
Walau sudah mengambil jalur berbeda monster tetap saja bermunculan, aku mengambil posisi di depan Karl selagi menarik pedangku.
Pedang diayunkan dan itu menciptakan bilah air yang meluncur memotong apapun di depannya.
Berbeda saat melawan Dog Hunter para serigala hitam ini tidak terlalu kuat, aku bisa membunuh mereka beberapa dalam satu tebasan.
"Water Slash, kemudian Water Boom."
Bola air yang bisa meledak adalah sesuatu yang kubuat sendiri walaupun tidak menghasilkan damage apapun itu cukup mengecoh banyak musuh.
Aku mengirim salah satu serigala terbang menghantam pohon hingga tak sadarkan diri.
Aku melompat untuk menebas satu lagi sebelum akhirnya melesat ke arah Karl yang lebih dulu berada di depan.
"Di sana."
Aku bisa melihat sebuah bangunan berdiri, walau disebut benteng kurasa bentuknya hanya menyerupai kastil kecil. Beberapa orang dengan armor berat sedang melawan beberapa goblin.
Kupikir serangan monster bisa bervariasi seperti ini juga, ada Griffon di atas kepala kami yang menjatuhkan beberapa bebatuan dari atas.
Yang benar saja, monster di sini jelas sangat ganas, di antara para prajurit ada dua orang yang tampak bersinar salah satu adalah wanita beramor cerah dengan pedang serta rambut sebahu ungu dan satu lagi pria berjenggot yang telah memutih bersama rambutnya.
"Kau telah kembali Karl."
"Aku membawanya."
"Cuma satu orang dan juga kenapa dia memakai topeng?" kata si pria.
"Apa kita bisa mempercayainya?" tambah si wanita.
"Maafkan aku tapi begini-begini aku ahli dalam membunuh."
Aku menarik pedangku lalu menyarungkannya kembali.
__ADS_1
Hanya dalam sekejap seluruh monster terbunuh bahkan para Griffon pun berjatuhan.
Kedua orang yang meragukanku barusan memucat selagi berteriak.
"... Heeeehh..?"
"Apa-apaan barusan?"
"Aku menebas mereka."
"Aku bahkan tidak melihatmu bergerak."
Aku menengok ke belakang di mana Valentine muncul dari belakang pepohonan selagi menarik Harty di belakangnya.
"Kami sudah selesai."
"Awawa perutku sakit."
Harty pasti memakan makanan hal aneh lagi.
"Dan aku Amarzuki wakil kapten, senang bertemu denganmu."
"Sama-sama, aku Lion ini Valentine dan juga Harty."
"Lion sebaiknya kau memperkenalkan aku juga?"
"Pedangmu bicara?"
"Yang ini Rion."
"Kau mengabaikan pertanyaan kami," teriak ketiganya.
Pedang pada dasarnya tidak bicara hal itu jelas menarik banyak pertanyaan. Aku mengubah pembicaraan ke topik yang lebih penting.
__ADS_1
"Jadi bagaimana cara menghentikan faktor bencana ini?"
"Hal ini bisa diselesaikan dengan cara membunuh raja yang memimpin pasukan musuh atau menunggu sampai bulannya menghilang."
"Dan seberapa lama itu?"
"Satu bulan."
Itu jelas sesuatu yang mustahil, menunggu satu bulan sama saja dengan menunggu seluruh desa dihancurkan.
"Tapi tak kusangka kalian membantu kami, kau bahkan menyembuhkan Karl hingga menyelamatkan nyawanya, kami akan membalasnya nanti," ucap Roxy dan aku membalas.
"Jika begitu aku akan menerimanya dengan senang hati."
Fakta bahwa kami membutuhkan uang memanglah tak terbantahkan lagi. Untuk sekarang kami akan turut bergabung dengan pasukan ini sampai pemberitahuan selanjutnya disampaikan.
Kami berisitirahat di kemah yang disediakan, dibanding tinggal di benteng lebih baik tinggal di sini terlebih benteng sudah dipenuhi orang-orang yang terluka.
Aku membuat sup seadanya lalu memberikannya kepada semua anggota partyku.
Rion juga termasuk di dalamnya.
"Tubuhku seketika hangat."
"Aku juga... sayangnya tidak ada daging di dalamnya," tambah Harty.
"Mau bagaimana lagi kita tidak bisa seenaknya meminta daging, jika mau kau bisa pergi untuk berburu sendirian."
"Ah itu benar... aku akan pergi sebentar."
Salahku.
Harusnya aku tidak mengatakan hal itu.
__ADS_1
Bencana seperti apa yang akan ditimbulkan naga ini nantinya? Aku cukup bertanya-tanya soal itu.