
Sejak pertemuan dengan Clarisa, Nightmare kecil tidak pernah berhenti untuk membenci dunia ini.
Dia membenci rasnya dan juga membenci ras naga.
Ras Elf tidak menerimanya sementara ras naga membunuh kedua orang tuanya dan menjualnya, sesuatu yang tidak bisa dibayangkan di usianya yang muda. Di sisi lain dia telah menerima berbagai pelecehan yang mana membuatnya kehilangan alasan hidup.
Yang bisa dia harapkan hanyalah kematian.
Namun jauh dari dalam hatinya dia membenci dunia ini termasuk para dewa-dewi yang membuatnya mengalami hal ini tanpa berusaha menyelamatkannya sedikit pun.
Ketika Nightmare dipenuhi kegelapan, Clarisa menyodorkan batang es manis padanya.
"Jangan melamun saja, makanlah."
Nightmare hanya memandangnya tanpa mengatakan apapun hingga Clarisa menunjukkan caranya.
"Lihat ini, kau hanya memasukannya ke dalam mulutmu lalu menggerakkannya maju mundur bukannya ini mirip ketika kita berhubungan intim."
"Apa guru bukan perawan?"
"Tentu saja aku perawan."
"Aku meragukannya."
Nightmare mengambil es itu dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Setelah aku menyelamatkanmu dan mengajarimu selama setahun ini, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan menghancurkan dunia ini termasuk ras naga dan mengambil posisi para dewi demi menciptakan dunia yang baru."
__ADS_1
"Kau masih menaruh kebencian."
"Apa guru akan menghentikanku?"
"Aku tidak punya hak untuk menghentikanmu atau mendukungmu tapi aku harap kau bisa memilih jalan yang benar."
Nightmare menatap tajam.
"Entah apa yang kau ambil kau tetap saja murid pertamaku, aku akan menyayangimu sampai kapanpun."
Clarisa memberikan secarik kertas kepada Nightmare.
"Itu adalah lokasi perpustakaan terlarang, kau bisa belajar di sana entah sihir kutukan, sihir suci ataupun sihir lainnya kau bebas mempelajarinya."
Nightmare berdiri lalu membungkuk ke Clarisa yang membalikkan badannya selagi melambaikan tangannya.
"Terima kasih atas segalanya."
Nightmare hanya melihat kepergian gurunya dari kejauhan, walau tubuhnya kecil bagi Nightmare dia sosok yang besar yang memiliki ideologi kebebasan yang tidak bisa hidup terikat oleh siapapun.
Membayangkan bisa menjadi muridnya adalah sesuatu yang berharga yang dimiliki Nightmare selama ini.
Atau mungkin inilah satu-satunya yang dia miliki.
Setelah mengemasi barang bawaannya ke dalam tas kecil, Nightmare mengambil jalan berbeda, ia menyusuri jalanan setapak hingga sampai di sebuah kota besar.
Alamat yang diberikan gurunya sesuatu yang tidak ia ketahui, mungkin jika dia bertanya pada beberapa orang dia akan bisa menemukan sedikit informasi.
Berbeda dari dulu Nightmare sudah bisa melindungi dirinya sendiri.
__ADS_1
Ketika berjalan seorang pria menariknya ke dalam gang bersama teman-temannya. Nightmare hanya tersenyum dan berkata.
"Aku akan melakukan apapun, tolong jangan bunuh aku."
Tentu itu hanya akting belaka.
"Kau cukup manis jadi lepas pakaianmu dan kita bisa..."
Sebelum pria itu menyelesaikan perkataannya sebuah pisau menembus sebelah matanya, di saat ia mengerang kesakitan.
Pisau lain menebas lehernya membuat kepala itu terjatuh ke tanah. Memuncratkan darah bagaikan air mancur.
Keempat rekan yang melihatnya hanya bisa terkejut tanpa bisa mengatakan apapun, yang bisa mereka terima setelahnya hanyalah kematian.
Satu orang di pasung di atas tembok, satu orang terbelah hingga tercabik-cabik, satu orang yang lain terpenggal dan satu lagi hanya bisa merangkak ketakutan.
"Tolong ampuni aku, tolong... siapa saja selamat aku," katanya dengan putus asa.
Nightmare duduk di atas pria malang itu selagi menggerakkan tubuhnya di antara pahanya, maju dan mundur.
"Bukannya kalian suka melakukan ini, bagaimana rasanya... nikmat kan."
"Jangan bunuh aku."
Nightmare menarik pisau dari tangannya lalu menembuskannya ke dalam mulutnya.
"Kalian ras manusia akan musnah, aku akan menjamin hal itu."
SRAK.
__ADS_1
Pria itu mati dalam sekejap.