeluknya.
"Sakit, sakit."
"Estelle memang seorang pahlawan."
"Benar sekali."
"Hentikan kalian berdua, berhenti memelukku."
Varlia menambahkan.
"Kau sudah berjuang keras, kerja bagus Estelle."
"Ini semua berkat semuanya."
Aku melepas topengku lalu tersenyum ke arahnya selagi mengacungkan jempol padanya.
"Kerja bagus."
Dan semua orang menatap wajahku begitu dekat.
__ADS_1
"Memang wajah berkualitas tinggi."
"Kau yakin tidak ingin main denganku."
"Kalian ini cobalah untuk serius."
Perlahan tubuhku maupun tubuh Hualing berubah bercahaya kemudian mulai memudar.
"Sepertinya sudah waktunya kembali, aku pasti akan merindukan kalian."
"Kami juga," jawab Varlia.
Dan Hualing tampak bersedih namun seperti yang dia katakan di dunia ini rasnya sudah tidak ada, itu bahkan membuatnya lebih kesepian lagi.
Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengan Varlia maupun semuanya.
"Terima kasih atas semua bantuannya."
"Kami juga, kini dunia kami sudah damai dan semua orang tidak perlu membahayakan dirinya sendiri lagi."
"Mamia?"
"Jaga dirimu, kau juga harus menyelesaikan pekerjaanmu juga."
"Tentu saja, akan kulakukan."
"Lion."
"Hidupmu kini baru dimulai, carilah seorang pria yang baik dan hiduplah bersamanya aku yakin mulai dari sana kebahagiaanmu akan berlipat ganda."
"Um, baiklah... aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu Lion."
Aku menepuk punggungnya dan selanjutnya aku maupun Hualing menghilang seutuhnya.
"Selamat tinggal Lion, aku harap kau juga berhasil menyelamatkan duniamu."
Perkataan terakhir Estelle mengantarkan kepergian kami.
Sepuluh tahun kemudian.
Di salah satu perkarangan rumah Estelle yang duduk selagi meminum tehnya tampak terkejut saat seorang gadis kecil memeluknya dari belakang.
"Mama, mama, hari ini di sekolah aku belajar sihir.. lihat ini."
__ADS_1
"Eh, biar mama lihat."
Gadis kecil itu mengulurkan tangannya dan sebuah sihir air muncul dari sana, itu sangat kecil hingga mirip seperti air mancur.
"Bagaimana mama?"
"Bukannya itu terlalu lemah."
"Ini hanya permulaan tapi lain kali aku bisa membuat yang jauh lebih besar loh... guru Mamia bilang begitu juga."
"Berarti itu benar."
"Biar mama beri tahu satu rahasia?"
"Apa itu mama?"
"Mama juga bisa mengunakan sihir loh.. mau mama ajari."
"Uwaahh benarkah, aku mau tapi jika lemah aku tidak mau."
"Kamu meremehkan ibumu lihat ini."
Estelle mengarahkan tangannya dan semburan api meluncur ke udara mirip nafas dari naga api.
"Hebat sekali."
"Lihat ini juga."
Dan sekarang di tangan Estelle tercipta bunga yang terbuat dari es.
"Mama sangat hebat, tolong ajari aku juga."
"Ini perlu latihan keras loh."
"Tidak masalah, aku akan berjuang... oh yah, bibi Varlia akan menikah apa kita akan pergi ke istana juga?"
"Hora jangan memanggilnya bibi, panggil yang mulia ratu."
"Tapi aku lebih suka memanggilnya begitu."
"Tidak boleh, untuk sekarang mari temui ayahmu dan bilang kita akan pergi lebih awal."
"Baik."
__ADS_1
Keduanya berjalan masuk ke dalam mansion.
Sementara itu di tempat lain Mamia dan juga putri kembarnya sudah bersiap pergi dengan suaminya juga.