
Di dalam kemelut kekacauan, para petualang yang masih berada di kota mulai menyerang secara serempak untuk menjatuhkan tikus raksasa tersebut. Para penjaga kota pun turut mengevalusi penduduk ke tempat aman.
Untukku sendiri masih disibukkan untuk mengobati luka dari wanita yang telah kuselamatkan.
Air mata menetes dari wajahnya, semua rekannya sudah dinyatakan tewas dan ia adalah satu-satunya orang yang selamat dari bawah tanah itu.
Aku mengalihkan pandangan ke arah Rion yang mengangguk kecil, alasan kami mengambil misi berbahaya ini adalah untuk mengetes seberapa besar kemajuanku dalam menggunakan kemampuan yang diberikan Rion.
Maka dari itu kedua mataku telah berubah ke mode ilahi dengan pola bintang bersinar, sementara orang-orang mengulur waktu bagiku aku telah berdiri dia area kosong dengan lingkaran sihir di bawah kakiku.
Dari lingkaran sihir itu petir menyeruak ke sekelilingnya bersama tubuhku yang mulai bercahaya.
"Akan kumulai, kalian semua mundurlah," teriakku memancing perhatian.
"Orang itu akan melakukan hal gila, cepat semuanya mundur."
Satu orang berhasil membuat yang lainnya turut menjauh, kupegang pedangku dengan dua tangan selagi mengarahkan ujung pedangnya pada tikus yang kini menatapku dengan mata merahnya.
__ADS_1
Aku tahu siapa lagi yang memiliki mata merah seperti itu bahkan yang jauh lebih mengerikan.
Petir di sekitarku mulai membentuk dirinya semakin besar dan mengerucut tajam mengikuti arah pendangku.
"Lightning Strike."
Bersamaan perkataanku petir ditembakan bagai sebuah laser yang mana menghancurkan tubuhnya hingga bagian atasnya meledak, karena kuatnya sihir yang kugunakan laser itu menembus ke luar kota dan menghancurkan satu gunung dengan mudahnya.
Tubuh tikus itu rubuh ke samping sebelum dia mampu beregenerasi aku menghancurkan seluruh tubuhnya dengan sihir api tanpa menyisakan sedikitpun daging di sana.
Satu quest berhasil berarti tinggal empat lagi yang harus diselesaikan, sekarang kami mendaki gunung cukup tinggi. Saat di puncaknya hari sudah senja dan ada seekor golem batu yang harus kukalahkan di sana.
Menurut kota sekitar, golem ini sering mengamuk dan melemparkan bebatuan ke bawah membuat belasan rumah hancur serta membunuh belasan orang karena perbuatannya.
Berbeda dari tikus, golem ini cukup mudah dihadapi, aku bereksperimen untuk menyatukan petir dan api lewat pedangku dan itu menciptakan kekuatan sepuluh kali lipat yang mana meledakan golem itu menjadikannya kepingan kecil.
Rion maupun wanita guild menyembunyikan wajah keduanya untuk menghalau debu yang menyembur ke arah mereka.
__ADS_1
"Luar biasa, sihir yang sangat kuat."
"Ini bukan apa-apa, suamiku masih bisa melakukan yang lainnya juga."
Dalam sehari dua quest cukup melelahkan karena itu kami kembali ke kota untuk memesan satu kamar untuk aku dan Rion tinggali, untuk wanita guild dia menginap di kamar sebelah.
Sungguh dia terlalu berdedikasi akan pekerjaannya.
Jika menyangkut keluargaku di Elfdian mereka sudah terbiasa saat aku tidak kembali pulang.
"Apa wanita di sebelah kita akan baik-baik saja, dia sepertinya terlalu memaksakan diri," ucap Rion demikian sementara aku membalas ringan selagi merapikan rambutnya di depan cermin.
"Kupikir setiap orang memiliki alasan sendiri untuk bekerja keras."
Pagi berikutnya kami pergi ke danau untuk mengalahkan beberapa buaya, aku sekali lagi menggunakan Lightning Strike yang diperlemah di level tertentu.
Itu cukup membuat danaunya seketika mendidih dan ikan-ikan mati karena efeknya juga. Syukurlah bahwa desa yang meletakan pekerjaan di guild tidak marah akan hal ini dan masih mau memberikan imbalannya.
__ADS_1