Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 183 : Pertarungan Bagi Pengguna Pedang


__ADS_3

Aku memanggil sosok itu dengan sebutan Livia, seorang yang mengaku dirinya sebagai Titan Pedang


Dia menarik katananya lalu menebaskannya di udara menciptakan bilah berbentuk bulan sabit yang memotong apapun yang dilewatinya, bagiku atau Gracia sangat mudah untuk menghindarinya namun dalam sesaat tubuh kami sulit digerakkan.


"Ini?"


Tekanan dari niat membunuh Livia mencegah kami bergerak.


Dia muncul di depan kami.


Bergeraklah tubuhku.


Sedikit mendorong tekad dalam diriku telah membuat pendangku untuk menahan serangan Livia, di sisi lain tubuh Gracia masih belum ada tanda-tanda bergerak.


"Kurasa kau lebih baik dari yang terakhir kita bertemu," ucap Livia dingin.


"Tentu saja, aku tidak ingin kau memotong tanganku lagi."


"Mari kita lihat apa kau bisa mencegahnya atau tidak."


Aku memberikan tendangan lomotif, karena aku tidak memakai kimono tidak ada salahnya bergerak secara bebas.


Dentrang... dentrang... dentrang.


Livia mengalirkan sihir kegelapan ke dalam pedangnya sebelum menebas ke arahku, jika aku menghindar maka Gracia akan terkena jadi tidak ada alasan untuk tidak menahannya.


Pedang kami berbenturan menciptakan lapisan ledakan secara bertahap, dari retakan, kehancuran kemudian ledakan yang meratakan sekeliling kami.

__ADS_1


Aku mendorong pedangku membuat Livia melompat bersalto ke belakang.


Sarung pedang yang sebelumnya dia buang kembali terbang ke tangan kiri sementara tangan kanan memasukan kembali senjatanya.


"Aliran pedang iblis, tebasan kegelapan."


Aku pun melakukan hal sama.


"Yamata no Orochi, bentuk kedua."


Aku menebaskan pedang ke udara menciptakan sebuah retakan kecil, dari retakan itu dua kepala ular keluar untuk menghadang tebasan kegelapan milik Livia.


Itu menciptakan ledakan saat saling berbenturan.


Di saat ledakan itu menghilang kami melesat maju dan sekali lagi saling menubrukan pedang. Memikirkan saat dimana aku lengah selalu menjadi bayang-bayang penyesalan.


Hari ini aku tidak akan membiarkan tanganku tertebas dengan mudah.


Shinai adalah sebuah pedang bambu yang biasa digunakan dalam kendo.


Walau sempat dimarahi aku terus meniru mereka sampai akhirnya aku bisa menggunakan sedikit gerakan mereka.


Melihatku yang mengangkat pedang setinggi kepala membuat pergerakan Livia terhenti tepat saat dia mencoba menyerangku pedang dijatuhkan dan itu menciptakan dentingan yang memekakkan telinga.


"Mustahil?"


Pedang Livia patah dan darah tercipta dari kain yang merebas ke tubuhnya, ia perlahan kehilangan keseimbangannya sebelum benar-benar jatuh terlentang.

__ADS_1


Di detik barusan aku telah memusatkan seluruh tenagaku untuk satu tebasan saja bahkan jika sekarang ada Titan yang mendekat aku sudah kehilangan tenaga.


"Cepat lari Kizuna, kau bisa mati."


"Aku sudah lemas, kurasa aku akan mati di sini."


"Kau tidak akan mati," Charlotte berubah bentuk lalu berusaha menarikku menjauh namun hal itu terlambat.


Titan bersiap menginjakkan kakinya dan sebelum aku mengetahui apa yang terjadi, Titan itu telah kehilangan kepalanya saat Gracia muncul dari samping menebasnya.


"Gracia?"


"Maaf aku sedikit terlambat."


"Kau melukai pahamu sendiri," teriakku.


Aku bisa melihat darah menetes dari sana.


"Mau bagaimana lagi sulit untuk menghilangkan Intimidasi barusan."


"Kau benar-benar nekat, sekarang habisi aku.. sebelum aku berubah menjadi Titan."


"Tentu."


Gracia mendekat ke arah Livia, dia mengangkat pedangnya kemudian menancapkannya tepat di samping wajahnya.


"Sekarang kau sudah mati, kini kau telah memiliki hidup baru dan akan ikut bersama kami pergi ke benua iblis."

__ADS_1


"Kalian benar-benar naif."


Kami bertiga hanya tersenyum selagi melihat Livia yang hanya memejamkan matanya pasrah. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan namun kurasa itu sesuatu yang membuatnya bisa tersenyum kecil.


__ADS_2