
Aku sudah tidur sangat lama dan juga tidak ada pekerjaan yang bisa kulakukan maka dari itu aku bergabung dengan regu Alexander sebagai pembawa tas barang bawaan.
Aku memiliki sihir penyimpanan jadi saat aku menunjukannya mereka memasang wajah terkejut.
"Kau bisa menggunakan sihir seperti itu, luar biasa."
"Yah bukannya ini hal yang lumrah?"
"Lumrah jidatmu, bahkan penyihir seperti Yui belum tentu bisa menggunakannya."
"Itu terdengar menyakitkan tapi memang benar."
"Lu siapa lu?"
Oi, kemana wajah seriusmu yang tadi.
Helen mencoba menenangkan Alexander.
"Tenanglah Alexander, Lion mungkin memang orang yang mengalahkan pahlawan."
"Mencurigakan."
Wajah seriusnya balik lagi.
Aku harap dia benar-benar serius karena kami sudah mulai masuk ke dalam dungeon sekarang.
"Wahai roh api, tolong tuntun jalan kami."
Yui merapalkan sihir api di mana ia menciptakan bola kecil yang melayang ke udara untuk menerangi kami. Pekerjaan kami adalah menambang Iron Ore di lantai 5, pekerjaan seperti ini adalah pekerjaan yang sering kau lihat di sebuah permainan game RPG pada umumnya.
__ADS_1
Karena sebatas monster kelas menengah bahkan dengan kelompok ini, mereka mampu melakukannya tanpa bantuanku.
Seekor kecoa bermunculan dari kegelapan, serempak menyerang ke arah kami, Alexander menarik pedang ke tangannya sebelum berlari menerjang, di saat yang sama Yui menggunakan sihir api.
"Wahai roh api, kalahkan musuh kami... Fire Bolt."
Rapalan sihir itu sepertinya dipersingkat dengan baik, adapun untuk Helen ia menggunakan rapier sebagai pendukung di garis depan.
Mereka kekurangan seorang pendeta dari penglihatanku tapi kurasa mereka menggunakan potion untuk menutupinya, potion cukup mahal jadi bagi mereka penjelajahan ini jelas sangat penting.
Seekor kecoa muncul di sampingku yang sedang berfikir, Yui memperingatiku.
"Lion di sampingmu."
Aku tidak melihat ke arah kecoa dan hanya mengulurkan tanganku dan berkata.
"Fire Bolt."
Kecoa yang lainnya mulai berhamburan pergi dan Yui tampak frustasi juga.
"Bagaimana Lion bisa mengunakan sihir tanpa rapalan terlebih kekuatannya jelas tidak masuk akal."
"Benarkah? Selain api aku juga bisa membuat semua elemen sihir dasar."
"Itu bukan dasar lagi."
Sekarang ada dua orang yang menatapku dengan gumaman Mencurigakan. Yang barusan aku menggunakan sihir secara spontan sulit juga untuk menyembunyikannya.
Kami turun ke lantai dua yang dihuni segerombolan slime yang berbentuk seperti pohon, cabangnya terbuat dari tentakel lengket yang dengan senang akan melecehkanmu sedemikian rupa para wanita paling takut dengan ini, namun yang terjadi sekarang malah sebaliknya.
__ADS_1
Alexander berlutut di pinggir dungeon selagi gemetaran.
"Mereka menjijikan sekali."
Bisa-bisanya orang ini jadi petualang.
"Uwaah... Yui aku terjerat, mereka memasukan tentakel mereka ke dalam celanaku."
"Aku juga, hentikan... aku akan basah."
Sudah cukup dengan fan service seperti ini.
Aku terlalu sering melihatnya soalnya.
Kuulurkan tanganku hingga sebuah lingkaran sihir raksasa tercipta di tanganku, itu menyelimuti sihir air yang kutembakan pada slime tentakel ini.
Mereka melepaskan ikatan mereka lalu secara berkelompok pergi ke tempat lain. Paling tidak mereka tahu tingkat kekuatan seseorang.
Di lantai tiga kami berhadapan para tikus, di sini Alexander paling bersemangat hingga aku memandangnya dengan wajah bermasalah.
"Kenapa orang ini?" tanyaku.
Yui tersenyum masam sementara Helen menjelaskan.
"Sebenarnya celana boxer favoritnya berlubang karena digigit tikus, jadi saat dia melihat tikus dia sangat marah."
Orang ini tidak bisa tertolong lagi.
Mangkanya cuci celanamu.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong celana seperti apa itu?"
"Celana merah muda dengan bentuk hati."