
Anak panah yang dibuat dari sihir akan hilang setelah mengenai targetnya, saat luka darah menetes dari bahuku, aku segera menyembuhkannya dengan sihir air.
Di saat yang sama aku menghindari panah berikutnya. Menghasilkan ledakan di setiap tempat yang kulewati.
Pria yang melakukannya tampak menyeringai senang.
"Hoyah, hoyah, jika bukan si iblis topeng lalu siapa lagi yang ada di sini?"
Jujur, ini pertama kalinya seseorang memanggilku dengan iblis topeng, aku berdiri untuk melihat pria tersebut.
Dia laki-laki di usia awal 30an mengenakan kacamata serta berambut putih gelap, ia mengenakan jubah pendeta yang memberikan nuansa religius di tingkat tertentu.
Aku harus bilangan dia seperti seorang Priest yang sangat dikagumi, aku bisa melihat semua tentara memberikan hormat padanya.
Untuk pemulaan mari bertukar obrolan.
"Iblis topeng, aku belum pernah mendengar hal seperti itu."
"Lalu apa kau bisa menjelaskan ini?"
Orang itu menunjukan selembaran yang di dalamnya ada wajahku dengan imbalan tinggi. Sialan... negara api, mereka bahkan mengirim poster buronan ke negara lain dan juga sebutanku ditambahkan sebagai iblis topeng yang menculik calon penggantinya, mungkin orang diculik telah diperkosa beberapa kali.
Tuduhan yang mengerikan.
"Aku tidak bisa berkomentar apapun."
Pria di depanku tertawa.
"Mungkin inilah takdirku untuk menghabiskan iblis topeng, berkah Dewi Suci Aira telah memberikan kekuatan untuk melakukannya."
"Paling tidak sebutkan namamu?"
__ADS_1
"Benar juga, namaku Laxus sang Priest Agung, merasa terhormatlah bahwa aku sendiri yang menyucikan orang jahat sepertimu."
"Kau tidak ingin tahu namaku dulu?"
"Kau iblis dan itu sudah cukup menghancurkanmu."
Dia mengarahkan tongkatnya lalu berkata.
"Holy Explosion."
Dan ledakan menggema di udara.
Aku bisa menahannya tapi setengah dari Colosseum ini telah hancur berkeping-keping.
"Iblis topeng benar-benar kuat, aku seharusnya tidak meremehkannya... maka dari itu akan kubuat hal barusan 10 kali lipat."
Apa-apaan orang gila ini.
Jika dia melakukannya sudah jelas kotanya akan hancur.
Tepat saat lingkaran sihir muncul, seorang pria lebih dulu memotongnya, tidak, itu seorang wanita dengan rambut pendek serta pakaian putih lengkap dengan jubah dan sebuah Rapier di tangannya.
"Solo, apa maksudnya ini?"
"Maaf priest agung, tapi melawan iblis rendahan seperti ini tidak perlu melibatkan kekuatan Anda yang maha dahsyat, biar aku saja cukup."
"Itu memang benar, tapi aku ingin sekali menyucikan iblis topeng ini.. jadi kuharap jangan menggangguku."
"Jika anda bilang begitu apa boleh buat."
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan gadis suci?"
__ADS_1
"Dua orang telah dinyatakan telah tewas, dan satu orang bilang bahwa iblis topeng menculiknya."
"Hoh, jadi kau terlibat dalam pembunuhan gadis suci."
Dia langsung menuduhkan hal itu padaku.
"Apa maksudnya? Aku tidak terlibat soal pembunuhan yang dilakukan demi human."
"Hora, kau tahu bahwa yang melakukannya demi human dengan kata lain mereka merupakan kelompokmu bukan?"
Sial... orang ini membalikan fakta, jika melihat' seluruh ekspresi dan tindakannya jadi jelas dialah orang yang memerintahkan mereka.
Itu hanya dugaanku sementara.
"Untuk sekarang dia benar-benar harus diberikan hukuman langit."
Priest agung mengarahkan tongkatnya kembali memunculkan sihir tingkat atas, aku mendecapkan lidahku selagi melirik ke arah kota dari reruntuhan Colosseum.
Aku jelas tidak bisa membuat mereka mati begitu saja.
Aku tertawa selagi membuang pedangku hingga meluncur ke arah priest agung yang ditangkap baik oleh wanita itu.
"Benar aku iblis topeng itu, kurasa hari ini aku mengaku kalah tapi lain kali aku datang lagi untuk mengalahkan kalian, sampai nanti."
Aku mundur perlahan saat sebuah gerbang muncul di belakangku.
Solo hendak mengejarku.
"Hentikan, ada kesempatan lain untuk membasminya."
"Baik."
__ADS_1
Aku bisa melihat pria itu menyeringai dari balik topengku. Dia jelas orang yang sangat berbahaya.
Tanpa pedang Rion mustahil untuk mengalahkannya hanya dengan kekuatan setengah-setengah.