
"Gracia Roux yang bertemu denganku adalah Gracia yang kukenal di dunia sebelumnya."
"Benar sekali, dia bereinkarnasi lalu aku mengirimnya ke masa lalu untuk mencegah peperangan ini terjadi bahkan sebelum tujuh mahkota dewi diciptakan ia sudah menanggung nama pahlawan dari awal namun semua itu tidak bisa menghindari ini semua."
Sepertinya ingatannya dihapus, kurasa aku tidak ingin memaksanya untuk mengingatku kembali aku akan mengambil jalan baru untuk mengenalnya.
Seolah menyangkal apa yang kupikirkan, Amnesty menyela.
"Jika kau mau, aku bisa mengembalikan ingatannya... dia sangat terluka karena tidak bisa bertemu denganmu, alasan itulah yang membuatku mengambil ingatannya tapi sekarang mungkin dia akan merasa bahagia."
"Meski kau bilang begitu, mungkin dia akan marah dan menyalahkanku atas apa yang terjadi."
Amnesty menghela nafas kecil lalu melanjutkan.
"Ini adalah masalahmu yang belum terselesaikan, aku akan memberikanmu kesempatan... apa kau ingin mengembalikan ingatan Gracia atau tidak, terserahmu."
Amnesty mengeluarkan sebuah bola kecil yang diberikan padaku, dia mengatakan itu adalah seluruh ingatan Gracia. Aku masih belum berani melakukannya, aku yakin saat itu Gracia benar-benar menyalahkanku.
Berhubung tidak ada lagi yang kukatakan, sudah waktunya untuk pergi, aku berdiri selagi mengucap terima kasih atas tehnya dan meminta Amnesty untuk mengembalikanku ke menara Aira.
"Ya, sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu... kau ingin mengambil ras Oni untuk menjadi pelayanmu dan memberikan tujuh dosa pada mereka, saranku lebih baik urungkan saja."
"Alasannya?"
__ADS_1
"Tanyakan pada Harty, ia akan menjelaskannya.. kalau begitu sampai nanti."
"Tunggu.."
"Kuyakin kau bisa membuat dunia itu lebih baik, aku mengandalkanmu."
Aku keluar dari gerbang dan menemukan Rion dan Aira telah berdiri menungguku. Banyak informasi yang masih membuatku pusing namun aku akan mencerna semuanya secara perlahan lalu mengambil jalan yang termudah untuk menyelesaikannya.
"Kamu baik-baik saja Lion?" tanya Rion merangkulku.
"Tak apa, aku hanya sedikit pusing... dunia ini benar-benar sangat rumit."
"Aku juga tidak bisa menyangkalnya, yang lebih penting sekarang hanya memikirkan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan.... seperti biasa aku tidak ingin bertarung lagi, aku hanya akan menjadi pedangmu. Gunakan aku semaumu."
Saat aku memiringkan kepalaku Aira telah menjadi Katana putih dan begitu juga Rion. Kurasa memang sudah waktunya bertarung.
Aku keluar dari menara Aira dan melihat sekumpulan raksasa telah masuk ke dalam kota, berbeda dari sebelumnya mereka adalah raksasa yang berasal dari manusia sepertinya Nightmare memang merencanakan ini.
Dia menghancurkan kota untuk membiarkan mereka masuk kemari.
Aku mengayunkan pedangku ke samping dan itu menghantam Nightmare yang muncul secara ajaib di sampingku.
"Owh.. kau menyadarinya juga."
__ADS_1
"Sudah jelas bukan, Titan Iblis tidak mungkin muncul di kota ini secara ajaib kau pasti yang membawanya."
"Tepat sekali, aku hanya meminjam beberapa raksasa ini dari setiap desa. Tak kusangka mereka mempunyai hal yang bagus."
Dia melompat ke belakang selagi masih memegangi pedangnya.
"Perang besar akan dimulai, jadi aku juga ingin ikut berpartisipasi sekarang. Namamu Lion kan.. utusan dewi jahat."
"Seperti itulah."
Aku mengayunkan pedang Lion untuk menciptakan bilah angin yang dengan santai ditangkis ke arah samping.
"Kau sepertinya ingin sekali membunuhku."
"Sudah jelas, perang ini adalah ciptaanmu dari awal... apa tujuanmu?"
"Aku ingin membuat ras iblis menjadi satu-satunya yang ada di benua ini."
"Haha kau pasti bercanda... impianmu lebih dari itu bukan, kau ingin membangkitkan naga Azure yang kau layani untuk bisa sampai ke alam dewi."
"Darimana kau tahu itu?"
Ini hanya pengetahuan yang kudapatkan dari Amnesty. Lagipula identitas sesungguhnya dia adalah seekor naga.
__ADS_1
Ia memiliki skill tujuh dosa mematikan, salah satunya dosa kecemburuan yang membuat dirinya bisa menjadi sosok apapun yang dia inginkan entah itu staf guild ataupun seorang elf.