
Menyadari situasinya Livia menyarungkan pedangnya kembali. Apa yang dikatakan Julie adalah sesuatu yang masuk akal dan tak bisa terbantahkan bahkan seluruh perang yang terjadi tidak bisa kita asumsikan kesalahan satu orang.
Aku juga tidak tahu siapa yang harus disalahkan, Solomon berjuang demi rasnya hingga merubah dirinya menjadi sosok jahat. Nightmare juga memiliki hal serupa demi membalaskan kematian orang tuanya dia mengambil kemampuan tujuh dosa mematikan yang jelas lebih gelap dari yang kumiliki.
Satu hal yang kami memiliki hanyalah berjuang demi mencapai tujuan masing-masing. Dari dulu aku selalu penasaran bagaimana perubahan Titan bisa diberikan pada manusia dan juga apakah ada obat yang bisa digunakan untuk mengembalikannya? Aku bertanya kedua hal itu dan Julie menjawabnya.
"Aku menggunakan darah Titan sendiri dengan mengekstraknya, darah itu akan mengambil alih sel darah merahmu lalu meregenerasi hingga jumlahnya semakin banyak dan menjadi penggantinya."
Mungkin terlihat seperti inpeksi virus, dia melanjutkan.
"Darah akan berubah menjadi daging dan tulang dengan kecepatan tinggi, karena itu manusia biasa bisa berubah menjadi Titan dalam kasus Solomon dia juga menggunakannya pada iblis juga."
"Gerbang Solomon?"
"Aku yakin dia mengatakan soal itu, gerbang itu terhubung dengan dunia di mana para iblis berada kurasa Solomon lebih dulu merubah mereka menjadi iblis Titan."
Semuanya jadi lebih masuk akal sekarang.
"Lalu jika soal penawar, hal itu tidak ada... setiap darah yang sudah dirubah tidak akan ada penawarannya, mereka hanya hidup sebagai manusia dan Titan dalam waktu bersamaan."
Livia mendesah pelan.
__ADS_1
"Kau bilang kau disuruh seseorang untuk menyelidiki wilayah peperangan, apa semua itu bohong?"
"Benar, aku bekerja sendirian."
"Jadi begitu, para ras Titan telah mendapat tempat mereka yang lebih baik dalam waktu dekat kebenaran soal peperangan akan terungkap jadi kalian semua tidak perlu bersembunyi lagi," atas pernyataan Livia, Julie menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan.
"Kami telah hidup cukup lama di sini, kami lebih terbiasa hidup seperti ini."
"Tapi."
Aku meletakkan tanganku dibahu Livia.
"Sudahlah, semua orang berhak memutuskan jalan apa yang mereka pilih, kita tidak bisa memaksa siapapun."
Aku menyeruput tehku.
"Kini entah ras Titan, iblis ataupun elf telah memiliki kehidupan yang damai... aku pasti akan mengalahkan Solomon dan membuat kedamaian itu terus terjaga selamanya."
"Yah, kuharap begitu."
"Terima kasih untuk tehnya kami sangat menghargainya."
__ADS_1
"Kau sudah mau pergi rupanya haha sayang sekali aku pikir kau akan menginap di sini."
"Kami sudah ada tempat untuk bermalam kau bisa ikut dengan kami kembali, kalau mau?"
"Tidak-tidak, aku adalah orang bebas aku tidak terikat dengan seseorang.. sampai jumpa."
Aku memunculkan Teleportasi Gate yang mana menjadi jalan kami kembali ke ortodoks suci, saat gerbang tertutup kami berdua telah kembali ke perkarangan istana. Semuanya tampak damai seperti biasanya.
Winny muncul bersama Glory di sampingnya.
"Tuan Lion akhirnya aku menemukanmu?"
"Winny, apa terjadi sesuatu?"
"Tidak juga, aku sudah menghubungi seluruh kerajaan termasuk kerajaan Frames mereka bilang akan hadir dalam rapat."
"Cepat sekali."
"Saat aku mengatakan namamu semua orang segera bergerak cepat.. kupikir mereka semua sangat mempercayaimu terutama saat insiden penyerangan Kekaisaran."
"Begitu, padahal aku belum melakukan perbaikan di kerajaan ortodoks tapi kau telah lebih dulu memulainya, sangat mengagumkan."
__ADS_1
"Hehe tolong puji aku lebih banyak."
Aku hanya tersenyum kecil sebagai balasan.