
Saat jamuan berlangsung aku meminta izin untuk pergi dan bertemu pemimpin dari ortodoks suci bernama Winny.
Sebagian penampilannya mirip seperti Venus tapi jelas dia orang yang berbeda.
"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan tuan Lion."
"Kau terlalu berlebihan."
"Tidak, bagi kerajaan kami Lion adalah pahlawan kami."
"Meskipun aku mengambil seluruh elf yang kalian penjarakan."
"Itu hanya kesalahpahaman, jika mau aku akan menebusnya.. walau tubuhku tidak terlalu bagus tapi selamat menikmati."
"Hentikan, aku cuma bercanda... aku tidak peduli dengan masa lalu."
Aku buru-buru untuk menghentikannya.
"Begitukah."
"Jadi apa yang ingin kau katakan?"
"Itu... aku hanya ingin menyapa saja hehe."
__ADS_1
Dia mengatakannya selagi menggaruk pipinya tersenyum lembut, itu sudah cukup menjerat pria untuk melindunginya dan aku juga ingin melindunginya.
Aku berkata dengan nada kurang meyakinkan.
"Kerajaan ortodoks suci masih dalam pembangunan tapi malah diserang oleh pihak kekaisaran aku pasti akan merebut kembali dan mencoba untuk membantu pembiayaan lainnya."
"Tuan sangat baik, aku akan melayani anda selama hidupku."
"Itu bukan sesuatu yang dikatakan oleh penguasa."
"Benarkah? Nona Venus bilang aku bisa melakukan apapun yang kusuka... beliau adalah guruku."
"Guru? Apa kau bisa menggunakan 12 lingkaran sihir Algoritma."
"Tentu."
Selama tiga hari berita tentang peperangan telah terjadi di beberapa titik, kami semua membagi seluruh pasukan maupun pasukan anti kekaisaran di zona merah sebagai pasukan tambahan.
Di luar dugaan pidato ratu kerajaan Frames bisa memiliki efek yang luar biasa seperti ini, dia memang bukan loli sembarangan.
Aku memimpin pasukan bersama Thomas dan Ginny, Glory juga ikut bersamaku ke pesisir perbatasan antara kerajaan ortodoks suci dan kerajaan Frames.
Tentu kerajaan ortodoks sepenuhnya dikuasai kekaisaran dan kami akan merebutnya kembali.
__ADS_1
Kami mengangkat bendera pembebasan dan kemudian menuruni bukit dengan kuda untuk membasmi pasukan kekaisaran. Mereka yang sebelumnya teralihkan dengan pemberontak tidak sempat menangani serangan kami yang tiba-tiba.
Dengan mudah kami membantai pemimpin pasukannya dan berkata akan mengampuni siapapun yang memutuskan untuk menyerah. Mereka menjatuhkan senjata mereka sebagai bentuk balasan apa yang kukatakan.
Mereka telah menghancurkan banyak negara akan lebih baik jika mereka menebusnya dengan memperbaiki semuanya sebagai pekerja gratis.
"Di sini telah selesai," kata Glory dan aku mengangguk mengiyakan.
Setelah membereskan yang di sini, kami juga akan pergi ke wilayah lainnya untuk merebut kembali negara yang kekaisaran taklukkan. Semua ini benar-benar memerlukan waktu yang lama.
Beberapa hari berikutnya rombongan pasukan kami telah mencapai hutan berantara untuk menantang pasukan yang dipimpin oleh anak buah Solomon.
Sebelumya mereka adalah pasukan dari kerajaan Borman yang berkhianat dan memutuskan bergabung dengan pihak kekaisaran.
Dua orang dari ketujuhnya berhasil di kalahkan meliputi Aspalta dan Miguel dan sekarang tinggal lima orang lagi.
Dua diantaranya adalah Evila dan Kuno sementara sisanya masih belum di ketahui, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai tujuh penyihir kerajaan Borman meksipun sebenarnya mereka hanyalah pemberontak.
Aku tidak tahu bagaimana Solomon bisa membujuknya yang jelas semua orang di sini telah menari-nari di telapak tangannya.
Perang akan dilakukan besok hari tepat jam 12 siang, sebelum itu kami bisa mendirikan kemah dan beristirahat sebisanya.
Perang tidak selalu seperti pihak lawan harus melawan pihak lainnya tanpa persiapan, terkadang kedua belah pihak bisa melangsungkan peperangan setelah masing-masing bernegosiasi tentang waktu yang ditentukan agar masing-masing bisa mengerahkan kekuatan secara maksimal.
__ADS_1
Bertarung layaknya kesatria terpuji tidaklah terlalu buruk meski begitu kami masih tetap harus berjaga-jaga.
Sama seperti sebuah negara dalam peperangan yang mengklaim hanya menyerang daerah militer namun sebenarnya menghancurkan warga sipil, hal seperti itu bisa terjadi juga di dunia ini.